Penyusutan Aset Tetap

Penyusutan Aset Tetap

Penyusutan Aset Tetap

Penyusutan Aset Tetap
Penyusutan Aset Tetap

Perusahaan mungkin membuat sendiri

Aset tetap yang diperlukan seperti gedung, alat-alat dan perabot. Pembuatan aset ini biasanya dengan tujuan untuk menggunakan kapasitas atau pegawai yang masih idle. Ada dua cara yang dapat digunakan untuk membebankan biaya factory overhead yaitu:

Kenaikan biaya Factory overhead yang dibebankan aset yang dibuat.

Dengan cara ini harga pokok aset yang dibuat adalah semua biaya-biaya langsung untuk membuat aset itu ditambah dengan kenaikan biaya factory overhead.
2. Biaya factory overhead dialokasikan dengan tarif kepada pembuatan aset dan produksi. Dalam cara ini, harga pokok aset merupakan jumlah semua biaya langsung ditambah dengan tarif yang menjadi beban aset yang dibuat itu.
Apabila harga pokok aset yang dibuat lebih rendah daripada harga beli di luar, selisihnya merupakan penghematan biaya dan tidak boleh diakui sebagai laba. Tetapi apabila harga pokok aset yang dibuat itu lebih tinggi dari harga beli di luar (dengan kualitas yang sama), maka selisih yang ada diperlakukan sebagai kerugian, sehingga aset akan dicatat dengan jumlah sebesar harganya yang normal.
Apabila pembuatan aset itu menggunakan dana yang berasal dari pinjaman, maka bunga pinjaman selama masa pembuatan aset dikapitalisasi dalam harga perolehan aset. Sesudah aset itu selesai dibuat, biaya bunga pinjaman dibebankan sebagai biaya dalam periode terjadinya. Biaya-biaya lain yang timbul dalam masa pembuatan aset dibebankan sebagai harga perolehan aset tetap.

Menurut Ikatan Akuntan Indonesia tentang perolehan aset tetap dengan dibuat sendiri :

Biaya perolehan suatu aset yang dibangun sendiri ditentukan dengan menggunakan prinsip yang sama sebagaimana perolehan aset dengan pembelian atau cara lain. Jika perusahaan membuat aset serupa untuk dijual dalam usaha normal, biaya perolehan aset biasanya sama dengan biaya pembangunan aset untuk dijual. Oleh karena itu, dalam menetapkan biaya perolehan, maka setiap laba internal dieliminasi. Demikian pula pemborosan yang terjadi dalam pemakaian bahan baku, tenaga kerja, atau sumber daya lain dalam konstruksi aset yang dibangun sendiri tidak termasuk biaya perolehan aset (IAI, 2007 : 16.5).

Penyusutan Aset Tetap

Secara berkala, semua aset tetap kecuali tanah akan mengalami penyusutan atau penurunan kemampuan dalam menyediakan manfaat. Dengan adanya penyusutan, maka nilai dari aset tetap tercatat tidak lagi dapat mewakili nilai dari manfaat yang dimiliki aset tetap tersebut. Agar nilai aset tetap tercatat dapat memiliki nilai dari manfaat yang dimilikinya, maka perlu dilakukan pengalokasian manfaat atas aset tetap ke dalam akumulasi biaya secara sistematis berdasarkan estimasi masa manfaat aset tetap. Pengalokasian manfaat atas aset tetap harus dilakukan secara sistematis.
Pengertian penyusutan menurut Ikatan Akuntan Indonesia yaitu: “alokasi sistematis jumlah yang dapat disusutkan dari suatu aset selama umur manfaatnya.” (IAI, 2007 : 16.1)
Menurut Ikatan Akuntan Indonesia pengertian masa manfaat adalah :
“ suatu periode di mana aset diharapkan akan digunakan untuk entitas atau jumlah produksi atau unit serupa yang diharapkan akan diperoleh dari aset tersebut oleh entitas.”(IAI, 2007 : 16.2)
Menurut Skousen, Stice and Stice pengertian penyusutan adalah:
“ Depreciation is the systematic allocation of the cost of an asset over the different periods benefited by the use of the asset.” (Skousen, Stice and Stice, 2000 : 741)

Menurut Baridwan (2004:308) ada dua hal yang menyebabkan timbulnya biaya depresiasi pada aset tetap yaitu :

a. Faktor-faktor fisik.
Faktor- faktor yang dapat mengurangi fungsi aset tetap adalah aus karena pemakaian, umur, kerusakan-kerusakan lainnya. Dalam kondisi seperti ini suatu aset tidak dapat digunakan lagi untuk memberikan jasanya sehingga harus diganti dengan aset yang baru.
b. Faktor-faktor fungsional
Faktor-faktor yang membatasi umur aset tetap adalah :
1) Ketidakmampuan aset untuk memenuhi kebutuhan produksi sehingga perlu diganti.
2) Adanya perubahan permintaan terhadap barang atau jasa yang dihasilkan.
3) Kemajuan teknologi sehingga aset tersebut tidak ekonomis lagi jika dipakai.

Faktor-faktor yang mempengaruhi beban penyusutan menurut Baridwan (2004: 306) adalah :

a. Harga perolehan (cost).
Yaitu uang yang dikeluarkan atau utang yang timbul dan biaya-biaya lain yang terjadi dalam memperoleh aset dan menempatkannya sampai dapat digunakan.
b. Nilai sisa atau nilai residu.
Nilai sisa suatu aset yang disusutkan adalah jumlah yang diterima bila aset itu dijual, ditukarkan atau cara-cara lain ketika aset tersebut sudah tidak dapat digunakan lagi, dikurangi dengan biaya-biaya yang terjadi pada saat menjual atau menukarkannya.
c. Taksiran umur kegunaan (masa manfaat)
Taksiran umur kegunaan atau masa manfaat suatu aset dipengaruhi oleh cara- cara pemeliharaan dan kebijakan-kebijakan yang dianut dalam reparasi. Taksiran umur ini bisa dinyatakan dalam satuan periode waktu, satuan hasil produksi atau satuan jam kerjanya. Dalam menaksir umur (masa manfaat) aset harus dipertimbangkan sebab-sebab keausan fisik yaitu aus karena dipakai (wear and tear), aus karena umur (deterioration and decay) dan kerusakan-kerusakan dan sebab-sebab keausan fungsional yaitu ketidakmampuan aset untuk memenuhi kebutuhan produksi sehingga perlu diganti dan karena adanya perubahan permintaan terhadap barang atau jasa yang dihasilkan atau karena adanya kemajuan teknologi sehingga aset tersebut tidak ekonomis lagi jika dipakai.