Mengenal Tentang Budidaya Kunyit

Mengenal Tentang Budidaya Kunyit

Mengenal Tentang Budidaya Kunyit

Mengenal Tentang Budidaya Kunyit
Mengenal Tentang Budidaya Kunyit

Kunyit merupakan tanaman obat berupa semak dan bersifat tahunan (perenial) yang tersebar di seluruh daerah tropis. Tanaman kunyit tumbuh subur dan liar disekitar hutan/bekas kebun.

Tanaman kunyit, diperkirakan berasal dari Binar pada ketinggian 1300-1600 m dpl, ada juga yang mengatakan bahwa kunyit berasal dari India. Kata Curcuma berasal dari bahasa Arab Kurkum dan Yunani Karkom. Pada tahun 77-78 SM, Dioscorides menyebut tanaman ini sebagai Cyperus menyerupai jahe, tetapi pahit, kelat, dan sedikit pedas, tetapi tidak beracun.

Tanaman ini banyak dibudidayakan di Asia Selatan khususnya di India, Srilangka, Cina Selatan, Taiwan, Indonesia (Jawa Tengah), Haiti, Jamaika, dan Filipina.

Klasifikasi

  • Divisio : Spermatophyta.Sub-diviso : Angiospermae
  • Kelas : Monocotyledoneae
  • Ordo : Zingiberales
  • Famili : Zungiberaceae
  • Genus : Curcuma
  • Species : Curcuma domestica Val.

Deskripsi

Kunyit (Curcuma domestica Val.; turmeric) termasuk tumbuhan berbatang semu, tegak, bulat basah yang dibentuk dari pelepah daunmembentuk rimpang dengan warna hijau kekuningan dan tersusun dari pelepah daun (agak lunak).Tanaman kunyit tumbuh bercabang dengan tinggi 40-150 cm, berbunga majemuk, berambut dan bersisik dari pucuk batang semu, berwarna putih sampai kuning muda, panjang10-15 cm dengan mahkota sekitar 3 cm dan lebar 1,5 cm. Berdaun tunggal, berbentuk bulat telur (lanset), lebar, ujung dan pangkalnya runcing, tangkainya panjang, tepi daunnya rata, bertulang menyirip, panjangnya 10 – 40 cm, lebar 8 – 12,5 cm, dengan warna hijau pucat.

Tanaman menghasilkan rimpang berwarna kuning jingga, kuning jingga kemerahan sampai kuning jingga kecoklatan, daging buah merah jingga kekuning-kuningan. Rimpang terdiri dari rimpang induk dan anak rimpang, rimpang induk berbentuk bulat telur, disebut empu atau kunir lelaki. Anak rimpang letaknya lateral dan bentuknya seperti jari, panjang rimpang 2 – 10 cm, diameter 1 – 2 cm.

Selain jenis dan varietas yang jelas, bahan tanaman berasal dari rimpang yang sehat dari tanaman yang sehat berumur 11 – 12 bulan, untuk benih daunnya harus sudah mengering (masuk periode senescens). Hasil seleksi dan uji daya adaptasi diberbagai lingkungan tumbuh telah diperoleh 10 nomor harapan kunyit dengan potensi produksi masingmasing Cudo 21 (18 – 25 ton/ha), Cudo 38 (18 – 25 ton/ha) dan kadar kurkumin Cudo 21 (8,70 %), Cudo 38 (11 %) dan siap dilepas sebagai varietas unggul.

Jenis Tanaman

Jenis Curcuma domestica Val, C. domestica Rumph, C. longa Auct, u C. longa Linn, Amomum curcuma Murs. Ini merupakan jenis kunyit yang paling terkenal dari jenis kunyit lainnya.

Manfaat Tanaman

Di daerah Jawa, kunyit banyak digunakan sebagai ramuan jamu, kosmetik, bumbu masak, campuran makanan ternak, zat pewarna alami, atau campuran obat tradisionil, karena berkhasiat menyejukkan, membersihkan, mengeringkan, menghilangkan gatal, dan menyembuhkan kesemutan. Disamping itu rimpang tanaman kunyit itu juga bermanfaat sebagai anti inflamasi, anti oksidan, anti mikroba, pencegah kanker, anti tumor, antikoagulan, memperbaiki fungsi liver, dan menurunkan kadar lemak darah dan kolesterol, serta sebagai pembersih darah.

