Teknologi Berkembang, Indonesia Terima Pesanan dari Eropa

Teknologi Berkembang, Indonesia Terima Pesanan dari Eropa

Teknologi Berkembang, Indonesia Terima Pesanan dari Eropa

Teknologi Berkembang, Indonesia Terima Pesanan dari Eropa
Teknologi Berkembang, Indonesia Terima Pesanan dari Eropa

Perkembangan di bidang teknologi informatika Indonesia

mengalami perkembangan. Bahkan di dunia animasi, Indonesia sudah tidak ketinggalan lagi dengan negara lain.

Hal itu dibuktikan dengan banyaknya penerimaan pesanan dari negara-negara di Eropa.

“Teknologi informasi kita seperti animasi perkembangannya

bagus sehingga banyak menerima order film-film besar dari Eropa,” kata Menkominfo Tifatul Sembiring usai menyampaikan kuliah umum di Sekolah Tinggi Teknologi Terpadu (STTT) Nurul Fikri dengan tema Kesiapan SDM IT Indonesia Menghadapi MEA 2015, Selasa 16 September 2014.

Nenurutnya, studio-studio animasi Indonesia mengalami kemajuan pesat. Misalnya di Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta dan Batam.

“Studio-studio ini sering menerima order dari luar negeri

dibanding dalam negeri,” katanya.

Menurut dia, banyak produsen film-film besar membutuhkan keahlian khusus dalam animasi sehingga nilainya sangat tinggi. Dia berharap dunia pendidikan yang menekuni bidang teknologi informasi bisa terus mengikuti perkembangan teknologi dan menguasainya. Hal ini penting karena pada tahun 2015 akan ada perdagangan bebas kawasan ASEAN.

“Sertifikasi menjadi salah satu prasyarat untuk mendongkrak kualitas dan daya saing SDM teknologi informasi dan komunikasi (TIK) Indonesia,” katanya.

Ketua STT Terpadu NF Rusmanto Maryanto mengatakan, Indonesia merupakan salah satu negara anggota dan pendiri ASEAN sehingga perlu melihat kesiapan SDM teknologi informasi dalam rangka meningkatkan peluang sekaligus mengatisipasi agenda perdagangan bebas ASEAN pada 2015. Di era pasar bebas dan perkembangan teknologi memacu penggunaan transaksi elektronik.

“Jaringan online menjadi solusi dalam perdagangan dunia sehingga transaksi perdagangan antarnegara meningkat pesat dan menembus batas,” ucapnya.

 

Baca Juga :

 

 

Kurikulum Diseragamkan Bermanfaat untuk Sekolah

Contoh sejarah pahlawan nasional, nanti guru dipersilakan menyebut pahlawan pada masing-masing daerah. Jadi tidak dipaksakan harus pahlawan yang ada di daerah Jawa," tukasnya. Sebelumnya praktisi pendidikan Weilin Han mengatakan, penyeragaman kurikulum adalah hal yang keliru karena tidak menghargai potensi daerah yang kenyataannya beragam. "Saya tidak mengatakan kurikulum harus yang sempurna, tapi setidaknya yang tepat. Harusnya kurikulum itu memberi kebebasan ke setiap daerah untuk mengembangkan potensinya sendiri," ujarnya di Kantor Indonesian Corruption Watch (ICW) Jakarta, Kamis 28 Agustus 2014. Dia mencontohkan penggunaan kurikulum nasional pada sekolah yang ada di daerah Bengkalis, Riau. Seharusnya persoalan lokal yang perlu diajarkan kepada murid di sana. "Muridnya harusnya diberikan soal tentangperbatasan Malaysia di sana. Jangan malah ngomongin jalannya kereta, kan di sana tidak ada kereta," ujarnya. Dia mengkritik kebijakan pemerintah sekarang di mana kurikulum harus seragam, dan wajib menggunakan buku dari nasional. "Sekarang giliran mereka tidak sanggup. Yang harus dilakukan pemerintah, setop Kurikulum 2013, jangan pakai lagi, dan kembali ke KTSP," ujarnya. (kur)

Kurikulum Diseragamkan Bermanfaat untuk Sekolah

Kurikulum Diseragamkan Bermanfaat untuk Sekolah
Kurikulum Diseragamkan Bermanfaat untuk Sekolah

Kemendikbud menilai penyeragaman Kurikulum 2013

di semua daerah bermanfaat untuk standardisasi pendidikan nasional.
Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemendikbud Ibnu Hamad mengatakan, kementerian menyediakan buku pelajaran untuk menyamakan semua sekolah di Indonesia.

