Peran Anak Pekerja Selaku Anggota Masyarakat

Peran Anak Pekerja Selaku Anggota Masyarakat

Peran Anak Pekerja Selaku Anggota Masyarakat 

Peran Anak Pekerja Selaku Anggota Masyarakat
Peran Anak Pekerja Selaku Anggota Masyarakat

 

Dalam kehidupan anak pekerja mempunyai beberapa peranan, yang salah satunya yaitu peran yang dimainkan sebagai anggota masyarakat. Dibawah ini akan dijelaskan beberapa peranan anak pekerja sebagai anggota masyarakat.
  1. Anak pekerja sebagai seorang agen intelektual
  2. Peranan Anak pekerja di bidang politik
  3. Peranan Anak pekerja di bidang keterampilan
  4. Peranan Anak pekerja di bidang militer
  5. Peran Anak pekerja dalam hukum
  6. Peranan Anak pekerja di bidang ekonomi[15]

a. Peranan Anak pekerja sebagai seorang agen intelektual

Agar dapat memainkan peranannya yang benar sebagai anggota masyarakat yang berguna dan produktif, pertama Peranan Anak harus memperoleh suatu pendidikan. Di dalam Islam mencari pengetahuan merupakan suatu kewajiban, baik bagi kaum laki-laki maupun kaum anak pekerja . Pada kenyataannya, sepanjang sejarah Islam banyak orang selaku individu atau kelompok yang menjadi terkenal karena Ilmu pengetahuannya.

b. Peranan Anak pekerja di bidang keterampilan

Setiap pribadi anak pekerja harus melatih kemampuannya khususnya yang diberikan Tuhan kepadanya, sehingga akan melahirkan suatu keterampilan tertentu yang nantinya akan mendatangkan uang. Yang mana dengan uang tersebut dapat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

c. Peranan anak pekerja di bidang politik

Masyarakat Islam memberikan kebebasan nilai yang besar untuk belajar dan menganjurkan anggotanya untuk dapat aktif berpartisipasi dalam kehidupan politik. Merupakan suatu catatan bahwa pada masa awal pertumbuhan sebuah bangsa, anak bangsa selaku pekerja secara keseluruhan mempunyai pengaruh besar atas persoalan-persoalan politik dalam masyarakatnya.
d. Peran anak pekerja dalam hukum
Dalam bidang hukum, anak pekerja juga bertanggung jawab menjalankan semua peraturan-peraturan yang sudah menjadi ketetapan hukum. Jadi apabila anak pekerja melanggar peraturan hukum yang telah ditetapkan, maka juga harus ditindak sesuai hukum seperti juga kaum laki-laki dewasa selaku pekerja profesional.
f. Peranan anak pekerja di bidang ekonomi
Dalam masyarakat Islam anak pekerja sama-sama menikmati kebebasan penuh dalam kegiatan ekonomi. Anak pekerja tersebut memiliki hak untuk mendapatkan hak milik melalui berbagai cara yang sah.

Kerja Perempuan di Sektor Jasa

Kerja Perempuan di Sektor Jasa

Kerja Perempuan di Sektor Jasa

Kerja Perempuan di Sektor Jasa
Kerja Perempuan di Sektor Jasa
Sektor jasa meliputi berbagai kegiatan yang sangat beraneka ragam yang meliputi bangunan, perdagangan, angkutan/transportasi, keuangan, pemerintahan, pelayanan sosial dan pelayanan domestik. Umumnya laki-laki dewasa dengan kompetensi kerja maksimal menguasai sektor bangunan, transportasi dan keuangan. “Untuk sementara kondisi kerja anak dan posisi seseorang dapat dibedakan dalam tiga jenis pekerjaan, yaitu berdagang, kerja sebagai pembantu rumah tangga dan kerja pelacuran”.[13]

Berdagang

Salah satu pekerjaan adalah berdagang, baik yang bertempat di pasar, di rumah ataupun yang menjajakan barang dagangannya. Dengan berdagang dapat menghasilkan uang, sehingga dapat untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan kebutuhan keluarganya.

Kerja sebagai Pembantu Rumah Tangga

Dengan membengkaknya golongan pegawai negara maupun kaum profesional, bagi para masyarakat, pembantu rumah tangga merupakan jenis pekerjaan yang sering dibutuhkan. Kebanyakan pembantu rumah tangga terdiri dari kaum perempuan, namun tidak menutup kemungkinan ada pembantu rumah tangga dari kaum laki-laki. Pekerjaan yang mereka lakukan dianggap sebagai jenis keterampilan yang telah mereka peroleh di rumah, yaitu memasak, membersihkan rumah, mengurus kebun, mencuci pakaian dan mengasuh anak. Dengan demikian dianggap sebagai pekerjaan-pekerjaan yang tidak membutuhkan pendidikan dan keterampilan khusus. Kerja semacam ini dinamakan sebagai pekerjaan tidak terampil. Pengerahan tenaga pembantu rumah tangga yang dikenal di Indonesia, khususnya di Jawa yaitu melalui calo, kantor wilayah Depnaker atau melalui keluarga.

Jika dilihat dari motivasi, anak pekerja dapat dibedakan menjadi 2 kategori yaitu:

  1. Mereka yang mencari pekerjaan sekedar untuk menyalurkan hobby atau pengembangan bakat dan karir.
  2. Mereka yang mencari kerja untuk memenuhi kebutuhan hidup seharihari atau karena tekanan ekonomi.[14]
Mereka yang mencari pekerjaan sekedar untuk menyalurkan hobby atau pengembangan bakat dan karir, kelompok ini selalu menghubungkan lapangan pekerjaan yang dicari dengan keterampilan mereka serta pemuasan rohani atau perasaan senang dan bebas bekerja, perasaan cocok dengan pekerjaan yang ditangani. Sedangkan faktor kepuasan material menjadi nomor dua bagi mereka. Jadi kelompok ini tidak mementingkan kepuasan material, yang terpenting bagi mereka dapat bekerja sesuai keterampilan yang dimiliki sudah merupakan suatu kepuasan tersendiri, dan terkesan merekalah yang membutuhkan kerja itu sendiri.

Mereka yang mencari kerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari

kelompok ini lebih banyak menghubungkan lapangan pekerjaannya dengan pemenuhan kebutuhan material atau penghasilan yang mereka terima. Bagi kelompok ini seringkali pemuasan kebutuhan rohani (kesenangan) menjadi tidak penting dan mereka lebih banyak bekerja sebagai mesin dari pada sebagai manusia yagn membutuhkan pemuasan rohani pula. Jadi pada kelompok ini tidak mementingkan pemuasan rohani, yang penting bagi mereka selama dapat menghasilkan materi, pekerjaan apapun akan dijalaninya meskipun perasaan mereka tidak cocok atau tidak senang dengan pekerjaan yang mereka tangani.

