Anak Muda Diarahkan Pada Minat dan Bakatnya

Anak Muda Diarahkan Pada Minat dan Bakatnya

Anak Muda Diarahkan Pada Minat dan Bakatnya

 

Anak Muda Diarahkan Pada Minat dan Bakatnya

Konferensi Kebijakan Luar Negeri Indonesia

Konferensi Kebijakan Luar Negeri Indonesia 2017 yang sudah digelar ke-3 kalinya oleh Foreign Policy Community Indonesia (FPCI) berlangsung di Mal Kota Kasablanka, Sabtu (21/10/2017) dengan mengundang 100 pembicara. Mulai dari Pemimpin Daerah, Pengusaha, Akademisi, Duta Negara, Artis dan masih banyak lagi dengan hampir diikuti 6.500 peserta.

Salah satu pembicara

Yakni Wali Kota Bogor Bima Arya yang pada kesempatan itu berdampingan dengan Wali Kota Makasar dan Wakil Gubernur Sandiaga Salahuddin Uno. Ketiganya sharing terkait tantangan dan strategis merebut peluang-peluang di kawasan dan pentas global sebagai pimpinan unggulan daerah.

Bima mengatakan

Tantangan pemerintah daerah menyongsong era pasar bebas di Asean ini bisa siap jadi berbagi pengalaman dengan kota-kota lain. Kota bogor ingin secara serius memberdayakan anak muda supaya siap menghadapi pasar bebas. Memberikan ruang bagi anak muda ekspresi dan mengaktulialisasikan minat dan bakatnya. “Jadi bukan memasukkan anak muda ke bidang tertentu, tapi mengarahkan mereka ke minat dan bakatnya,” ujarnya.

Ia menuturkan

Hambatan lain yang dihadapi yakni birokrasi tidak bisa berlari cepat memenuhi harapan warganya. Tak hanya itu, Walikota atau Pemimpin Daerah diharapkan dapat secara detail mengecek kegiatan. Pasalnya, beberapa kegiatan semisal pelatihan atau pembinaan tidak menghasilkan outcome melainkan hanya sebatas output untuk menggugurkan kewajiban. “Pemimpin daerah tidak boleh sampai kebobolan, sebaliknya harus jemput bola,” jelasnya.

Sementara itu, Sandiaga Uno mengatakan

Indonesia mempunyai potensi dan inovasi yang tidak terlihat dari negara lain. Sebut saja dari produk UMKM yang bagus dan dapat bersaing. Meski begitu, diakuinya UMKM masih terkendala permodalan dan SDM yang membuat kualitas produk menurun ketika menambah kuantitas. Tak ayal, hal itu membuat kualitas dan standarisasi produk UMKM berada di bawah produk luar negeri.  “Kalau di program oke oce itu ada pembinaan dan monitoring bagi UMKM,” katanya.

Sumber : https://pakdosen.co.id/