Revolusi Kuba, Tetangga yang Menjadi Ancaman Amerika Serikat

Revolusi Kuba, Tetangga yang Menjadi Ancaman Amerika Serikat

Kuba, sebuah negara di Amerika Tengah/Karibia, adalah negara yang cukup mutlak terhadap saat perang dingin terjadi. Negara ini menjadi kunci kemampuan Uni Soviet yang cukup mengakibatkan pusing Amerika Serikat gara-gara letaknya. Selain itu Kuba termasuk hampir menjadi pemantik perang nuklir world antara Amerika dan Uni Soviet.

Perang ideologi sesudah perang dunia ke 2 antara Amerika dan Uni Soviet, atau yang biasa disebut dengan perang dingin, membawa dampak yang cukup jelek ke semua dunia. Perang ideologi ini, mengakibatkan banyak negara laksanakan revolusi dan perang saudara. Tak kecuali Kuba.

Meningkatnya pergerakan revolusi di benua Amerika, lebih-lebih Amerika Selatan dan Tengah termasuk berdampak terhadap Kuba. Pada saat itu Kuba laksanakan sebuah revolusi.

1. Revolusi Kuba

Revolusi Kuba berjalan terhadap saat kepemimpinan Fulgencio Batista. Batista memerintah Kuba secara otoriter. Pemimpin revolusi Kuba yang paling terkenal adalah Fidel Castro. Castro laksanakan sebagian kali gerakan revolusi, 1953–1955 dan 1955-1959.

Selain Castro dan kelompok The 26th Movement pimpinannya, Kuba termasuk miliki kelompok revolusi lain. Kelompok revolusi lainnya adalah The Revolutionary Directorate yang dipimpin oleh Jose Antonio, dan kelompok The Second Front pimpinan Eloy Gutierrez.

Perjuangan revolusi berasal dari th. 1955-1959 tak hanya berperang dengan senjata, Castro termasuk melacak bantuan berasal dari luar negeri, seperti Meksiko. Kemudian mendapatkan bantuan berasal dari Ernesto “Che” Guevara. Perjuangan yang dilaksanakan terhadap th. 1955-1959 lebih berbentuk gerilya.

1 Januari 1959, Batista yang kalah melarikan diri ke Amerika Serikat. Hal ini menandai keberhasilan Revolusi Kuba. Kemudian Fidel Castro naik menjadi pemimpin dan pemerintahan Kuba menjadi pemerintahan komunis. Dengan perihal tersebut, akibatnya Amerika menjadi kecurian.

2. Invasi Teluk Babi

Karena kebijakan politik yang tertutup, banyak masyarakat Kuba yang meninggalkan negaranya menuju Amerika. Hal ini dicermati oleh Amerika sebagai ancaman dapat ideologinya. Pemerintah Amerika lantas memanfaatkan para imigran ini untuk menggulingkan pemerintahan Fidel Castro. Peristiwa ini dikenal sebagai invasi Teluk Babi, yang berjalan terhadap 15-17 April 1961. Penyerbuan yang sebagian besar dilaksanakan oleh imigran ini mendapat dukungan persenjataan oleh CIA.

Invasi ini dengan cepat bisa digagalkan oleh Castro. Selain itu Castro termasuk berhasil menyandera 1000 lebih tawanan.

Amerika yang kalah harus menjamin cost makanan dan obat-obatan seharga 53 juta Dollar Amerika untuk ditukarkan dengan pembebasan tawanan. Kekalahan ini adalah pukulan telak bagi Amerika yang sesungguhnya kami menyadari gemar berperang.

Selain itu, gara-gara momen ini Kuba menentukan jalinan diplomatiknya dengan Amerika serikat. Hal ini tentu mengakibatkan Uni Soviet senang, gara-gara mendapat rekanan strategis di wilayah Amerika. Oh iya, menyadari nggak sih kamu, perihal ini mengakibatkan momen terakhir dan hampir mengakibatkan peradaban manusia selesai lho. Kebanyang kan seberapa besar konflik ini terjadi.

3. Krisis Misil Kuba

Keberadaan negara komunis Kuba tetap diiringi ketegangan dengan Amerika Serikat. Ketegangan berlanjut terhadap Krisis Misil Kuba (Cuban Missile Crisis) yang berjalan terhadap 14-28 Oktober 1962. Intelijen Amerika Serikat melaporkan ada kesibukan pembangunan instalasi nuklir Uni Soviet yang termasuk rudal balistik jarak menengah.

Salah satu alasan Uni Soviet membangun instalasi nuklir itu adalah agar Amerika Serikat tidak menyerang Kuba lagi, mengingat di awalnya Amerika Serikat terbukti laksanakan Invasi Teluk Babi. Instalasi nuklir berikut hanya berjarak 90 mil berasal dari wilayah Amerika Serikat, yang menyadari mengancam kawasan pantai timur ke Amerika Serikat sewaktu-waktu.

Presiden John F. Kennedy menahan usaha berikut dengan memblokade kurang lebih perairan Kuba. Usaha ini punya niat menahan masuknya kapal selam Uni Soviet yang diduga membawa peralatan nuklir ke Kuba. Krisis Misil Kuba berakhir dengan kesepakatan antara John F. Kennedy dengan Nikita Khrushchev terhadap tanggal 28 Oktober 1962.

Amerika Serikat berjanji tidak dapat menguasai Kuba dan melucuti rudal-rudalnya di Turki. Sedangkan Uni Soviet dapat menarik semua instalasi nuklirnya di Kuba. Penyelesaian krisis ini mengakibatkan lega warga dunia, gara-gara kecuali berlanjut di dalam perang fisik maka kehancuran dunia bisa lebih gawat daripada Perang Dunia II.

Konflik di Kuba seperti Invasi Teluk Babi dan Krisis Misil Kuba menjadi misal bahwa kawasan Amerika Latin menjadi area terjadinya Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Amerika Serikat tidak bahagia dengan pemerintahan Kuba yang komunis di bawah pimpinan Fidel Castro, gara-gara Kuba dapat cenderung berpihak terhadap Uni Soviet. Sedangkan Uni Soviet yang berkawan dengan Kuba mendambakan menempatkan dampak komunisme di kawasan Amerika, sekaligus sebagai bentuk persaingan terhadap kekuasaan Amerika Serikat.

Baca Juga :