“Bukunya sama, pelatihan gurunya juga sama, jadi sekolah yang tidak hebat, nantinya ikut hebat. Selama mendukung KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), berarti mendukung tidak adanya standardisasi,” ujar Ibnu kepada Sindonews di Gedung Kemdikbud, Jakarta, Rabu (3/9/2014).

Ketika ditanya mengenai kesamaan buku membuat

tidak menghargai potensi daerah yang beragam, menurutnya guru diminta memberikan contoh sesuai dengan daerah tempat mengajarnya.

Contoh sejarah pahlawan nasional, nanti guru dipersilakan menyebut pahlawan pada masing-masing daerah. Jadi tidak dipaksakan harus pahlawan yang ada di daerah Jawa,” tukasnya.

Sebelumnya praktisi pendidikan Weilin Han mengatakan, penyeragaman kurikulum adalah hal yang keliru karena tidak menghargai potensi daerah yang kenyataannya beragam.

“Saya tidak mengatakan kurikulum harus yang sempurna

, tapi setidaknya yang tepat. Harusnya kurikulum itu memberi kebebasan ke setiap daerah untuk mengembangkan potensinya sendiri,” ujarnya di Kantor Indonesian Corruption Watch (ICW) Jakarta, Kamis 28 Agustus 2014.

Dia mencontohkan penggunaan kurikulum nasional pada sekolah yang ada di daerah Bengkalis, Riau. Seharusnya persoalan lokal yang perlu diajarkan kepada murid di sana.

“Muridnya harusnya diberikan soal tentangperbatasan Malaysia di sana. Jangan malah ngomongin jalannya kereta, kan di sana tidak ada kereta,” ujarnya.
Dia mengkritik kebijakan pemerintah sekarang di mana kurikulum harus seragam, dan wajib menggunakan buku dari nasional.

“Sekarang giliran mereka tidak sanggup. Yang harus dilakukan pemerintah, setop Kurikulum 2013, jangan pakai lagi, dan kembali ke KTSP,” ujarnya.
(kur)

 

Sumber :

http://blog.ub.ac.id/petrusarjuna/cara-membuat-jaring-jaring-kubus/

 

Cagar Budaya Tak Banyak Dimanfaatkan dalam Pendidikan

Cagar Budaya Tak Banyak Dimanfaatkan dalam Pendidikan

Cagar Budaya Tak Banyak Dimanfaatkan dalam Pendidikan

Cagar Budaya Tak Banyak Dimanfaatkan dalam Pendidikan
Cagar Budaya Tak Banyak Dimanfaatkan dalam Pendidikan

Sebagai kekayaan alam Indonesia, selama ini keberadaan cagar

udaya tak banyak dimanfaatkan dalam dunia pendidikan.

Padahal cagar budaya mampu menjadi pola, metode dan alat bantu pembelajaran dalam pendidikan karakter bagi generasi muda.

Hal ini diungkapkan oleh Anggota Dewan Pendidikan DIY Aulia Reza Bastian, dalam seminar ‘Festival Film Semi Dokumenter Cagar Budaya’ yang digelar Balai Pelestarian Cagar Budaya.

Reza menuturkan, kurang termaafaatkannya cagar budaya

dalam pembelajaran generasi muda Indonesia selama ini menjadi salah satu alasan rusak atau hilangnya cagar budaya Indonesia.

“Benda cagar budaya sebagai salah satu warisan

leluhur kita apabila dipahami secara mendalam, melalui proses belajar yang tekun, akan membantu membentuk nilai luhur,” kata Reza di Yogyakarta, Minggu (31/8/2014).