Anak Kerja di Sektor Industri

Anak Kerja di Sektor Industri

Anak Kerja di Sektor Industri

Anak Kerja di Sektor Industri
Anak Kerja di Sektor Industri

Kerja di Pabrik

Banyak pabrik olahan kayu dan jenis pabrik lainya yang ada di satu kawasan pemukiman penduduk menjadi angin segar bagi mereka untuk mendapatkan penghasilan tambahan keseharian, potensi tenaga kerja baik itu orang tua ibu rumah tangga dan anak juga tidak menutup kemungkinan dipekerjakan pada sebuah sektor industri.
Namun kenyataan yang kurang berpihak kadang kala Perusahaan-perusahaan seperti itu banyak yang memberikan upah yang tidak sesuai dengan upah umum kepada anak pekerja bila dibandingkan dengan tenaga kerja laki-lakinya. Barron dan Norris mengatakan bahwa :

Laki-laki umumnya menempati jenis-jenis pekerjaan yang lebih stabil

berupah lebih tinggi, berkemungkinan naik jenjang dan dikategorikan sebagai pekerja “terampil”. Sebaliknya, anak dan perempuan umumnya menempati jeni-sjenis pekerjaan yang kurang stabil, berupah lebih rendah, tanpa kemungkinan untuk naik jenjang dan dikategorikan sebagai pekerja”tak terampil”.[12]
Disini peneliti dapat memaknai mengenai upah yang diterima anak pekerja lebih rendah dari pada pekerja laki-laki dewasa dengan keterampilan tertentu karena keterampilan pekerja anak dianggap rendah artinya belum menunjukan tingkat kerja yang maksimal. Keterampilan disini dapat dikaitkan dengan pendidikan ataupun latihan-latihan yang pernah diikutinya. Dan pada kenyataannya, memang pekerja pabrik umumnya anak yang berpendidikan rendah.

 Kerja borongan 

Kerja borongan merupakan kerja upahan yang dilakukan oleh anak atas dasar satuan kerja yang dilakukan. Pekerjaan ini bisa merupakan pesanan seorang pemikul kayu, pedagang perantara yang kemudian melemparkan hasil produksinya langsung ke kota-kota atau konsumen, dan bisa juga menjualnya ke perusahaan. pemikul kayu atau pedagang perantara sebagian memborongkan di rumah-rumah dan sebagian lagi memborongkan di rumahnya sendiri. Atau sebuah perusahaan mempunyai hubungan langsung dengan pekerja borongan di rumah. Jadi sebagian barang produksinya dikerjakan di rumah-rumah dan sebagiannya lagi dikerjakan di dalam pabrik.

Jenis-jenis industri yang sering diborongkan ialah

kayu olahan, tekstil, sepatu, jenis-jenis makanan dan minuman tertentu, obat nyamuk, kaleng, lampu semprong dan pengepakan. Disini dapat disimpulkan, seorang anak yang menjadi pekerja borongan, selain dapat mengerjakan pekerjaan borongannya yang nantinya dapat menghasilkan uang, juga dapat melakukan tugas utamanya seorang anak yaitu membantu kedua orang tuanya dirumah

Industri 4.0, Mendikbud: Pendidikan Vokasi Masa Depan Indonesia

Industri 4.0, Mendikbud Pendidikan Vokasi Masa Depan Indonesia

Industri 4.0, Mendikbud: Pendidikan Vokasi Masa Depan Indonesia

Industri 4.0, Mendikbud Pendidikan Vokasi Masa Depan Indonesia
Industri 4.0, Mendikbud Pendidikan Vokasi Masa Depan Indonesia

Pendidikan vokasi adalah masa depan Indonesia di tengah arus gelombang revolusi industri 4.0. Sebab, era digital menjanjikan peluang besar bagi generasi milenial Indonesia yang berjiwa dinamis dan kreatif. Untuk itu, generasi depan bangsa harus kreatif dan produktif agar bisa bersaing secara global. Dan, koperasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah salah satu jembatan efektif dalam mencetak pengusaha-pengusaha muda.

Hal itu dikatakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy dalam sambutannya saat membuka kegiatan Young Technopreneur Expo (YTE) 2019 di Hotel Sahid, Jakarta, Jumat (22/2/2019). Kegiatan dengan tagline #optimismeindonesia itu diikuti puluhan SMK dan sejumlah bisnis start up anak-anak muda.

“Revolusi Industri 4.0 adalah peluang besar bagi generasi milenial karena jiwa mereka yang dinamis dan kreatif. Era digital membuka banyak ruang bagi generasi milenial untuk menciptakan produk-produk kreatif yang unik. Karena digitalisasi ekonomi terbukti mendorong semakin banyak orang suka dengan produk-produk yang unik. Dan, di situlah peluang bisnis bagi generasi milenial untuk terus menciptakan produks-produk kreatif,” kata Muhadjir.

Baca Juga:

Penerapan Sistem Zonasi Membutuhkan Perpres

Sinergi Komunitas Penting untuk Wujudkan Pendidikan Berkualitas

Muhadjir pun menyatakan sangat senang dan mengapresiasi inisiatif generasi muda menularkan sikap dan semangat optimistis melalui kegiatan YTE 2019 dengan tagline #OptimismeIndonesia. Mendikbud mengakui sempat kaget ketika mendapat informasi bahwa kegiatan YTE 2019 mendadak pindah dari kawasan Kuningan ke hotel Sahid.

“Saya sempat kaget, tetapi sekaligus salut. Begini, kita tumbuh dari kegagalan. Tidak ada cerita sukses terus. Generasi muda harus pernah mengalami kegagalan untuk bisa meraih kesuksesan. Kita belajar dari kegagalan. Inilah pesan pokok dari kegiatan Young Technopreneur Expo 2019 ini. Bahwa generasi muda tidak cukup hanya kreatif dan inovatif, tetapi juga harus berani mengambil inisiatif, berani mengambil risiko, dan berani memikul tanggungjawab,” ujar Muhadjir.

Kegiatan YTE 2019 diikuti sejumlah SMK di Pulau Jawa yang memproduksi berbagai produk

dan sudah menjalin kerjasama dengan industri lokal. Selain SMK, YTE 2019 juga diikuti bisnis start up anak-anak muda. Selama tiga hari, 22-24 Februari, YTE 2019 menggelar eksibisi dan talkshow dengan narasumber seperti CEO Bitpascal Arkdemy dan Amoeba Telkom Digimy. “Saya sangat senang dan mengapresiasi kegiatan ini yang menampilkan ide-ide kreatif dan karya-karya nyata generasi muda,” kata Muhadjir.

Tema #OptimismeIndonesia, lanjutnya, sangat cocok untuk generasi milenial yang sangat dinamis. “Mari kita dorong anak-anak muda membangun mimpi-mimpi besar dalam melihat masa depan dengan sikap optimis lewat produk-produk inovatif yang dibutuhkan pasar. Saya sangat mendukung Dekopin untuk menggelar kegiatan ini secara rutin setiap tahun.”

