Kerja Perempuan di Sektor Jasa

Kerja Perempuan di Sektor Jasa

Kerja Perempuan di Sektor Jasa

Kerja Perempuan di Sektor Jasa
Kerja Perempuan di Sektor Jasa
Sektor jasa meliputi berbagai kegiatan yang sangat beraneka ragam yang meliputi bangunan, perdagangan, angkutan/transportasi, keuangan, pemerintahan, pelayanan sosial dan pelayanan domestik. Umumnya laki-laki dewasa dengan kompetensi kerja maksimal menguasai sektor bangunan, transportasi dan keuangan. “Untuk sementara kondisi kerja anak dan posisi seseorang dapat dibedakan dalam tiga jenis pekerjaan, yaitu berdagang, kerja sebagai pembantu rumah tangga dan kerja pelacuran”.[13]

Berdagang

Salah satu pekerjaan adalah berdagang, baik yang bertempat di pasar, di rumah ataupun yang menjajakan barang dagangannya. Dengan berdagang dapat menghasilkan uang, sehingga dapat untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan kebutuhan keluarganya.

Kerja sebagai Pembantu Rumah Tangga

Dengan membengkaknya golongan pegawai negara maupun kaum profesional, bagi para masyarakat, pembantu rumah tangga merupakan jenis pekerjaan yang sering dibutuhkan. Kebanyakan pembantu rumah tangga terdiri dari kaum perempuan, namun tidak menutup kemungkinan ada pembantu rumah tangga dari kaum laki-laki. Pekerjaan yang mereka lakukan dianggap sebagai jenis keterampilan yang telah mereka peroleh di rumah, yaitu memasak, membersihkan rumah, mengurus kebun, mencuci pakaian dan mengasuh anak. Dengan demikian dianggap sebagai pekerjaan-pekerjaan yang tidak membutuhkan pendidikan dan keterampilan khusus. Kerja semacam ini dinamakan sebagai pekerjaan tidak terampil. Pengerahan tenaga pembantu rumah tangga yang dikenal di Indonesia, khususnya di Jawa yaitu melalui calo, kantor wilayah Depnaker atau melalui keluarga.

Jika dilihat dari motivasi, anak pekerja dapat dibedakan menjadi 2 kategori yaitu:

  1. Mereka yang mencari pekerjaan sekedar untuk menyalurkan hobby atau pengembangan bakat dan karir.
  2. Mereka yang mencari kerja untuk memenuhi kebutuhan hidup seharihari atau karena tekanan ekonomi.[14]
Mereka yang mencari pekerjaan sekedar untuk menyalurkan hobby atau pengembangan bakat dan karir, kelompok ini selalu menghubungkan lapangan pekerjaan yang dicari dengan keterampilan mereka serta pemuasan rohani atau perasaan senang dan bebas bekerja, perasaan cocok dengan pekerjaan yang ditangani. Sedangkan faktor kepuasan material menjadi nomor dua bagi mereka. Jadi kelompok ini tidak mementingkan kepuasan material, yang terpenting bagi mereka dapat bekerja sesuai keterampilan yang dimiliki sudah merupakan suatu kepuasan tersendiri, dan terkesan merekalah yang membutuhkan kerja itu sendiri.

Mereka yang mencari kerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari

kelompok ini lebih banyak menghubungkan lapangan pekerjaannya dengan pemenuhan kebutuhan material atau penghasilan yang mereka terima. Bagi kelompok ini seringkali pemuasan kebutuhan rohani (kesenangan) menjadi tidak penting dan mereka lebih banyak bekerja sebagai mesin dari pada sebagai manusia yagn membutuhkan pemuasan rohani pula. Jadi pada kelompok ini tidak mementingkan pemuasan rohani, yang penting bagi mereka selama dapat menghasilkan materi, pekerjaan apapun akan dijalaninya meskipun perasaan mereka tidak cocok atau tidak senang dengan pekerjaan yang mereka tangani.