“Lebih luas lagi, pelajar kita ditanami nilai-nilai pribadi budaya bangsa, sehingga rasa ikut memiliki dan menjaga bangsa ini dapat tercipta sempurna,” imbuhnya.

Menurut Reza, dengan rasa memiliki, generasi muda dipastikan ikut melestarikan aset budaya bangsa. Pada akhirnya, unsur vandalisme atau perusakan dan pencurian sebagai alasan rusaknya cagar budaya Indonesia bisa sangat ditekan, bahkan dihilangkan.

Karena itulah, cagar budaya dalam hal ini sebenarnya bisa menjadi alat untuk membentuk karakter dan jati diri generasi muda,” ucapnya.

“Namun sayangnya belum juga dimanfaatkan secara optimal. Ini juga sebenarnya disebabkan tidak seriusnya pemerintah menggunakan cagar budaya dalam proses pendidikan formal kita,” pungkasnya.

 

Sumber :

http://blog.ub.ac.id/petrusarjuna/pengertian-dan-contoh-seni-rupa-murni-daerah/

Fungsi Bimbingan Konseling

Fungsi Bimbingan Konseling

Fungsi Bimbingan Konseling

Fungsi Bimbingan Konseling
Fungsi Bimbingan Konseling

Ditinjau dari segi sifatnya, layanan Bimbingan dan Konseling dapat berfungsi sebagai:

  1. Fungsi Pencegahan (preventif)

Layanan Bimbingan dan Konseling dapat berfungsi pencegahan artinya : merupakan usaha pencegahan terhadap timbulnya masalah. Dalam fungsi pencegahan ini layanan yang diberikan berupa bantuan bagi para siswa agar terhindar dari berbagai masalah yang dapat menghambat perkembangannya. Kegiatan yang berfungsi pencegahan dapat berupa program orientasi, program bimbingan karier, inventarisasi data, dan sebagainya.

  1. Fungsi pemahaman

Fungsi pemahaman yang dimaksud yaitu fungsi Bimbingan dan Konseling yang akan menghasilkan pemahaman tentang sesuatu oleh pihak-pihak tertentu sesuai dengan keperluan pengembangan siswa pemahaman ini mencakup :
1) Pemahaman tentang diri siswa, terutama oleh siswa sendiri, orangtua, guru, dan guru pembimbing.

2) Pemahaman tentang lingkungan siswa (termasuk di dalam lingkungan keluarga dan sekolah) terutama oleh siswa sendiri, orangtua, guru, dan guru pembimbing.

3) Pemahaman tentang lingkungan yang lebih luas (terutama di dalamnya informasi pendidikan, jabatan/pekerjaan dan/atau karier dan informasi budaya/nilai-nilai terutama oleh siswa.

  1. Fungsi Perbaikan

Walaupun fungsi pencegahan dan pemahaman telah dilakukan, namun mungkin saja siswa masih menghadapi masalah-masalah tertentu. Disinilah fungsi perbaikan itu berperan, yaitu fungsi Bimbingan dan Konseling yang akan menghasilkan terpecahnya atau teratasinya berbagai permasalahan yang dialami siswa.

  1. Fungsi Pemeliharaan dan Pengembangan

Fungsi ini berarti bahwa layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan dapat membantu para siswa dalam memelihara dan mengembangkan keseluruhan pribadinya secara mantap, terarah, dan berkelanjutan. Dalam fungsi ini hal-hal yang dipandang positif agar tetap baik dan mantap. Dengan demikian, siswa dapat memelihara dan mengembangkan berbagai potensi dan kondisi yang positif dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan berkelanjutan.

 

Baca Artikel Lainnya:

Tujuan Bimbingan Konseling

Tujuan Bimbingan Konseling

Tujuan Bimbingan Konseling

Tujuan Bimbingan Konseling
Tujuan Bimbingan Konseling
  1. Tujuan Umum

Tujuan umum dari layanan Bimbingan dan Konseling adalah sesuai dengan tujuan pendidikan sebagaimana dinyatakan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) Tahun 1989 (UU No. 2/1989), yaitu terwujudnya manusia Indonesia seutuhnya yang cerdas, yang beriman, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (Depdikbud, 1994 : 5).