Lebih jauh, Muhadjir menjelaskan bahwa Presiden Joko Widodo sangat peduli dengan pendidikan

vokasi untuk menciptakan generasi muda yang kreatif dan produktif. Karena itu, pemerintah melakukan program revitalisasi kurikulum dan kelembagaan SMK untuk mengangkat mutu tamatan dan link dengan dunia industri. Dalam empat tahun terakhir, pemerintah sudah melakukan revitalisasi terhadap lebih dari 3.000 dari total 13.000 SMK di seluruh Indonesia.

Mendikbud menjelaskan, sebanyak 60% materi kurikulum SMK sekarang ini berasal dari dunia industri dan 40% dari sekolah. SMK juga sudah menjalin kerjasama dengan industri lokal baik untuk pelatihan maupun pasar bagi produk-produk SMK. Pembiayaan untuk produksi siswa-siswa SMK juga sudah mulai disalurkan melalui Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) di daerah-daerah.

 

Baca Juga :

 

 

Kemenag Tegaskan Mustahil Menghapus Pendidikan Agama dari Sekolah

Kemenag Tegaskan Mustahil Menghapus Pendidikan Agama dari Sekolah

Kemenag Tegaskan Mustahil Menghapus Pendidikan Agama dari Sekolah

Kemenag Tegaskan Mustahil Menghapus Pendidikan Agama dari Sekolah
Kemenag Tegaskan Mustahil Menghapus Pendidikan Agama dari Sekolah

Kementerian Agama (Kemenag) angkat bicara terkait viralnya

rekaman video seorang ibu yang menyebut Presiden Joko Widodo akan menghilangkan pendidikan agama di sekolah. Dirjen Pendidikan Islam Kemenag Kamaruddin Amin menegaskan, tidak mungkin pendidikan agama dihapus dalam kurikulum sekolah, apalagi di sekolah madrasah.

“Di negara sekuler seperti Inggris dan sejumlah negara Eropa Barat, bahkan pelajaran agama wajib di sekolah, baik di sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah (public schools), apalagi di sekolah yang diselenggarakan oleh gereja (faith based schools),” ujar Kamaruddin Amin dalam keterangan tertulisnya, Selasa (5/3/2019).

Menurut dia, mustahil pelajaran agama dianggap tidak penting dan dihilangkan dari kurikulum. Apalagi di Indonesia sebagai negara yang dikenal sangat religius. Bahkan dalam empat tahun terakhir, Ditjen Pendidikan Islam Kemenag justru terus berupaya meningkatkan akses dan mutu pendidikan agama dan keagamaan.

Baca Juga:

Gelar Jambore Pasraman, Kemenag Perkuat Semangat Kebersamaan

Kasus Pemalsuan SKD, Kemendikbud Serahkan ke Daerah

Banyak program afirmatif yang sudah dilakukan. Keberadaan Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia (MAN IC) misalnya, sebagai madrasah unggulan terus dikembangkan hingga jumlahnya semakim banyak dan tersebar di berbagai provinsi. (Baca juga: Mengenai Polemik Penghapusan Pelajaran Agama)

“Pesantren Salafiyah dan Ma’had aly (perguruan tinggi di pesantren) juga kita rekognisi dalam bentuk penyetaraan atau muadalah. Pemerintah juga siapkan RUU Pesantren untuk memberikan afirmasi dan rekognisi bahkan fasilitasi pada tradisi dan kekhasan keilmuan di pesantren,” tuturnya.

 

Sarana prasarana pendidikan tinggi keagamaan Islam Negeri (PTKIN)

juga maju pesat atau kini sudah ada sebanyak 58 PTKIN. Semuanya memiliki gedung perkuliahan yang baru. Intinya, penguatan pendidikan agama dan keagamaan telah banyak dilakukan Kemenag.

Tidak hanya fisik, penguatan itu juga dilakukan pada aspek pengembangan SDM (beasiswa), kurikulum maupun penguatan proses belajar mengajar. “Saya justru optimistis pendidikan agama ke depan di Indonesia akan semakin kuat dan berkualitas,” pungkasnya.

 

Sumber :

https://telegra.ph/Contoh-Teks-Eksplanasi-Tentang-Sosial-Pengangguran-07-05

Ikut Pelatihan di Luar Negeri, Kompetensi 1.200 Guru Digembleng

Ikut Pelatihan di Luar Negeri, Kompetensi 1.200 Guru Digembleng

Ikut Pelatihan di Luar Negeri, Kompetensi 1.200 Guru Digembleng

Ikut Pelatihan di Luar Negeri, Kompetensi 1.200 Guru Digembleng
Ikut Pelatihan di Luar Negeri, Kompetensi 1.200 Guru Digembleng

Sebanyak 1.200 guru pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga SMA dikirim Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) ke-12 negara. Di antaranya Finlandia, Australia, India, Korea, Jerman, Jepang, Prancis, Singapura, China, Rumania, dan Hong Kong.

Pengiriman ini kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy agar para guru mendapatkan pengalaman dalam sistem pembelajaran di era Revolusi Industri 4.0. Meski hanya selama tiga minggu, tapi dia yakin para guru bisa mengambil manfaat dari pelatihan di luar negeri.

“Untuk meningkatkan kompetensi guru, mereka dikirim ke sejumlah negara. Durasinya paling sedikit tiga minggu di luar negeri,” ujar Menteri Muhadjir usai melepas 1.200 guru ke luar negeri di Kantor Kemendikbud, Rabu 27 Februari 2019.

Baca Juga:

DPR Kritisi Praktik Manipulasi Domisili Demi Zonasi PPDB

634 PAUD di Daerah 3T Difasilitasi Media Audio Pembelajaran

Dia menjelaskan pendanaan pengiriman para guru ke luar negeri berasal dari dana Lembaga Pengelola dana Pendidikan (LPDP) dan Kemendikbud. Dana LPDP ini bisa digunakan untuk membiayai kursus ataupun pelatihan guru.

Seluruh tenaga pendidik yang akan ke luar negeri itu, merupakan guru-guru berprestasi. Sebelumnya Kemendikbud juga mengamati rekam jejak para guru. Muhadjir menyebutkan Kemendikbud berencana mengirim guru ke luar negeri hingga tiga kali dalam setahun.

Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan

Kemendikbud, MQ Wisnu Aji mengatakan, Kemendikbud memberi apresiasi kepada guru untuk melakukan pelatihan di luar negeri.

Menurut dia, kebijakan itu sesuai dengan harapan Presiden untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), yakni membuka wawasan dan pengetahuan global kepada guru. “Misalnya terkait skill, pembelajaran abad 21, juga masalah ilmu pendidikan, lokakarya/workshop, observasi sekolah dan kelas, kunjungan industri (bagi guru kejuruan) dan praktik kerja industri,” tutur Wisnu.

