Permainan Petak Umpet dan Perkembangan Kemandirian Pada Diri Anak

Permainan Petak Umpet dan Perkembangan Kemandirian Pada Diri Anak

Dari sudut pandang anak, bermain tersebut penting. Sama pentingnya dengan bekerja menggali nafkah, atau mengurus lokasi tinggal tangga dari sudut pandang orang tua. Jadi, permainan-permainan ini pun berperan urgen dalam menyusun mental dan jati diri anak. Termasuk petak umpet.

Menumbuhkan keberanian dan kemandirian

Apabila diperhatikan, semakin besar, semakin berani pula anak berlama-lama sembunyi di dalam maupun di luar rumah. Padahal sebelumnya terbit kamar untuk memungut minum di kulkas saja merengek mohon ditemani sebab takut ketemu monster.

Diduga di antara efek dari permainan ini menciptakan anak semakin berdikari dan menambah minat eksplorasi. Mandiri untuk memungut keputusan, ada tidak sedikit tempat guna sembunyi di lokasi rumah, di dalam maupun di halaman.

Anak mesti menilai dengan cepat, sebab waktu terbatas, seringkali maksimum 30 detik. Keberanian pun terbentuk sebab anak inginkan tidak inginkan harus tidak terlihat, persembunyian kian sempurna bila lokasinya semakin sempit dan semakin gelap.

Dalam jangka masa-masa tertentu, dapat sampai separuh jam seperti permasalahan saya ketiduran di atas, anak sendirian di lokasi persembunyian, berjuang untuk tidak bergerak dan bersuara agar semakin sulit ditemukan.

Penelitian mengenai petak umpet

Rupanya Shirah Vollmer, profesor psikiatri dari University of California pun setuju dengan sangkaan saya. Menurutnya, anak sangat menyenangi permainan Petak-umpet sebab tiga hal.

Pertama anak hendak bersembunyi mendorong anak guna lebih otonom, mereka hendak mengeksplorasi lingkungan di  pelajaran.id/ sekitarnya dan hendak membuktikan bahwa mereka dapat melakukannya sendiri.

Kedua saat sudah bersembunyi mereka hendak dicari, hendak ditemukan. Ada perasaan menegangkan, menguji adrenalin saat lawan bermain mulai mencari-cari dimana dirinya sembunyi. Perasaan senang lantas muncul saat ditemukan.

Ketiga anak lantas belajar bahwa interaksi sosial dapat terputus, saat salah satu orang yang disayangi hilang atau terpisah. Namun kondisi itu melulu sementara, sebab pada kesudahannya yang ditelusuri dan yang mencari dapat bertemu kembali.

Dalam permainan petak-umpet, kondisi terpisah (separation) dan pertemuan (reunification) ini terjadi berulang-ulang mengajarkan anak bahwa sebuah saat dapat berpisah dengan orang terdekatnya, tetapi hal ini tidak guna selamanya. Karena pada saatnya bakal bertemu kembali.

Hal positif dalam Ciluk-Ba…

Satu urusan yang dirasakan ialah ketika anak dengan cepat dapat beradaptasi saat berangkat sekolah tidak mesti diantar hingga ke depan kelas, atau inginkan ikut bus jemputan sekolah tanpa mesti ditakut-takuti ini-itu, meski tadinya merengek bila diantar mesti hingga depan kelas.

Pada bayi, hingga dengan umur 18 bulan, permainan petak-umpet ini disebut permainan ciluk-ba. Berdasarkan keterangan dari Prof. Vollmer permainan ini pun mempunyai efek positif sama.

Otak bayi bertolak belakang dengan benak anak-anak. Bayi memproses informasi secara temporer. Semua urusan yang tidak dia lihat , dia dengar, atau dia rasakan akan dirasakan tidak ada, hilang. Bayi memandang sesuatu tersebut ada melulu ketika dia lihat.

Begitu pula dalam permainan ciluk-ba. Wajah Ibu yang tiba-tiba tertutup dipersepsikan bayi bahwa Ibu hilang, tidak terdapat lagi disitu (separation). Beberapa detik lantas “Baaa..” wajah Ibu hadir kembali (reunification).

Ketika permainan ini tidak jarang dilakukan. Bayi bakal terbiasa bahwa tidak setiap ketika ayah atau bunya terdapat di depannya. Kalau tidak ada hal lain yang memprovokasi (misalnya lapar, buang air, atau merasa sakit), bisa jadi bayi menangis bakal menurun saat ditinggal (Ciluuk..) orangtuanya sebentar.

Sebaliknya bayi bakal merasa aman, bahwa tidak lama lagi orangtuanya akan hadir lagi. Baaa…