  1. Tujuan Khusus

Secara khusus layanan Bimbingan dan Konseling bertujuan untuk membantu siswa agar dapat mencapai tujuan-tujuan perkembangan meliputi aspek pribadi, sosial, belajar dan karier.
Bimbingan pribadi – sosial dimaksudkan untuk mencapai tujuan dan tugas perkembangan pribadi – sosial dalam mewujudkan pribadi yang taqwa, mandiri, dan bertanggung-jawab. Bimbingan belajar dimaksudkan untuk mencapai tujuan dan tugas perkembangan pendidikan. Bimbingan karier dimaksudkan untuk mewujudkan pribadi pekerja yang produktif.

Secara umum tujuan diberikannya layanan Bimbingan dan Konseling adalah: (https://portal.iro.unsoed.ac.id/manajemen/gambar-jaringan-tumbuhan-dan-cirinya/)

  1. Menghayati nilai-nilai agama sebagai pedoman dalam berperilaku
  2. Berperilaku atas dasar keputusan yang mempertimbangkan aspek-aspek nilai dan berani menghadapi resiko.
  3. Memiliki kemampuan mengendalikan diri (self-control) dalam mengekspresikan emosi atau dalam memenuhi kebutuhan diri.
  4. Mampu memecahkan masalah secara wajar dan objektif.
  5. Memelihara nilai-nilai persahabatan dan keharmonisan dalam berinteraksi dengan orang lain.
  6. Menjunjung tinggi nilai-nilai kodrati laki-laki atau perempuan sebagai dasar dalam kehidupan sosial.
  7. Mengembangkan potensi diri melalui berbagai aktivitas yang positif
  8. Memperkaya strategi dan mencari peluang dalam berbagai tantangan kehidupan yang semakin kompetitif.
  9. Mengembangkan dan memelihara penguasaan perilaku, nilai, dan kompetensi yang mendukung pilihan karir.
  10. Meyakini nilai-nilai yg terkandung dalam pernikahan dan berkeluarga sebagai upaya untuk menciptakan masyarakat yg bermartabat.

Konsep Bimbingan Konseling

Konsep Bimbingan Konseling

Konsep Bimbingan Konseling

Konsep Bimbingan Konseling
Konsep Bimbingan Konseling
  1. Paradigma

Paradigma Bimbingan dan Konseling adalah pelayanan bantuan psiko-pendidikan dalam bingkai budaya. Artinya, pelayanan Bimbingan dan Konseling berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan dan teknologi pendidikan serta psikologi yang dikemas dalam kaji-terapan pelayanan Bimbingan dan Konseling yang diwarnai oleh budaya lingkungan peserta didik.

  1. Visi

Visi pelayanan Bimbingan dan Konseling adalah terwujudnya kehidupan kemanusiaan yang membahagiakan melalui tersedianya pelayanan bantuan dalam pemberian dukungan perkembangan dan pengetasan masalah agar peserta didik berkembang secara optimal, mandiri, dan bahagia. (https://portal.iro.unsoed.ac.id/manajemen/lembaga-agama-contoh-fungsi-dan-jenisnya/)

 

  1. Misi

Misi pendidikan, yaitu memfasilitasi pengembangan peserta didik melalui pembentukan perilaku efektif-normatif dalam kehidupan keseharian dan masa depan. Misi pengembangan, yaitu memfasilitasi pengembangan potensial dan kompetensi peserta didik di dalam lingkungan sekolah/ madrasah, keluarga dan masyarakat. Misi pengentasan masalah, yaitu memfasilitasi pengentasan masalah peserta didik mengacu pada kehidupan efektif sehari-hari.

Cerita Rakyat Malin Kundang

Cerita Rakyat Malin Kundang

Cerita Rakyat Malin Kundang

Cerita Rakyat Malin Kundang
Cerita Rakyat Malin Kundang

Siapa yang tidak kenal Malin Kundang?