Wisnu juga menjelaskan tentang proses seleksi guru sebelum dikirim ke luar negeri.

“Seleksi lebih kepada guru yang berprestasi. Nah kita meyeleksi sudah berjalan tiga bulan, dan kita lebih muda memiih yang sudah ada,” tuturnya.

Di luar negeri, kata dia, para guru akan menjalani pelatihan rata-rata selama tiga minggu. Kemudian mereka nantinya membuat laporan dan program yang terstruktur. Kemudian mengimplemetasikannya di lingkungan sekolah masing-masing.

Selama mengikuti program pelatihan di luar negeri, sambung dia, para guru diharapkan dapat menyerap semua materi yang diberikan lalu dipraktikkan serta menyebarluaskan kepada sesama guru di daerah masing-masing.

 

Sumber :

https://telegra.ph/Pengertian-Teks-Ulasan-Contoh-Ciri-Tujuan-Struktur-07-05

Islam dan Jaringan Perdagangan Antarpulau-Sejarah

Islam dan Jaringan Perdagangan Antarpulau-Sejarah

Islam dan Jaringan Perdagangan Antarpulau – Sudah ada perdagangan, sejak abad pertama Masehi di kepulauan Indonesia berdasarkan knowledge arkeologi berupa prasasti-prasati dan juga knowledge historis berupa berita-berita asing. Jalur – jalan pelayaran maupun perdagangan Kerajaan Sriwijaya bersama dengan lebih dari satu negara di Asia Tenggara, cina, dan India (Berdasarkan berita cina yang sudah dikaji, diantaranya oleh W.Wolters (1967).

Dari catatan-catatan di peristiwa Indonesia dan Malaya yang sudah di himpun berasal dari sumber Cina oleh W.P Groeneveldt, sudah perlihatkan ada jaringan perdagangan pada kerajaan-kerajaan di Kepulauan Indonesia bersama dengan bermacam negeri terutama bersama dengan Cina. Kontak dagang itu sudah berjalan sejak abad-abad pertama Masehi hingga abad ke-16. Kemudian kapal-kapal dagang Arab juga terasa berlayar ke wilayah Asia Tenggara sejak permulaan abad ke-7. Dan berasal dari literatur Arab juga banyak sumber berita berkenaan perjalanan mereka ke Asia Tenggara.

Adanya jalan pelayaran selanjutnya mengakibatkan keluar jaringan perdagangan dan pertumbuhan yang disertai pertumbuhan kota- kota pusat kesultanan bersama dengan kota- kota bandar pada abad ke-13 hingga abad ke-18 misalnya, Samudera Pasai, Malaka, Banda Aceh, Palembang, Demak, Siak Indrapura, Jambi, Minangkabau, Cirebon, Banten, Ternate, Tidore, Goa-Tallo, Kutai, Banjar, dan kota- kota lainnya. Dari sumber literatur Cina, Cheng Ho mencatat terdapat kerajaan bercorak Islam atau kesultanan, pada lain, Malaka dan Samudera Pasai yang tumbuh dan berkembang sejak abad ke- 13 hingga abad ke- 15, sedangkan Ma Huan juga menginformasikan ada komunitas- komunitas Muslim di pesisir utara Jawa Timur. Berita Tome Pires dalam Suma Oriental (1512-1515) juga mengimbuhkan gambaran berkaitan keberadaan jalan pelayaran jaringan perdagangan, baik regional ataupun internasional. Ia menceritakan berkenaan lalu lintas maupun kehadiran para pedagang di Samudra Pasai yang berasal berasal dari Bengal, Turki, Persia, Gujarat, Arab, Kling, Malayu, Jawa, dan Siam. Selain itu Tome Pires juga sudah mencatat kehadiran para pedagang di Malaka berasal dari Kairo, Mekkah, Aden, Abysinia, Kilwa, Malindi, Persia, Ormuz, Rum, Turki, Kristen Armenia, Gujarat, Chaul, Dabbol, Goa, Keling, Dekkan, Malabar, Orissa, Ceylon, Bengal, Arakan, Pegu, Siam, Kedah, Malayu, Pahang, Patani, Kamboja, Campa, Cossin Cina, Cina, Lequeos, Bruei, Lucus, Tanjung Pura, Lawe, Bangka, Lingga, Maluku, Banda, Bima, Timor, Madura, Jawa, Sunda, Palembang, Jambi, Tongkal, Indragiri, Kapatra, Minangkabau, Siak, Arqua, Aru, Tamjano, Pase, Pedir, dan Maladiva.

Berdasarkan kehadiran sejumlah pedagang berasal dari bermacam negeri dan bangsa di Samudera Pasai, Malaka, dan bandar-bandar di pesisir utara Jawa dapat disimpulakan ada jalur- jalan pelayaran dan jaringan perdagangan pada lebih dari satu kesultanan di Kepulauan Indonesia baik yang berupa regional maupun internasional. Hubungan pelayaran yang disertai perdagangan pada Nusantara bersama dengan Arab meningkat menjadi interaksi langsung dan dalam intensitas tinggi. Dengan demikian aktivitas perdagangan dan pelayaran di Samudera Hindia menjadi tambah ramai. Peningkatan pelayaran selanjutnya berkaitan erat bersama dengan tambah maju perdagangan di era jaya pemerintahan Dinasti Abbasiyah (750-1258). Dengan ditetapkan Baghdad menjadi pusat pemerintahan yang menukar Damaskus (Syam) aktivitas pelayaran dan perdagangan di Teluk Persia menjadi lebih ramai. Pedagang Arab yang selama ini hanya berlayar hingga India, berasal dari abad ke-8 terasa masuk ke Kepulauan Indonesia dalam rangka perjalanan menuju ke Cina. Meskipun hanya transit, tetapi interaksi Arab bersama dengan kerajaan- kerajaan di Kepulauan Indonesia menjadi langsung. Hubungan itu menjadi tambah ramai manakala pedagang Arab di larang masuk ke Cina dan koloni mereka dihancurkan oleh Huang Chou, menyusul suatu pemberontakan yang berjalan pada 879 H. Orang–orang Islam pun melarikan diri berasal dari pelabuhan Kanton dan berharap pemberian berasal dari Raja Kedah dan Palembang. Ditaklukkannya Malaka oleh Portugis pada 1511, dan bisnis Portugis sesudah itu untuk menguasai lalu lintas di selat selanjutnya sudah mendorong para pedagang untuk menyita jalan alternatif yakni bersama dengan melintasi Semenanjung atau pantai barat Sumatra ke Selat Sunda.