Dalam pengobatan tradisional kunyit digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi, penambah darah, rematik, gatal-gatal akibat gigitan serangga, obat cacing, obat asma, demam kuning, diare, meningkatkan nafsu makan,mengobati sakit perut, sembelit, dan menyegarkan badan.

Cara penggunakan untuk penyakit diatas ialah dengan cara menumbuk kunyit hingga halus, dicampur dengan air dan saring ampasnya dan diminum sekali sehari setelah makan. Kunyit juga banyak digunakan sebagai bahan dalam kosmetik. Menurut pengobatan Cina, kunyit dapat meningkatkan pengaliran qi dan melancarkan perjalanan darah.

Kunyit juga dijadikan pada perawatan setelah bersalin, dengan memakan rizom kunyit bersama nasi, selama 40 hari pasca melahirkan, untuk mengembalikan kesegaran badan dan menyembuhkan luka dalam.

Kunyit dan pegaga yang dimakan seminggu sebelum haid, dikatakan dapat menghilangkan masalah keputihan dan vagina yang terlalu berair dan dapat meningkatkan keintiman hubungan suami isteri. Kunyit juga dikatakan dapat menjadikan penggemarnya awet muda.

Kandungan

Kandungan utama di dalam rimpangnya terdiri dari minyak atsiri, kurkumin, resin, d.kamper, sikloiserin, oleoresin, mirsen, metil farbinol, desmetoksikurkumin, dan bidesmetoksikurkumin, damar, gom, lemak, protein, kalsium, fosfor dan besi. Zat warna kuning (kurkumin) dimanfaatkan sebagai pewarna untuk makanan manusia dan ternak. Kandungan kimia minyak atsiri kunyit terdiri dari ar-tumeron, α dan β-tumeron, tumerol, α-atlanton, β-kariofilen, linalol, dan 1,8 sineol.

Teknologi budidaya yang mengikuti anjuran, dengan mengacu kepada penerapan SPO yang tepat, produksi rimpang kunyit segar mencapai 11 ton/ha, dengan kadar kurkumin 8 –11%.

Syarat Pertumbuhan

Iklim.

–          Tanaman kunyit dapat tumbuh baik pada daerah yang memiliki intensitas cahaya penuh atau sedang, sehingga tanaman ini sangat baik jika hidup di tempat-tempat yang terbuka atau sedikit naungan.

–          Pertumbuhan terbaik dicapai pada daerah yang memiliki curah hujan 1000-4000 mm/tahun. Bila ditanam di daerah curah hujan < 1000 mm/tahun, maka sistem pengairan harus diusahakan cukup dan tertata baik. Tanaman ini dapat dibudidayakan sepanjang tahun. Pertumbuhan yang paling baik adalah pada awal musim hujan.

–          Suhu udara yang optimum bagi tanaman ini antara 19-30°C.

Media Tanam 

–          Kunyit tumbuh subur pada tanah yang gembur, pada tanah yang dicangkul dengan baik, sehingga akan menghasilkan umbi yang berlimpah.

–          Jenis tanah yang diinginkan adalah tanah ringan dengan bahan organik tinggi, tanah lempung berpasir yang terbebas dari genangan air/sedikit basa.

Ketinggian Tempat 

–          Kunyit tumbuh baik di dataran rendah (mulai < 240 m dpl) sampai dataran tinggi (> 2000 m dpl). Produksi optimal + 12 ton/ha dicapai pada ketinggian 45 m dpl.

Pedoman Budidaya

  1. Pembibitan

Persyaratan Bibit :

Bahan tanaman harus tepat dan jelas nama jenis, varietas dan asal usulnya. Bibit kunyit yang baik berasal dari pemecahan rimpang, karena lebih mudah tumbuh. Syarat bibit yang baik adalah jika berasal dari tanaman yang tumbuh subur, segar, sehat, berdaun banyak dan hijau, kokoh, terhindar dari serangan penyakit; cukup umur/berasal dari rimpang yang telah berumur > 7-12 bulan; bentuk, ukuran, dan warna seragam; memiliki kadar air cukup; benih telah mengalami masa istirahat (dormansi) cukup; terhindar dari bahan asing (biji tanaman lain, kulit, kerikil).