Seorang anak yang durhaka kepada ibunya hingga di kutuk oleh ibunya menjadi batu? Ya. Mungkin sudah banyak yang mengetahui dan mendengar cerita ini, karena telah tersebar luas di Indonesia bahkan telah sampai mancanegara. Kisah ini berasal dari daerah Ranah Minang, yaitu provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Namun apakah ini hanya sebuah cerita dongeng atau sebuah legenda yang diturunkan secara turun temurun, atau mungkin saja cerita ini benar-benar nyata terjadi pada zaman dahulu, saya juga tidak mengetahui kebenarannya secara pasti. Akan tetapi hasil kutukan sang Ibu Malin Kundang, yang menjadikan anaknya menjadi sebuah batu memang ada. Sesuai dengan ceritanya, batu itu dinamakan batu Malin Kundang. Batu Malin kundang terletak di kawasan Pantai Air Manis, Padang, Sumatera Barat, Indonesia. Bagi yang belum mengetahui cerita Malin Kundang ini ayo simak kisahnya berikut ini.

 

Pada zaman dahulu, hiduplah sebuah keluarga nelayan di pesisir pantai wilayah Sumatra.

Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak laki-laki yang diberi nama Malin Kundang. Mereka hidup sederhana dan karena kondisi keuangan keluarga memprihatinkan, sang ayah memutuskan untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan mengarungi lautan yang luas. Setelah sang ayah pergi, tinggallah si Malin dan ibunya di gubug mereka. Seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan bahkan sudah 1 tahun lebih lamanya, ayah Malin tidak juga kembali ke kampung halamannya. Sehingga ibunya harus menggantikan posisi ayah Malin untuk mencari nafkah. Malin termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. Ia sering mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka tersebut menjadi berbekas dilengannya dan tidak bisa hilang.

 

Setelah beranjak dewasa, Malin Kundang merasa kasihan dengan ibunya yang banting tulang

mencari nafkah untuk membesarkan dirinya. Ia berpikir untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan harapan nantinya ketika kembali ke kampung halaman, ia sudah menjadi seorang yang kaya raya dan dapat membahagiakan ibunya kelak. Suatu hari ada kapal dagang yang merapat di pinggir pantai perkampungannya. Dan nahkoda dari kapal tersebut mengajak Malin untuk ikut bersama kapalnya. Malin tertarik dengan ajakan seorang nakhoda kapal dagang itu untuk dapat meringankan beban ibunya. Malin kundang mengutarakan maksudnya kepada ibunya. Ibunya semula kurang setuju dengan maksud Malin Kundang, tetapi karena Malin terus mendesak, Ibu Malin Kundang akhirnya menyetujuinya walau dengan berat hati. Setelah mempersiapkan bekal dan perlengkapan secukupnya, Malin segera menuju ke dermaga dengan diantar oleh ibunya. “Anakku, jika engkau sudah berhasil dan menjadi orang yang berkecukupan, jangan kau lupa dengan ibumu dan kampung halamanmu ini, nak”, ujar Ibu Malin Kundang sambil berlinang air mata.

 

Kapal yang dinaiki Malin semakin lama semakin jauh dengan diiringi lambaian tangan Ibu Malin Kundang.

Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman. Di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang sangat beruntung dirinya tidak dibunuh oleh para bajak laut, karena ketika peristiwa itu terjadi, Malin segera bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu.

Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Sesampainya di desa tersebut, Malin Kundang ditolong oleh masyarakat di desa tersebut setelah sebelumnya menceritakan kejadian yang menimpanya. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.

Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada ibu Malin Kundang. Ibu Malin Kundang merasa bersyukur dan sangat gembira anaknya telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin Kundang setiap hari pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang mungkin pulang ke kampung halamannya. Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran dengan kapal yang besar dan indah disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin Kundang yang setiap hari menunggui anaknya, melihat kapal yang sangat indah itu, masuk ke pelabuhan. Ia melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya.

 

Malin Kundang pun turun dari kapal. Ia disambut oleh ibunya.

