MASA DEPAN WANITA SEHAT

MASA DEPAN WANITA SEHAT

MASA DEPAN WANITA SEHAT

MASA DEPAN WANITA SEHAT
MASA DEPAN WANITA SEHAT

Dewasa ini, tingkat aktivitas para wanita semakin tinggi. Bukan hanya di wilayah “domestik” atau rumah tangga, kini semakin banyak wanita yang merambah “dunia luar” dengan bekerja di berbagai bidang kehidupan. Aktivitas yang dilakukan hampir tiada henti tak jarang menjadikan mereka kerap abai terhadap kesehatan fisiknya yang dapat membawa masalah di kemudian hari.

Wanita mengalami siklus hidup yang istimewa, yaitu menstruasi, fase kehamilan, melahirkan, menyusui, hingga di usia lanjut akan mengalami menopause. Perubahan dalam siklus hidup ini ternyata memicu persoalan lain yang mengintai kesehatan, seperti misalnya kanker serviks dan osteoporosis. Setiap wanita pun diajak untuk memiliki kesadaran akan beragam risiko tersebut, yang bisa dimulai dengan selalu memeriksakan kesehatan secara rutin.

Kanker serviks

Wanita dewasa yang sudah menikah atau aktif secara seksual memiliki factor risiko mengidap kanker leher rahim atau kanker serviks lebih tinggi. Saat ini, berdasarkan data Yayasan Kanker Indonesia (YKI), di Indonesia diperkirakan 20 wanita meninggal karena kanker serviks setiap harinya. Kanker serviks pun merupakan penyakit kanker yang paling sering dijumpai pada wanita Indonesia. Kanker ini umumnya terjadi pada rentang usia 30 sampai 50 tahun.

 

Banyak penderita yang memeriksakan diri

Ketika sudah dalam tahap stadium lanjut, sehingga banyak yang menyebabkan kematian karena terlambat ditemukan dan diobati. Sebanyak 80 persen kasus kanker serviks disebabkan oleh virus Human Pappiloma (HPV) tipe tinggi 16, 18, 45, 31, dan 32. Namun, kanker serviks merupakan jenis kanker yang dapat dicegah dan dapat ditangani asalkan telah diketahui pada stadium dini. Oleh karena itu deteksi dini merupakan hal yang penting. Pemeriksaan atau pendeteksian kanker leher rahim dapat dibantu dengan pemeriksaan pap smear konvensional dan sitologi serviks berbasis cairan. Selain itu juga terdapat pemeriksaan HPV-DNA yang bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya virus HPV.

 

Osteoporosis Menurut WHO (Badan Kesehatan Dunia)

osteoporosis merupakan penurunan densitas tulang, kerusakan arsitektur tulang, dan meluasnya kerapuhan tulang. Dampaknya, kekuatan tulang akan menurun dan risiko tulang patah meningkat. Pada tahun 2050, diperkirakan 50 persen dari kasus osteoporosis di dunia bakal terjadi di Asia dan menjadi beban ekonomi sosial cukup tinggi bagi masyarakat dan pemerintah. Fakta terbaru itu merupakan hasil the Asian Audit Epidemology Costs and Burden Osteoporosis in Asia 2009. Banyak fakta yang menyebutkan, wanitalah yang paling rentan terkena osteoporosis, terutama di atas umur 50 tahun, akibat proses menopause. Lagi-lagi, deteksi dini patut dilakukan terutama setelah menginjak usia 40 tahun.

Pemeriksaan dini

Pemeriksaan dini perlu dilakukan. Tujuannya, membantu wanita merasa nyaman melewati berbagai fase kehidupan yang terkait dengan perubahan fisik dan menghindari masalah kesehatan yang berarti. Periksalah kesehatan sedari awal. Kaum wanita yang peduli dengan kesehatannya akan membantu terwujudnya kebahagiaan keluarga dan mendukung proses pengembangan dirinya.

Baca Juga :