Pergeseran ini melahirkan pelabuhan perantara yang baru, seperti Aceh, Patani, Pahang, Johor, Banten, Makassar dan juga lain sebagainya. Saat itu, pelayaran di Selat Malaka kerap diganggu oleh perompak laut (bajak laut) yang kerap berjalan pada jalan perdagangan yang ramai, bakal tetapi tidak cukup mendapat pengawasan oleh penguasa setempat. Perompakan itu sendiri sebetulnya merupakan bentuk kuno aktivitas dagang. Kegiatan itu dikerjakan karena merosotnya suasana politik dan juga mengganggu kewenangan pemerintahan yang berdaulat penuh atau kedaulatannya di bawah penguasa kolonial. Akibat aktivitas bajak laut tersebut, rute pelayaran perdagangan yang semula melalui Asia Barat ke Jawa lalu berubah melalui pesisir Sumatra dan Sunda. Dari pelabuhan ini pula para pedagang singgah di Pelabuhan Barus, Tiku, dan Pariaman. Perdagangan pada wilayah timur Kepulauan Indonesia lebih pada perdagangan cengkih dan pala. Dari Ternate dan Tidore (Maluku) di bawa barang komoditi itu menuju Somba Opu, yakni ibukota Kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan. Somba Opu pada abad ke-16 sudah menjalin interaksi perdagangan bersama dengan Patani, Johor, Blambangan, Banjar, dan Maluku. Adapun Hitu (Ambon) menjadi pelabuhan yang menampung komoditi cengkih berasal dari Huamual (Seram Barat), sedangkan komoditi pala pusatnya di Banda. Semua pelabuhan itu umumnya didatangi oleh para pedagang Jawa, Arab, Cina, dan Makassar. Kehadiran pedagang selanjutnya pengaruhi corak kehidupan dan juga budaya setempat, jikalau ditemui bekas koloninya seperti Maspait (Majapahit), Kota Jawa (Jawa) dan Kota Mangkasare (Makassar).

Pada abad ke- 15, Sulawesi Selatan didatangi pedagang Muslim berasal dari Malaka, Sumatra, dan Jawa,. Dalam perjalanan sejarah, penduduk Muslim di Gowa yakni Raja Gowa Muhammad Said (1639-1653) dan juga putra penggantinya, Hasanuddin (1653-1669) sudah menjalin interaksi dagang yakni bersama dengan bangsa Portugis. Bahkan Sultan Muhammad Said dan Karaeng Pattingaloang juga turut mengimbuhkan saham dalam perdagangan yang dikerjakan Fr. Vieira, walaupun mereka beragama Katolik. Kerjasama selanjutnya didorong oleh ada bisnis monopoli perdagangan rempah- rempah yang dilancarkan oleh kompeni Belanda di Maluku. Hubungan Ternate, Hitu bersama dengan Jawa terlalu erat. Dengan ditandai ada seorang raja yang dianggap terlalu sudah memeluk Islam yakni Zainal Abidin (1486-1500) yang pernah studi di Madrasah Giri. Ia dijuluki sebagai Raja Bulawa yang bermakna raja cengkih, karena ia mempunyai cengkeh berasal dari Maluku sebagai persembahan. Cengkih, pala, dan bunga pala (fuli) itu, hanya terdapat di Kepulauan Indonesia anggota timur, supaya banyak barang yang hingga ke Eropa wajib melalui jalan perdagangan yang terlalu panjang berasal dari Maluku hingga ke Laut Tengah. Cengkih yang diperdagangkan yakni putik bunga tumbuhan hijau (szygium aromaticum atau caryophullus aromaticus) yang sudah dikeringkan. Satu pohon selanjutnya ada yang membuahkan cengkih hingga 34 kg. Hamparan cengkih di tanam di perbukitan di pulau- pulau kecil Ternate, Tidore, Makian, maupun Motir di terlepas pantai barat Halmahera dan baru sukses di tanam di pulau yang relatif besar, yakni Bacan, Ambon dan Seram.

Meningkatnya ekspor lada dalam perdagangan internasional, mengakibatkan pedagang nusantara menyita alih fungsi India sebagai pemasok utama untuk pasaran Eropa yang sudah berkembang bersama dengan cepat. Selama periode (1500- 1530) banyak sekali berjalan gangguan di laut supaya bandar- bandar Laut Tengah wajib melacak pasokan hasil bumi berasal dari Asia ke Lisabon. Oleh karena itu secara berangsur- angsur jalan perdagangan yang ditempuh pedagang muslim bertambah aktif, di tambah bersama dengan ada perang di laut Eropa, penaklukan Ottoman atas Mesir (1517) dan pantai Laut Merah Arabia (1538) mengimbuhkan pemberian yang besar untuk berkembangnya pelayaran Islam di Samudera Hindia.

Meskipun banyak kota bandar, bakal tetapi yang berguna hanya untuk melakukan ekspor dan impor komoditi, pada umumnya adalah kota- kota bandar besar yang beribu kota pemerintahan di pesisir, seperti Banten, Jayakarta, Cirebon, Jepara – Demak, Ternate, Goa-Tallo, Tidore, Banjarmasin, Malaka, Samudera Pasai, Kesultanan Jambi, Palembang dan Jambi. Kesultanan Mataram berdiri berasal dari abad ke-16 hingga ke-18. Meskipun kedudukannya sebagai kerajaan pedalaman tetapi wilayah kekuasaannya meliputi lebih dari satu besar pulau Jawa yang merupakan hasil ekspansi Sultan Agung. Kesultanan Mataram juga punyai kota-kota bandar, seperti Jepara, Tegal, Kendal, Semarang, Tuban, Gresik, Sedayu, dan Surabaya.

Dalam proses perdagangan terjalin interaksi antar etnis yang terlalu erat. Berbagai etnis berasal dari kerajaan- kerajaan itu sesudah itu berkumpul dan membentuk suatu komunitas. Oleh karena itu, muncullah nama- nama kampung berdasarkan asal daerah. Contohnya,di Jakarta terdapat perkampungan Keling, Pakojan, dan kampung- kampung lainnya yang berasal berasal dari daerah- tempat asal yang jauh berasal dari kota- kota yang dikunjungi, seperti Kampung Melayu, Kampung Ambon, Kampung Bandan, dan Kampung Bali. Pada era zaman pertumbuhan dan pertumbuhan Islam, proses menjual membeli barang dikerjakan bersama dengan cara barter. Sistem barter dikerjakan pada pedagang- pedagang berasal dari tempat pesisir bersama dengan tempat pedalaman, apalagi kadang- kadang langsung kepetani. Transaksi selanjutnya dikerjakan di pasar, baik di kota ataupun desa. Tradisi jual- membeli bersama dengan proses barter hingga waktu ini masih dikerjakan oleh lebih dari satu penduduk simpel yang berada jauh di tempat terpencil. Di lebih dari satu kota pada era pertumbuhan Islam dan pertumbuhan sudah mengfungsikan mata uang sebagai nilai ubah barang. Mata uang yang dipergunakan tidak mengikat pada mata uang tertentu, kecuali ada keputusan yang diatur pemerintah tempat setempat.