Setelah cukup dekat, ibunya melihat belas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. “Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?”, katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tapi apa yang terjadi kemudian? Malin Kundang segera melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga terjatuh. “Wanita tak tahu diri, sembarangan saja mengaku sebagai ibuku”, kata Malin Kundang pada ibunya. Malin Kundang pura-pura tidak mengenali ibunya, karena malu dengan ibunya yang sudah tua dan mengenakan baju compang-camping. “Wanita itu ibumu?”, Tanya istri Malin Kundang. “Tidak, ia hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar mendapatkan harta ku”, sahut Malin kepada istrinya. Mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menengadahkan tangannya sambil berkata “Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu”. Tidak berapa lama kemudian angin bergemuruh kencang dan badai dahsyat datang menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan Malin akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang.

Dari cerita diatas, dapat kita ambil sebuah pelajaran yaitu sebagai seorang anak janganlah kita durhaka kepada orang tua kita. Dan janganlah kita menjadi sombong karna keberhasilan dan kesuksesan yang telah kita raih.

Baca Juga : 

Macam dan Komponen Konsep Diri

Macam dan Komponen Konsep Diri

Macam dan Komponen Konsep Diri

Macam dan Komponen Konsep Diri
Macam dan Komponen Konsep Diri

Menurut Wiiliam D. Brooks konsep diri merupakan

Those physical, social, and psychological perceptions of ourselves that we have derived fromexperiences and our interaction with others.
Konsep diri merupakan faktor yang sangat penting dan menentukan dalam komunikasi antar pribadi. Kunci keberhasilan hidup adalah konsep diri positif. Konsep diri memainkan peran yang sangat besar dalam menentukan keberhasilan hidup seseorang, karena konsep diri dapat dianalogikan sebagai suatu operating sistem yang menjalankan suatu komputer.

 

Konsep diri dapat mempengaruhi kemampuan berpikir seseorang.

Konsep diri yang jelek akan mengakibatkan rasa tidak percaya diri, tidak berani mencoba hal-hal baru, tidak berani mencoba hal yang menantang, takut gagal, takut sukses, merasa diri bodoh, rendah diri, merasa diri tidak berharga, merasa tidak layak untuk sukses, pesimis, dan masih banyak perilaku inferior lainnya.

 

Sebaliknya orang yang konsep dirinya baik akan selalu optimis

Berani mencoba hal-hal baru, berani sukses, berani gagal, percaya diri, antusias, merasa diri berharga, berani menetapkan tujuan hidup, bersikap dan berpikir positif, dan dapat menjadi seorang pemimpin yang handal. Komunikan yang berkonsep diri positif adalah Komunikan yang Tembus Pandang (transparent). Faktor yang mempengaruhi: orang lain, significant others, reference group.

 

Dua macam konsep diri adalah sebagai berikut :

Konsep diri negatif : peka pada kritik, responsif sekali pada pujian, hiperkritis, cenderung merasa tidak disenangi orang lain, bersikap pesimitis pada kompetensi.
Konsep diri positif : yakin akan kemampuan mengatasi masalah, merasa setara dengan orang lain, menerima pujian tanpa rasa malu, sadar akan keinginan dan perilaku tidak selalu disetujui oleh orang lain, mampu memperbaiki diri.
Hal-hal yang perlu dipahami tentang konsep diri adalah :
Dipelajari melalui pengalaman dan interaksi individu dengan oranglain. b.Berkembang secara bertahap.
Ditandai dengan kemampuan intelektual dan penguasaan lingkungan(positif).
Negatif ditandai dengan hubungan individu dan sosial yang mal adaptif.
Merupakan aspek kritikal yang mendasar dan pembentukan perilaku individu.
Hal-hal yang penting dalam konsep diri adalah :
Nama dan panggilan anak.
Pandangan individu terhadap orang lain.
Suasana keluarga yang harmonis.
Penerimaan keluarga.

 

Komponen konsep diri adalah :

a. Gambaran diri, adalah sikap individu terhadap tubuhnya, baik sadar maupun tidak sadar. Meliputi : performance, potensi tubuh, persepsi dan perasaan tentang ukuran dan bentuk tubuh.
b. Ideal diri, adalah persepsi individu tentang perilakunya yang disesuaikan dengan standar pribadi yang terkait dengan cita-cita.
c. Harga diri, adalah penilaian individu terhadap hasil yang dicapai dengan cara menganalisis seberapa jauh perilaku individu tersebut.
d. Peran diri, adalah pola perilaku sikap nilai dan aspirasi yang diharapkan individu berdasarkan posisinya dimasyarakat.
e. Identitas diri, adalah kesadaran akan diri pribadi yang bersumber dari pengamatan dan penilaian sebagai sintesis semua aspek konsep diri sebagai sesuatu yang utuh.