Penyiapan Bibit :

Rimpang bahan bibit dipotong agar diperoleh ukuran dan berat yang seragam serta untuk memperkirakan banyaknya mata tunas/rimpang. Bekas potongan ditutup dengan abu dapur/sekam atau merendam rimpang yang dipotong dengan larutan fungisida (benlate dan agrymicin) guna menghindari tumbuhnya jamur. Satu rimpang induk, dipotong menjadi empat bagian secara membujur. Tiap potongan rimpang maksimum memiliki 1-3 mata tunas, dengan berat antara 15 – 30 gram dan panjang 3-7 cm.

Teknik Penyemaian Bibit :

Pertumbuhan tunas rimpang kunyit dapat dirangsang dengan cara mengangin-anginkan rimpang di tempat teduh atau lembab selama 1-1,5 bulan, dengan penyiraman 2 kali sehari (pagi dan sore hari). Bibit tumbuh baik bila disimpan dalam suhu kamar (25-28°C). Selain itu menempatkan rimpang diantara jerami pada suhu udara sekitar 25-28°C. dan merendam bibit pada larutan ZPT (zat pengatur tumbuh) selama 3 jam. ZPT yang sering digunakan adalah larutan atonik (1 cc/1,5 liter air) dan larutan G-3 (500-700 ppm).

Rimpang yang akan direndam larutan ZPT harus dikeringkan dahulu selama 42 jam pada suhu udara 35°C. Jumlah anakan atau berat rimpang dapat ditingkatkan dengan jalan direndam pada larutan pakloburazol sebanyak 250 ppm.

Pemindahan Bibit :

Bibit yang telah siap lalu ditempatkan pada persemaian, dimana pada rimpang akan muncul tunas, bila tanaman telah berumur 1-1,5 bulan. Setelah tunas tumbuh 2-3 cm, maka rimpang sudah dapat ditanam di lahan. Pemindahan bibit yang telah bertunas harus dilakukan secara hati-hati, agar tunas yang telah tumbuh tidak rusak.

Bila ada tunas/akar bibit yang saling terkait maka akar tersebut dipisahkan dengan hati-hati lalu letakkan bibit dalam wadah tertentu untuk memudahkan pengangkutan bibit ke lokasi lahan. Jika jarak antara tempat pembibitan dengan lahan jauh, maka bibit perlu dilindungi agar tetap lembab dan segar ketika tiba di lokasi. Selama pengangkutan, bibit yang telah bertunas jangan ditumpuk.

  1. Media Tanam

Pengolahan Media Tanam

Persiapan Lahan :

Lokasi penanaman dapat berupa lahan tegalan, perkebunan atau pekarangan. Penyiapan lahan untuk kebun kunyit sebaiknya dilakukan 30 hari sebelum tanam. Kunyit tumbuh baik pada tanah Latosol, Aluvial, dan Regosol, ketinggian tempat 240 – 1.200 m di atas permukaan laut, curah hujan 2.000–4.000 ml/ tahun, di bawah tegakan tanaman keras seperti sengon dan jati yang masih muda (umur 3–4 tahun) dengan tingkat naungan tidak lebih dari 30%.

Pembukaan Lahan :

Lahan yang akan ditanami dibersihkan dari gulma dan dicangkul secara manual atau menggunakan alat mekanik guna menggemburkan lapisan top soil dan sub soil, sekaligus mengembalikan kesuburan tanah. Tanah dicangkul pada kedalaman 20-30 cm, dengan ukuran 30 x 30 cm, kemudian diistirahatkan selama 1-2 minggu agar gas-gas beracun yang ada dalam tanah menguap dan bibit penyakit/hama yang ada mati karena terkena sinar matahari.