Kemunduran perdagangan dan kerajaan yang berada di tempat tepi pantai disebabkan karena kemenangan militer dan juga ekonomi berasal dari Belanda, dan timbulnya kerajaan- kerajaan agraris di pedalaman yang tidak menyimpan perhatian pada perdagangan.

Sumber : kumpulansurat.co.id

Baca Juga :

Soekarno – Hatta Setangkup Model Indonesia

Soekarno – Hatta Setangkup Model Indonesia

Soekarno – Hatta Setangkup Model Indonesia→Kita wajib memahami dua nama manusia Indonesia dari era lampau yaitu, soekarno dan Mohamad Hatta. Mereka punyai posisi sentral di dalam histori pergerakan nasional. Kedua tokoh ini tidak tergolong sebagai pelopor maupun perintis awal gerakan nasional menentang penjajahan Belanda. Jauh sebelum akan itu, di penghujung abad XIX atau awal abad XX, telah tumbuh dan bersemi benih – benih kesadaran nasional lewat pribadi –pribadi terkemuka garda depan seperti Raden Mas Tirto Adi Suryo, Raden Ajeng Kartini, Sam Ratulangi dll, dan organisasi – organisasi sosial-politik moderen seperti Sjarikat Dagang Islam (1906), Boedi Oertomo ( 1908), Indische Partij (1911), Sarikat Islam (1912), Jong Java, Jong Islameten Bond, Jong Sumatraten, Jong Celebes, Indonesia Moeda, dan organisasi – organisasi sejenis.

Organisasi-organisasi berikut yang lahir berkat meningkatnya kesadaran politik dan pemahaman mendalam atas derita bangsa pada lebih dari satu golongan bumiputera menandai babak baru strategi perlawanan pada penguasa kolonial, meninggalkan pola-pola pada mulanya yang lebih mengandalkan kekuatan fisik, senjata atau sentimen golongan dan gara-gara itu berbentuk sporadis dan juga mudah dipatahkan oleh pemerintah Hindia-Belanda. Peralihan wujud perjuangan di dalam wujud perjuangan lewat penggalangan era dan pengkaderan merupakan cikal-bakal gerakan penanaman kesadaran nasional lewat sekat-sekat kesukuan, agama, golongan, dan kelas dikalangan yang lebih luas. Benih-benih inilah yang kelak menyuburkan aksi-aksi patriotisme baru yang tidak dulu dialami oleh pemerintahan kolonial sebelumnya.

Dapatlah dikatakan Soekarno-Hatta adalah “anak didik” terbaik organisasi-organisasi baru tersebut. Tatkala menempuh pendidikan Hogere Burger School (HBS=sekolah menengah belanda 5 tahun) di Surabaya, Soekarno adalah pendiri “Trikoro Dharmo” (kemudian beralih menjadi Jong Java). Lebih dari itu, pada umur terlampau belia ( sejak 15 th. ), ia meraih pengalaman berguru secara segera pada tokoh utama, Sarikat Islam ( SI ), Raden Mas Haji Oemar Said Tjokroaminoto. Ia tinggal dan menetap di tempat tinggal Tjokroaminto. Melihat segera kiprah dan sepak terjang gurunya itu di dalam menakhodai SI sekaligus bergaul dan bersentuhan akrab dengan tokoh-tokoh sentral SI. Juga, persoalan-persoalan yang di menghadapi organisasi itu di dalam menghadapi pembatas-pembatas oleh belanda.

Denyut pergerakan dan perjuangan segera bersenyawa dengan jiwa Soekarno muda dan di kemudian hari menjadi titik balik dari seluruh impiannya dari cuma bercita-cita menjadi segelintir golongan terpelajar Bumiputera yang meraih pendidikan tinggi kolonial, dan gara-gara itu membawa kesempatan tak terbatas menjadi “Priyayi Besar” selanjutnya bermetamorfosa menjadi pemimpin garis depan perjuangan bangsanya dengan segenap efek yang wajib dihadapinya.

Hatta pun demikian adanya. Sewaktu menempuh pendudukan MULO ( Meer Uitgebreid Lager Onderwijs – setingkat sekolah menengah pertama ) th. 1917-1919, ia telah aktif di dalam JSB (Jong Sumatranen Bond= Perhimpunan Pemuda Sumatera ) sebagai sekretaris merangkap bendahara di Padang. Kesadaran kebangsaannya mulai tumbuh, gara-gara sering-nya ia menjadi bagian dan pengurus aktif JSB menghadiri ceramah – ceramah dan pertemuan –pertemuan politik yang diadakan tokoh – tokoh lokal maupun Nasional. Pemupukan kesadaran Nasional lewat organisasi dan realitas sosial sebagai negara yang penuh dengan fakta – fakta diskriminatif di seluruh lapangan kehidupan agak-nya terlampau berperanan di dalam menyemai tunas kebangsaan diri Hatta muda.

Persamaan Gemblengan
Boleh menjadi bukan semata – mata aspek koinsidensi ( kebetulan) yang unik bahwa “jalan hidup “ Soekarno dan Mohamad Hatta nyaris mirip satu mirip lain. Pada umur yang terlampau belia ( belasan th. ), keduanya segera terima gemblengan dan melibatkan diri di dalam organisasi massa tanpa meremehkan impuls menuntut ilmu. Keduanya termasuk segelintir siswa cerdas yang didik guru-guru yang kebanyakan bangsa eropa dan studi disekolah-sekolah terbaik pada zamannya.
Barangkali merupakan suatu kelebihan pula kalau ke-2 tokoh ini dan termasuk kebanyakan generasi aktivis pengerak seangkatannya selama hayat-nya adalah golongan pelahap seluruh type buku – buku pengetahuan terutama filsafat, ekonomi, politik, agama dan lain-lain. Koleksi buku ke-2 tokoh ini beragam, terlampau kaya dan menunjukan minat yang demikian besar pada segenap pengetahuan pengetahuan. Generasi pemula, para pendiri bangsa (the founding fathers ) dengan demikian, selain terpelajar termasuk haus ilmu, “lapar buku” dan kemudian perihal ini terlampau menunjang memahami dan menguasai peta geopolitik, geoekonomi, geososial, di seluruh dunia. Menjdi terlampau beralasan manakala mereka kemudian mereka tampil bukan sekedar sebagai pemimpin yang pawai berpidato, bakal tetapi termasuk memukau sebagai penulis aktif di bermacam media.