Sumber : https://portal.iro.unsoed.ac.id/manajemen/pengertian-dan-contoh-teks-ulasan/

Menambahkan Scroll Box pada Artikel Terkait / Related Post

Menambahkan Scroll Box pada Artikel Terkait / Related Post

Menambahkan Scroll Box pada Artikel Terkait / Related Post

Menambahkan Scroll Box pada Artikel Terkait / Related Post
Menambahkan Scroll Box pada Artikel Terkait / Related Post

 

Sebelumnya saya sudah pernah memposting cara menambahkan related post pada blogger.

Dan sekarang saya juga akan ngasih tahu lagi caranya menambahkan related pos ini. Lalu, apa bedanya sama yang sebelumnya? Nah, yang berbeda pada postingan sekarang adalah bentuk kotak related postnya. Kali ini saya akan menambahkan fungsi scroll box pada kotak related post. Tampilannya seperti gambar dibawah ini.

 

Cara menambahkannya ikuti langkah berikut :

1. Masuk blogger > rancangan > edit html > centang expand template widget cari kode
<b:if cond=’data:blog.pageType == &quot;item&quot;’>
<data:post.body/>
( gunakan Ctrl+F ).
Sebelumnya backup dulu template sobat. (Download Template Lengkap).

2. Copy kode berikut dan letakkan dibawah kode tadi.
<b:if cond=’data:blog.pageType == &quot;item&quot;’>
<div class=’similar’>
<div class=’widget-content related-by-cat’>
<h3>Related Posts / Artikel Terkait :</h3>
<div style=’margin:0; padding:10px;height:200px;overflow:auto;border:1px solid #A9D0F5;’>
<div id=’data2007’/><br/><br/>
<div id=’hoctro’ style=’display:none;’>
</div>
<script type=’text/javascript’>

var homeUrl3 = &quot;<data:blog.homepageUrl/>&quot;;
var maxNumberOfPostsPerLabel = 50;
var maxNumberOfLabels = 40;

maxNumberOfPostsPerLabel = 40;
maxNumberOfLabels = 40;

function listEntries10(json) {
var ul = document.createElement(&#39;ul&#39;);
var maxPosts = (json.feed.entry.length &lt;= maxNumberOfPostsPerLabel) ?
json.feed.entry.length : maxNumberOfPostsPerLabel;
for (var i = 0; i &lt; maxPosts; i++) {
var entry = json.feed.entry[i];
var alturl;

 

for (var k = 0; k &lt; entry.link.length; k++) {

if (entry.link[k].rel == &#39;alternate&#39;) {
alturl = entry.link[k].href;
break;
}
}
var li = document.createElement(&#39;li&#39;);
var a = document.createElement(&#39;a&#39;);
a.href = alturl;

if(a.href!=location.href) {
var txt = document.createTextNode(entry.title.$t);
a.appendChild(txt);
li.appendChild(a);
ul.appendChild(li);
}
}
for (var l = 0; l &lt; json.feed.link.length; l++) {
if (json.feed.link[l].rel == &#39;alternate&#39;) {
var raw = json.feed.link[l].href;
var label = raw.substr(homeUrl3.length+13);
var k;

for (k=0; k&lt;20; k++) label = label.replace(&quot;%20&quot;, &quot; &quot;);

var txt = document.createTextNode(label);
var h = document.createElement(&#39;b&#39;);
h.appendChild(txt);
var div1 = document.createElement(&#39;div&#39;);
div1.appendChild(h);
div1.appendChild(ul);
document.getElementById(&#39;data2007&#39;).appendChild(div1);
}
}
}
function search10(query, label) {

var script = document.createElement(&#39;script&#39;);
script.setAttribute(&#39;src&#39;, query + &#39;feeds/posts/default/-/&#39;
+ label +
&#39;?alt=json-in-script&amp;callback=listEntries10&#39;);
script.setAttribute(&#39;type&#39;, &#39;text/javascript&#39;);
document.documentElement.firstChild.appendChild(script);
}

var labelArray = new Array();
var numLabel = 0;

<b:loop values=’data:posts’ var=’post’>
<b:loop values=’data:post.labels’ var=’label’>
textLabel = &quot;<data:label.name/>&quot;;

var test = 0;
for (var i = 0; i &lt; labelArray.length; i++)
if (labelArray[i] == textLabel) test = 1;
if (test == 0) {
labelArray.push(textLabel);
var maxLabels = (labelArray.length &lt;= maxNumberOfLabels) ?
labelArray.length : maxNumberOfLabels;
if (numLabel &lt; maxLabels) {
search10(homeUrl3, textLabel);
numLabel++;
}
}
</b:loop>
</b:loop>
</script>
</div>
</div>

</div>
</b:if>

Sumber : https://portal.iro.unsoed.ac.id/manajemen/jaring-jaring-kubus-pola-gambar-dan-rumusnya/

Mahfud MD Ajak Rawat Intelektualisme untuk Kemajuan Bangsa

Mahfud MD Ajak Rawat Intelektualisme untuk Kemajuan Bangsa

Mahfud MD Ajak Rawat Intelektualisme untuk Kemajuan Bangsa

Mahfud MD Ajak Rawat Intelektualisme untuk Kemajuan Bangsa
Mahfud MD Ajak Rawat Intelektualisme untuk Kemajuan Bangsa

 

 

Universitas Islam Indonesia (UII)

Yogyakarta menggelar kuliah umum intelektualisme untuk kemajuan bangsa bagi mahasiswa program profesi, magister, dan doktor di Gedung Sardjito, Jalan Kaliurang, KM 14,5 Ngaglik, Sleman, Sabtu (1/11/2018). Pembicara dalam kuliah umum itu Guru Besar Fakultas Hukum (FH) UII, Mahfud MD.

Selain untuk meyambut mahasiswa baru program profesi S2 dan S3 UII, kegiatan tersebut juga sebagai upaya UII dalam mencetak cendekiawan yang berintelek dan berperan dalam kemajuan bangsa. Kuliah umum sendiri dihadiri sekitar 500 mahasiswa baru program profesi, S2 dan S3 UII.

Mahfud MD di hadapan ratusan mahasiswa

baru tersebut mengatakan UII bukan hanya sekadar mencetak sarjana yang intelek atau cendekiawan
saja namun juga sarjana yang memiliki karakakter dan watak iman taqwa. Sehingga saat di kehidupan baik di masyarakat maupun tempat
kerjanya tetap dapat menjaga intelektual dan cendikiawannya itu.

Inilah fungsinya pendidikan tidak hanya pengajaran, adanya penyelarasan antara Iptek dan Imtaq,” ujar Mahfud.

Untuk itu Islam menekankan

pada watak intelektualisme dan kecendekiawanan dengan tiga pilar pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi (iptek) yakni integrasi agama dan ilmu kemudian berwawasan rasional tetapi menolak rasionalisme serta memihak pada nilai-nilai kemaslahatan bagi umat manusia. Namun muncul tantangan baru untuk intelektualisme ini yakni digitalisasi yang serba instan khususnya di era Milenial, Z dan Alpha.

“Oleh karena itu kita harus tetap merawat intelektualisme untuk merawat kemajuan bangsa dan keselamatan ilmu,” paparnya.

Mahfud juga menjelaskan ilmuan Islam dalam tradisi menekankan ilmu sebagai penguat iman. Orang yang taat, amanat dan beriman adalah yang berilmu dan semakin memperdalam ilmunya.

Staf Humas UII, Rifki Sasmita menambahkan kegiatan ini merupakan agenda rutin saat menyambut mahasiswa baru program profesi, S2 dan S3 di lingkungan UII. Diharapkan mereka segera akan menyesuaikan dengan pendidikan di UII serta dapat menjadi intekletual dan cendekiawan di bidangnya masing-masing.

 

Baca Juga :