Jarak tanam sistem monokultur adalah: 50 cm x 40 cm, 50 cm x 50 cm, 40 cm x 40 cm atau 50 cm x 60 cm, pola tumpang sari dengan tanaman sisipan kacang tanah atau cabai rawit yang ditanam bersamaan.

Pembentukan Bedengan :

Lahan kemudian dibedeng dengan lebar 60-100 cm dan tinggi 25-45 cm dengan jarak antar bedengan 30-50 cm.

Pemupukan (sebelum tanam) :

Untuk mempertahankan kegemburan tanah, meningkatkan unsur hara dalam tanah, drainase, dan aerasi yang lancar, dilakukan dengan.menaburkan pupuk dasar (pupuk kandang) ke dalam lahan/dalam lubang tanam dan dibiarkan 1 minggu. Tiap lubang tanam membutuhkan pupuk kandang 2,5-3 kg atau 10–20 t/ha.

  1. Penanaman

Teknik Penanaman :

Kebutuhan bibit kunyit/hektar lahan adalah 0,50-0,65 ton. Maka diharapkan akan diperoleh produksi rimpang sebesar 20-30 ton/ha.

Penentuan Pola Tanaman :

Bibit kunyit yang telah disiapkan kemudian ditanam ke dalam lubang berukuran 5-10 cm dengan arah mata tunas menghadap ke atas. Tanaman kunyit ditanam dengan dua pola, yaitu penanaman di awal musim hujan dengan pemanenan di awal musim kemarau (7-8 bulan) atau penanaman di awal musim hujan dan pemanenan dilakukan dengan dua kali musim kemarau (12-18 bulan). Kedua pola tersebut dilakukan pada masa tanam yang sama, yaitu pada awal musim penghujan. Perbedaannya hanya terletak pada masa panennya.

Pembuatan Lubang Tanam :

Lubang tanam dibuat di atas bedengan/petakan dengan ukuran lubang 30 x 30 cm dengan kedalaman 60 cm. Jarak antara lubang adalah 60 x 60 cm.

Cara Penanaman :

Teknik penanaman dengan perlakuan stek rimpang dalam nitro aromatik sebanyak 1 ml/liter pada media yang diberi mulsa ternyata berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan vegetatif kunyit, sedangkan penggunaan zat pengatur tumbuh IBA (indolebutyric acid) sebanyak 200 mg/liter pada media yang sama berpengaruh nyata terhadap pembentukan rimpang kunyit.

Masa Tanam :

Masa tanam kunyit yaitu pada awal musim hujan sama seperti tanaman rimpang-rimpangan lainnya. Hal ini dimungkinkan karena tanaman muda akan membutuhkan air cukup banyak untuk pertumbuhannya. Walaupun rimpang tanaman ini nantinya dipanen muda yaitu 7 – 8 bulan, tetapi pertanaman selanjutnya tetap diusahakan awal musim hujan.

  1. Pemeliharaan

Penyulaman :

Apabila ada rimpang kunyit yang tidak tumbuh atau pertumbuhannya buruk, maka dilakukan penanaman susulan (penyulaman) rimpang lain yang masih segar dan sehat.

Penyiangan :

Penyiangan dan pembubunan perlu dilakukan untuk menghilangkan rumput liar (gulma) yang mengganggu penyerapan air, unsur hara dan mengganggu perkembangan tanaman. Kegiatan ini dilakukan 3-5 kali bersamaan dengan pemupukan dan penggemburan tanah. Penyiangan pertama dilakukan pada saat tanaman berumur ½ bulan dan bersamaan dengan ini maka dilakukan pembubunan guna merangsang rimpang agar tumbuh besar dan tanah tetap gembur.

Pembubunan :

Seperti halnya tanaman rimpang lainnya, pada kunyit pekerjaan pembubunan ini diperlukan untuk menimbun kembali daerah perakaran dengan tanah yang melorot terbawa air. Pembubunan bermanfaat untuk memberikan kondisi media sekitar perakaran yang lebih baik, sehingga rimpang akan tumbuh subur dan bercabang banyak. Pembubunan biasanya dilakukan setelah kegiatan penyiangan, untuk memperbarui saluran drainase pemisah petak; tanah dinaikkan ke petak-petak tanamdan biasanya dilakukan secara rutin setiap 3 – 4 bulan sekali.

  1. Pemupukan:

Pemupukan Organik :

Penggunaan pupuk kandang dapat meningkatkan jumlah anakan, jumlah daun, dan luas area daun kunyit secara nyata. Kombinasi pupuk kandang sebanyak 45 ton/ha dengan populasi kunyit 160.000/ha menghasilkan produksi sebanyak 29,93 ton/ha.

Pemupukan Konvensional :

Selain pupuk dasar (pada awal penanaman), tanaman kunyit perlu diberi pupuk susulan kedua (pada saat tanaman berumur 2-4 bulan). Pupuk dasar yang digunakan adalah pupuk organik 15-20 ton/ha. Pemupukan tahap kedua digunakan pupuk kandang dan pupuk buatan (urea 20 gram/pohon; TSP 10 gram/pohon; dan ZK 10 gram/pohon), serta K2O (112 kg/ha) pada tanaman yang berumur 4 bulan.

Dengan pemberian pupuk ini diperoleh peningkatan hasil sebanyak 38% atau 7,5 ton rimpang segar/ha. Pemupukan juga dilakukan dengan pupuk nitrogen (60 kg/ha), P2O5 (50 kg/ha), dan K2O (75 kg/ha). Pupuk P diberikan pada awal tanam, pupuk N dan K diberikan pada awal tanam (1/3 dosis) dan sisanya (2/3 dosis) diberikan pada saat tanaman berumur 2 bulan dan 4 bulan. Pupuk diberikan dengan ditebarkan secara merata di sekitar tanaman atau dalam bentuk alur dan ditanam di sela-sela tanaman.

Sebagai alternatif, dapat pupuk urea, SP-36 dan KCl dengan takaran masing-masing 100 kg, 200 kg dan 200 kg/ha. Pupuk SP-36 dan KCl diberikan sekaligus pada saat tanam dan urea diberikan dua kali pada umur 1 dan 3 bulan setelah tanaman tumbuh.

Pengairan dan Penyiraman :

Tanaman kunyit termasuk tanaman tidak tahan air. Oleh sebab itu drainase dan pengaturan pengairan perlu dilakukan secermat mungkin, agar tanaman terbebas dari genangan air sehingga rimpang tidak.membusuk. Perbaikan drainase baik untuk melancarkan dan mengatur aliran air serta sebagai penyimpan air di saat musim kemarau.

Waktu Penyemprotan Pestisida :

Penyemprotan pestisida dilakukan jika telah timbul gejala serangan hama penyakit.

Pemulsaan :

Sedapat mungkin pemulsaan dengan jerami dilakukan diawal tanam untuk menghindari kekeringan tanah, kerusakan struktur tanah (menjadi tidak gembur/padat) dan mencegah tumbuhnya gulma secara berlebihan. Jerami dihamparkan merata menutupi permukaan tanah di antara lubang tanaman.

  1. Hama dan Penyakit

Hama, Ulat penggerek akar (Dichcrosis puntifera)

Gejala : pada pangkal akar dimana tunas daun menjadi layu dan lama kelamaan tunas menjadi kering lalu membusuk. Pengendalian: tanaman disemprot/ditaburkan insektisida furadan G-3.

Penyakit

  1. Busuk bakteri rimpang

Penyebab : oleh kurang baik sistem pengairan (drainase) atau disebabkan oleh rimpang yang terluka akibat alat-alat pertanian, sehingga luka rimpang kemasukan cendawan.

Gejala: kulit akar tanaman menjadi keriput dan mengelupas, kemudian rimpang lama kelamaan membusuk dan keropos.

Pengendalian: mencegah terjadi genangan air pada lahan, mencegah terlukanya rimpang; penyemprotan fungisida dithane M-45.

  1. Karat daun kunyit

Penyebab : Taphrina macullans Bult dan Colletothrium capisici atau oleh kutu daun yang disebut Panchaetothrips.

Gejala: timbulnya warna coklat (karat) pada helaian daun; bila penyakit ini menyerang tanaman dewasa/daun yang tua maka tidak akan.mempengaruhi produksinya sebaliknya jika menyerang tanaman/daun muda, menyebabkan tanaman tersebut menjadi mati.

Pengendalian: Dilakukan dengan mengurangi kelembaban;Penyemprotan insektisida, seperti dengan agrotion 2 cc/liter atau dengan fungisida dithane M-45 secara teratur selama seminggu sekali

Gulma : Gulma potensial pada pertanaman kunyit ini adalah gulma kebun yang umum yaitu alang-alang, rumput teki, rumput lulangan, ageratum, dan gulma berdaun lebar lainnya.

Pengendalian hama/penyakit secara organik :

Dalam pertanian organik yang tidak menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya melainkan dengan bahan-bahan yang ramah lingkungan biasanya dilakukan secara terpadu sejak awal pertanaman untuk menghindari serangan hama dan penyakit tersebut yang dikenal dengan PHT (Pengendalian Hama Terpadu) yang komponennya adalah sbb:

–          Mengusahakan pertumbuhan tanaman yang sehat yaitu memilih bibit unggul yang sehat bebas dari hama dan penyakit serta tahan terhadap serangan hama dari sejak awal pertanaman

–          Memanfaatkan semaksimal mungkin musuh-musuh alami

–          Menggunakan varietas-varietas unggul yang tahan terhadap serangan hama dan penyakit.

–          Menggunakan pengendalian fisik/mekanik yaitu dengan tenaga manusia.

–          Menggunakan teknik-teknik budidaya yang baik misalnya budidaya tumpang sari dengan pemilihan tanaman yang saling menunjang, serta rotasi tanaman pada setiap masa tanamnya untuk memutuskan siklus penyebaran hama dan penyakit potensial.

–          Penggunaan pestisida, insektisida, herbisida alami yang ramah lingkungan dan tidak menimbulkan residu toksik baik pada bahan tanaman yang dipanen ma maupun pada tanah. Disamping itu penggunaan bahan ini hanya dalam keadaan darurat berdasarkan aras kerusakan ekonomi yang diperoleh dari hasil pengamatan.

Beberapa tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati dan digunakan dalam pengendalian hama antara lain adalah:

–          Tembakau (Nicotiana tabacum ), yang mengandung nikotin untuk insektisida kontak sebagai fumigan atau racun perut. Aplikasi untuk serangga kecil misalnya Aphids.

–          Piretrum (Chrysanthemum cinerariaefolium), yang mengandung piretrin yang dapat digunakan sebagai insektisida sistemik yang menyerang urat syaraf pusat yang aplikasinya dengan semprotan. Aplikasi pada serangga seperti lalat rumah, nyamuk, kutu, hama gudang, dan lalat buah.

–          Tuba (Derris elliptica dan Derris malaccensis), yang mengandung rotenone untuk insektisida kontak yang diformulasikan dalam bentuk hembusan dan semprotan.

–          Neem tree atau mimba (Azadirachta indica), yang mengandung azadirachtin yang bekerjanya cukup selektif. Aplikasi racun ini terutama pada serangga penghisap seperti wereng dan serangga pengunyah seperti hama penggulung daun (Cnaphalocrocis medinalis). Bahan ini juga efektif untuk menanggulangi serangan virus RSV, GSV dan Tungro.

–          Bengkuang (Pachyrrhizus erosus), yang bijinya mengandung rotenoid yaitu pakhirizida yang dapat digunakan sebagai insektisida dan larvasida.

–          Jeringau (Acorus calamus), yang rimpangnya mengandung komponen utama asaron dan biasanya digunakan untuk racun serangga danpembasmi cendawan, serta hama gudang Callosobrocus.

  1. Panen
  1. Ciri dan Umur Panen : Tanaman kunyit siap dipanen pada umur 8-18 bulan, saat panen yang terbaik adalah pada umur tanaman 11-12 bulan, yaitu pada saat gugurnya daun kedua. Saat itu produksi yang diperoleh lebih besar dan lebih banyak bila dibandingkan dengan masa panen pada umur kunyit 7-8 bulan. Ciri-ciri tanaman kunyit yang siap panen ditandai dengan berakhirnya pertumbuhan vegetatif, seperti terjadi kelayuan/perubahan warna daun dan batang yang semula hijau berubah menjadi kuning (tanaman kelihatan mati).
  2. Cara Panen : Pemanenan dilakukan dengan cara membongkar rimpang dengan cangkul/garpu. Sebelum dibongkar, batang dan daun dibuang terlebih dahulu. Selanjutnya rimpang yang telah dibongkar dipisahkan dari tanah yang melekat lalu dimasukkan dalam karung agar tidak rusak.
  3. Periode Panen : Panen kunyit dilakukan dimusim kemarau karena pada saat itu sari/zat yang terkandung didalamnya mengumpul. Selain itu kandungan air dalam rimpang sudah sedikit sehingga memudahkan proses pengeringannya.
  4. Perkiraan Hasil Panen : Berat basah rimpang bersih/rumpun yang diperoleh dari hasil panen mencapai 0,71 kg. Produksi rimpang segar/ha biasanya antara 20-30 ton.
  1. Pasca Panen
  1. Penyortiran Basah dan Pencucian : Sortasi pada bahan segar dilakukan untuk memisahkan rimpang dari kotoran berupa tanah, sisa tanaman, dan gulma. Setelah selesai, timbang jumlah bahan hasil penyortiran dan tempatkan dalam wadah plastik untuk pencucian. Pencucian dilakukan dengan air bersih, jika perlu disemprot dengan air bertekanan tinggi. Amati air bilasannya dan jika masih terlihat kotor lakukan pembilasan sekali atau dua kali lagi. Hindari pencucian yang terlalu lama agar
    kualitas dan senyawa aktif yang terkandung didalam tidak larut dalam air. Pemakaian air sungai harus dihindari karena dikhawatirkan telah tercemar kotoran dan banyak mengandung bakteri/penyakit.Setelah pencucian selesai, tiriskan dalam tray/wadah yang belubang-lubang agar sisa air cucian yang tertinggal dapat dipisahkan, setelah itu tempatkan dalam wadah plastik/ember.
  2. Perajangan : Jika perlu proses perajangan, lakukan dengan pisau stainless steel dan alasi bahan yang akan dirajang dengan talenan. Perajangan rimpang dilakukan melintang dengan ketebalan kira-kira 5 mm – 7 mm. Setelah perajangan, timbang hasilnya dan taruh dalam wadah plastik/ember. Perajangan dapat dilakukan secara manual atau dengan mesin pemotong.
  3. Pengeringan : Pengeringan dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan sinar matahari atau alat pemanas/oven. pengeringan rimpang dilakukan selama 3 – 5 hari, atau setelah kadar airnya dibawah 8%. pengeringan dengan sinar matahari dilakukan diatas tikar atau rangka pengering, pastikan rimpang tidak saling menumpuk. Selama pengeringan harus dibolak-balik kira-kira setiap 4 jam sekali agar pengeringan merata.Lindungi rimpang tersebut dari air, udara yang lembab dan dari bahan-bahan disekitarnya yang bisa mengkontaminasi. Pengeringan di dalam oven dilakukan pada suhu 50 o C – 60 o C. Rimpang yang akan dikeringkan ditaruh di atas tray oven dan pastikan bahwa rimpang tidak saling menumpuk. Setelah pengeringan, timbang jumlah rimpang yang dihasilkan
  4. Penyortiran Kering : Selanjutnya lakukan sortasi kering pada bahan yang telah dikeringkan dengan cara memisahkan bahan-bahan dari benda-benda asing seperti kerikil, tanah atau kotoran-kotoran lain. Timbang jumlah rimpang hasil penyortiran ini
    (untuk menghitung rendemennya).
  5. Pengemasan : Setelah bersih, rimpang yang kering dikumpulkan dalam wadah kantong plastik atau karung yang bersih dan kedap udara (belum pernah dipakai sebelumnya). Berikan label yang jelas pada wadah tersebut, yang.menjelaskan nama bahan, bagian dari tanaman bahan itu, nomor/kode produksi, nama/alamat penghasil, berat bersih dan metode penyimpanannya.
  6. Penyimpanan : Kondisi gudang harus dijaga agar tidak lembab dan suhu tidak melebihi 30 o C dan gudang harus memiliki ventilasi baik dan lancar, tidak bocor, terhindar dari kontaminasi bahan lain yang menurunkan kualitas bahan yang bersangkutan, memiliki penerangan yang cukup (hindari dari sinar matahari langsung), serta bersih dan terbebas dari hama gudang.

Gambaran Peluang Agribisnis

Dewasa ini rata-rata kebutuhan bahan baku kunyit untuk industri kosmetik/jamu tradisional yang ada di Indonesia antara 1,5-6 ton/bulan. Tingkat kebutuhan pasar dari tahun ke tahun semakin meningkat dengan persentase peningkatan 10-25% per tahunnya.

Kebutuhan akan lebih tinggi pada saat menjelang hari-hari besar/hari raya. Permintaan kebutuhan industri di atas, sebagian besar berasal dari pasokan para petani. Melihat dari kebutuhan rata-.rata industri jamu dan kosmetik yang ada di dalam negeri, suplai dan permintaan terhadap kunyit tidak seimbang, apalagi memenuhi permintaan pasar luar negeri.

Sementara kebutuhan kunyit dunia hingga saat ini mencapai ratusan ribu ton/tahun. Sebagian kecil dari jumlah tersebut dipenuhi oleh negara India, Haiti, Srilanka, Cina, dan negara-negara lainnya. Indonesia kini sudah selayaknya membudidayakan tanaman ini, terutama dengan sistem monokultur/tumpang sari sehingga produksi yang dicapai lebih cepat dan tinggi, agar kebutuhan minimal dalam negeri terpenuhi secara optimal.

Walaupun di daerah Jawa Tengah kini sudah diupayakan sistem penanaman tersebut, juga diperhitungkan dari sudut produktivitas dan jalur tata niaganya, namun luas lahan tanam yang ada belum maksimal untuk memenuhi kebutuhan pasar luar negeri, yang mencapai ratusan ribu ton/ha-nya. Indonesia sebenarnya mulai mengekspor kunyit.

Negara tujuan ekspor antara lain Asia (Malaysia, Singapura, Hongkong, Taiwan, dan Jepang), Amerika, dan Eropa (Jerman Barat dan Belanda). Pada tahun 1987, nilai ekspor tanaman kunyit Indonesia menyumbangkan devisa yang besar bagi negara. Namun pada tahun berikutnya jumlah ekspor tersebut mulai mengalami penurunan dan sempat terhenti pada tahun 1989.

Negara India, Cina, Haiti, Srilanka, dan Jamaika kini mulai membudidayakan tanaman kunyit secara besar-besaran dan mereka sudah dapat mengestimasikan produksinya hingga +20 ton/ha. Dari segi jalur tata niaga, kunyit tergolong efisien, karena dari petani langsung disalurkan ke pedagang pengumpul, lalu ke pabrik/pedagang besar. Maka harga yang diterima petani mencapai 70% dari harga tingkat pabrik, dimana 30% merupakan marjin tata niaga yang terdiri atas 12% marjin biaya dan 18% merupakan marjin keuntungan.

Berdasarkan kondisi ini, tata niaga kunyit sebenarnya bisa ditingkatkan lagi, karena marjin terbesar berada pada keuntungan pedagang. Peluang agribisnis kunyit di Indonesia dapat dikembangkan. Kenyataan ini dilandaskan pada tingkat produktivitas, jalur tata niaga, dan kebutuhan kunyit dari berbagai industri yang membutuhkannya.

Klasifikasi dan Standar Mutu : Standard mutu temulawak untuk pasaran luar negeri perlu dicantumkan dan diperhatikan hal-hal sebagai berikut ini:

–          Warna : kuning-jingga sampai coklat kuning-jingga

–          Aroma : khas wangi aromatis

–          Rasa : mirip rempah dan agak pahit.

–          Kadar air maksimum : 12 %

–          Kadar abu : 3-7 %

–          Kadar pasir (kotoran) : 1 %

–          Kadar minyak atsiri (minimal) : 5 %

Pengambilan Contoh : