Dituduh Lakukan Plagiat, Unnes Siap Rektornya Diperiksa

Dituduh Lakukan Plagiat, Unnes Siap Rektornya Diperiksa

Dituduh Lakukan Plagiat, Unnes Siap Rektornya Diperiksa

Dituduh Lakukan Plagiat, Unnes Siap Rektornya Diperiksa
Dituduh Lakukan Plagiat, Unnes Siap Rektornya Diperiksa

Isu dugaan tindak plagiarisme sebuah karya ilmiah yang dilakukan Rektor Universitas Negeri Semarang

(Unnes), Fathur Rokhman mencuat ke permukaan. Pihak kampus menyatakan siap apabila upaya investigasi atau pembuktian dilakukan Kemenristekdikti.

Kepala UPT Humas Unnes, Hendi Pratama mengatakan, pihaknya sebetulnya menyayangkan adanya pemberitaan beredar terkait dugaan tindak penjiplakan karya tulis yang dilakukan oleh rektor mereka. “Kami memantau dari media sosial dan media online, kami kira pemberitaan itu terlalu dingin dan spekulatif,” ujarnya saat dihubungi, Senin (2/7).

Ia menyebut pada pemberitaan beredar, seolah-olah tindak plagiarisme itu benar-benar terjadi. Padahal, Hendi mengungkap selama ini upaya pembuktian atau investigasi belum ada. “Harusnya kan ada pembuktian secara legal oleh tim ahli dari kementerian, sejauh ini belum ada termasuk tim EKA (Evaluasi Kinerja Akademik) yang disebutkan di media,” sambungnya.

Sebelumnya, dugaan tindak plagiarisme oleh Rektor Unnes Fathur Rokhman

naik ke permukaan usai seorang Guru Besar Unnes Salatri Wilonoyudho, Minggu (3/6) lalu pada akun Facebook-nya memposting sebuah tulisan menyinggung tindakan plagiat yang haram dilakukan oleh sosok ilmuwan. Tulisan inilah yang kemudian memicu diadakannya sidang Majelis Profesor yang mengadilinya.

Meski pada postingan tersebut tak menyebut nama, dugaan bahwa tulisan tersebut diarahkan kepada Fathur Rokhman menguat usai Salatri pada sidang Majelis Profesor menunjukkan sebuah artikel ilmiah. Judulnya, Kode Bahasa dalam Interaksi Sosial Santri: Kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas karya Rektor Unnes, Prof Fathur Rokhman, terbitan Jurnal Penelitian Bahasa, Sastra dan Pengajaran (Litera) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Volume 3 Nomor 1 Tahun 2004.

Artikel karya rektor Unnes itu kemudian dikatikan dan disebut menjiplak milik

Anif Rida dengan judul Pemakaian Kode Bahasa dalam Interaksi Sosial Santri dan Implikasinya bagi Rekayasa Bahasa Indonesia: Kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas, yang terbit dalam prasidang Konferensi Linguistik Tahunan Atma Jaya (Kolita) Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta tahun 2003.

Isu inilah yang kemudian ditulis oleh salah satu media dan berkembang di media sosial. Terkait hal itu, Hendi sendiri menyebut sang rektor dengan tegas membantah segala tuduhan dijatuhkan kepada dirinya.

“Pak rektor membantah, bilang tidak melakukan hal itu. Tapi saya selaku humas Unnes harus menunggu klarifikasi resmi dari pihak kementerian atau apa, tapi tidak ada sampai sekarang (yang menghubungi),” tegasnya.

Ia pun menengarai bahwa mencuatnya isu ini sedikit banyak ada hubungannya dengan agenda Pemilihan Rektor Unnes Periode 2018-2022 yang mulai berlangsung Selasa (3/7) besok. Fathur pun terdaftar menjadi salah satu kandidat sebagai calon petahana.

“Tidak selalu terkait, tapi bersamaan dengan proses pemilihan rektor Unnes. Padahal artikelnya tahun 2003, munculnya tahun 2018. Apa nggak kelamaan itu, bahkan yang bersangkutan belum profesor,” tuturnya.

Lebih lanjut, Hendi menyebut akan ada pemaparan data mendalam secara legal dilakukan oleh pihak kampus. Yakni sebagai upaya pembuktian apakah karya tulis termaksud tadi adalah hasil tindak plagiarisme atau bukan.

Ia pun mengatakan pihak Unnes maupun rektor siap manakala Kementerian terkait melakukan upaya investigasi dan pembuktian perihal peristiwa ini. “Kalau terbukti akan ditindak secara tegas,” tandasnya.

 

Sumber :

https://rohitink.com/2019/06/14/need-know-periodic-table-elements/