Karangan – karangan yang di tulis di umur muda hingga menjelang akhir hayat oleh Soekarna dan Hattanya, tentu saja terlampau mengagumkan, orisinilitas dan kekuatan pemikiran, kekayaan bahan pustaka, dan juga penguasaan tata dunia yang keluar pada karya-karya ke-2 tokoh tersebut. Tidak mengherankan kalau hasil karya-karya ke-2 tokoh berikut tersebar diberbagai sarana kemudian menjadi bahan rujukan kader-kader partai, kaum terpelajar, ahli-ahli asing, apalagi oleh lawan politik dan penjajahan sekalipun.
Selain lewat karya tulis, keduanya termasuk merupakan pembicara yang menonjol, lawan debat yang berkelas, dan seringkali tampil sebagai pemecah kebuntuan dengan kata lain pembawa jalan keluar (trouble shooter) pada rapat – rapat besar atau peristiwa-peristiwa penting.

Karya dan sepak terjang yang kelak meyakinkan posisi Soekarno di barisan terdepan pengerakan Nasional tak pelak lagi adalah Indonesia Menggugat, sedang Hatta adalah Indonesia Merdeka.
Indonesia menggugat adalah judul pidato pembelaan (pledoi) Bung Karno th. 1930 di depan sidang pengadilan kolonial Belanda di Bandung. Tanggal 29 desember 1929 ia dengan dengan tiga pemimpin Partai Nasional Indonesia (PNI) yakni Maskeon Sumadiredja Gatot Mangkuprodja, dan Soepriadinata, di tangkap dan dijebloskan ke penjara Sukamiskin, bandung dengan tuduhan menjadi otak penghasut pemberontakan pada pemerintahan kolonial.

Pidato berikut terlampau mengemparkan bukan cuma bagi kalangan pergerakan di Hindia-Belanda saja, malahan menimbulkan simpati dan pertolongan dari kalangan aktivis di negeri belanda maupun dunia internasional. Dengan pidato yang terang-terangan dan berani menyebut target PNI adalah Kemerdekaan Indonesia tersebut, Soekarno secara pasti mengukuhkan diri, sebagai tokoh sentral pergerakan nasional yang di segani lawan dan kawan. Ia segera menantang pasal-pasal hatzai artikelen (pasal yang digunakan pemerintah kolonial untuk membungkam tiap-tiap gerakan yang di pandang menggangu ketertiban umum) dan tidak bersembunyi pada tuduhan-tuduhan subversif yang dilancarkan oleh pemerintah kolonial.

Dalam pidatonya, Bung Karno dengan lugas, tegas, jelas, memaparkan kesengsaraan rakyat sejak zaman VOC menginjakan kaki di bumi Nusantara 1602 hingga dengan era Taman Paksa (culturstelsel) 1830-1870 dan politik pintu terbuka (mulai 1905). Ia menyakini, pada waktunya kelak indonesia bakal merdeka dan tidak satu kekuatan pun yang mampu menghalanginya. Ia tidak cuma meyakinkan diri sebagai pemimpin partai dengan komitmen non kooperasi (menolak kerjasama dengan pemerintahan penjajah) tanpa banding, bakal tetapi sekaligus membawa diri sebagai “penyambung lidah rakyat” dan pengemban amanat ibu pertiwi. Nama Sukarno pun segera berkibar di langit pergerakan Hindia-Belanda dan menjadi ancaman serius, nyata, dan paling mengkhawatirkan pemerintah belanda. Pidatonya yang terlampau berapi-api, mengobarkan-ngobarkan impuls nasionalisme, harga diri dan kejayaan bangsa di era silam (Majapahit dan Sriwijaya), dan juga di era depan (Indonesia yang besar, Jaya, adil, makmur dan mampu memberi sumbangan bagi peradaban dunia), merupakan magma baru di dalam lapangan pengerak. Pidato itu kelak direkomendasikan sebagai referensi wajib bagi kader-kader baru partai (tidak terbatas cuma kader PNI) yang telah membulatkan tekad, terjun ke kancah pergerakan melawan penjajah.
Tanpa bermaksud mengurangi makna dan makna pidato atau tulisan-tulisan Bung Karno lainnya, Indonesia menggugat mampu dinilai sebagai portofolio otentik, pertama, lugas, dan terang-benderang mengungkapkan sikap dan ketokohan Bung Karno. Berapa bagian dari pidato berikut dinukilkan di dalam bab tersebut. Intisari dari pidato itu memberi uraian bagaimana Bung Karno selama hayatnya bersikukuh melawan imperialisme (baik yang kuno Maupun modern), yang menghisap, menindas, meminggirkan kaum Bumiputra. Ia termasuk berkata tentang perlunya kemerdekaan sejati (berserikat,berkumpul, menyuarakakan pendapat, hak untuk meraih pendidikan, kesejahteraan yang layak, dan keadilan). Ia tak yakin kemerdekaan adalah pemberian, belaskasih, tetapi wajib di rebut. Soekarno yakin Indonesia yang merdeka dan berdaulat, bakal mampu dan mampu beri tambahan sumbangan bagi peradaban dan perdamaian dunia.
Di kemudian hari, pidato ini bakal menjadi referensi bagi para kader organisasi massa dan partai politik. Bahkan Bung Hatta termasuk mewajibkan kader PNI Baru (Pendidikan Nasional Indonesia) yang dipimpinnya sejak beliau pulang dari studi di belanda 1932, untuk mempelajari pidato Bung Karno ini.
Nun jauh di seberang, Hatta yang mulai memimpin Perhimpunan Indonesia sebuah organisasi kaum terpelajar Bumiputra di belanda sejak 1926, termasuk tampil di garis depan sebagai juru berkata dan aktivis pergerakan segera di negara penjajah bangsanya. Bung Hatta pun diperkarakan atas aktivitas dan tulisan-tulisannya yang dinilai merongsong kewibawaan dan kekuasaan kolonial.
Seperti Bung Karno, Bung Hatta pun nyiapkan naskah pembelaan yang disusunnya sendiri di penjara dan kemudian diberinya judul: Indonesia Vrij! (Indonesia Merdeka). Tulisan Bung Hatta yang disampaikan ke hakim pengadilan Den Haag, 9 Maret 1928 itu tidak kalah memukau dan meraih perhatian luas dari publik Belanda Sendiri maupun khalayak Internasional.
Kedua karya ke-2 pemimpin besar bangsa ini boleh disebut saling melengkapi dan saling meyakinkan permohonan rakyat untuk lepas dari belenggu penjajahan, dan penindasan di dalam segala bentuknya, dari dulu hingga akhir zaman.

Baca Juga :

Ilmuwan UI Raih Gelar Profesor Kehormatan dari Kazakhstan

Ilmuwan UI Raih Gelar Profesor Kehormatan dari Kazakhstan

Ilmuwan UI Raih Gelar Profesor Kehormatan dari Kazakhstan

Ilmuwan UI Raih Gelar Profesor Kehormatan dari Kazakhstan
Ilmuwan UI Raih Gelar Profesor Kehormatan dari Kazakhstan

Guru Besar Teknik Komputer Universitas Indonesia (UI)

yang juga merupakan seorang ilmuwan teknologi informasi, Riri Fitri Sari berhasil menerapkan teknologi informasi dan kampus hijau untuk memicu kemajuan pengelolaan pendidikan tinggi di dunia.

Atas kiprahnya, dia meraih gelar Profesor Kehormatan dengan rekognisi “Outstanding contribution to the excellence in Higher Education” dari Kazakh National Agrarian University (Kaznau), Almaty, Kazakhstan.

Penganugerahan Gelar Kehormatan tersebut diberikan langsung oleh Rektor Kaznau Kazakhstan Profesor Tlektes Yesparov di kampus Kaznau, Almaty. Salah satu upaya yang Riri Fitri Sari lakukan adalah menciptakan satu-satunya sistem pemeringkatan perguruan tinggi dunia–UI GreenMetric.

UI-GreenMetric didasarkan pada pengelolaan lingkungan hidup di kampus

. Kontribusi Riri pada penerapan UI GreenMetric sejak tahun 2010, telah menyedot perhatian pimpinan perguruan tinggi se-dunia.

“UI GreenMetric merupakan inovasi UI yang telah dikenal luas di dunia internasional sebagai pemeringkatan perguruan tinggi pertama di dunia berbasis komitmen tinggi dalam pengelolaan lingkungan hidup kampus. Dari tahun ke tahun selalu terjadi peningkatan antusiasme peserta perguruan tinggi di dunia untuk berpartisipasi sebagai kampus hijau,” kata Kepala Humas dan Kantor Informasi Publik UI Rifelly Dewi Astuti, Rabu (21/6).

Selain mengembangkan sistem perankingan UI GreenMetric, Riri juga telah berkecimpung dalam penerapan teknologi informasi dan komunikasi untuk memicu kemajuan dan pancapaian standar excellence yang lebih baik dalam pengelolaan pendidikan tinggi. Dia telah banyak berhubungan dengan para ‘rankologist’ (ahli pemeringkatan) dengan tujuan memajukan universitas di Indonesia dan dunia menuju Universitas berkelas dunia.

“Saya bangga dan berbahagia atas gelar Guru Besar Kehormatan

dari universitas nasional pertanian Kazakhstan ini, yang memertimbangkan hasil kerja keras untuk membangun dan mengkomunikasikan kondisi ideal kampus berkelanjutan yang diidamkam,” kata Riri.

Program Riri melalui UI GreenMetric melibatkan perguruan tinggi se-dunia untuk mengambil bagian pada upaya preventif dan kuratif dalam rangka mitigasi dampak perubahan iklim.

Sebelumnya, Kaznau telah memberikan penghargaan Profesor Kehormatan kepada para peneliti dan akademisi terkemuka) dunia, dan beberapa Rektor universitas seperti Istanbul, Azerbaijan, Australia, Malaysia dan juga President International Ranking Expert Group (IREG) dalam beberapa tahun terakhir.

 

Baca Juga :

 

 

Masih Banyak Bangku Kosong, Belum Semua Calon Siswa Baru Daftar Ulang

Masih Banyak Bangku Kosong, Belum Semua Calon Siswa Baru Daftar Ulang

Masih Banyak Bangku Kosong, Belum Semua Calon Siswa Baru Daftar Ulang

Masih Banyak Bangku Kosong, Belum Semua Calon Siswa Baru Daftar Ulang
Masih Banyak Bangku Kosong, Belum Semua Calon Siswa Baru Daftar Ulang

Pelaksanaan daftar ulang penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahap 2 sejatinya

berakhir Rabu (21/6). Namun, ternyata banyak calon siswa baru yang belum melakukan daftar ulang. Di beberapa SMPN, cukup banyak bangku yang masih kosong. Karena itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sidoarjo memperpanjang jadwal daftar ulang tahap 2 hingga hari ini.

Di SMPN 1 Sedati, misalnya. Hingga pukul 13.30 pada Rabu itu, ada 41 siswa yang belum daftar ulang. ”Ada 54 siswa yang diterima tahap 2 ini. Tapi, ada yang belum daftar ulang. Kami sudah tunggu lama,” ujar Kepala SMPN 1 Sedati Retno Untari.

Lantaran daftar ulang diperpanjang sampai hari ini, pihak sekolah tetap melayani jika ada yang daftar ulang sesuai instruksi dikbud. ”Semoga segera beres semua. Apalagi, ini sudah mau Lebaran,” imbuhnya.

Sekretaris Dikbud Sidoarjo Tirto Adi menyatakan, pihaknya terus menunggu laporan dari seluruh SMPN

. Hasil sementara, ada beberapa calon murid baru di sejumlah sekolah yang belum melakukan daftar ulang tahap 2. ”Belum 100 persen tuntas. Belum semua sekolah melapor ke dikbud,” katanya.

Menurut dia, dikbud menambah satu hari pelaksanaan daftar ulang tahap 2. Kebijakan itu dibuat lantaran ada keterlambatan pengumuman PPDB tahap 2 pada Senin (19/6). Sekolah yang memiliki calon murid baru yang belum melakukan daftar ulang diberi kesempatan hingga hari ini. Dia kembali meminta sekolah wajib aktif menghubungi calon murid bersangkutan. Pelaksanaan daftar ulang tahap 2 dibuka hingga pukul 13.30.

Sementara itu, sekolah yang tuntas daftar ulang tahap 2 segera diproses dikbud

untuk pembuatan surat keputusan (SK) tentang nama-nama murid yang resmi diterima. Tirto menjelaskan, pengumuman PPDB tahap 2 harus molor lantaran murni ada trouble dari pihak Telkom. Meski begitu, dikbud tetap berusaha agar proses PPDB tetap berlangsung baik. ”Alasannya, ya seperti yang saya sampaikan. Karena itu, kami beri tambahan waktu,” lanjutnya.

Hasil pengumuman PPDB tahap 2 kini dapat dilihat langsung di website https://sidoarjo.siap-ppdb.com/. Namun, berbeda dengan pengumuman PPDB tahap 1, pengumuman tahap 2 langsung berbentuk PDF. Beberapa pihak khawatir proses seleksi pengisian bangkus kosong itu dilakukan melalui offline, bukan online. Para pendaftar PPDB online tahap 1 pun tidak bisa melihat ranking nilai akhir (NA) masing-masing.

Namun, Tirto menegaskan, tidak ada rekayasa dalam seleksi pengisian bangku kosong untuk pengumuman PPDB tahap 2. Menurut dia, setiap siswa tetap bisa melihat rangking NA saat pendaftaran dengan menggunakan PIN masing-masing. ”Kami tetap transparan,” ucapnya.

 

Sumber :

How Some Informational Websites Helping People Garner Information at One Place?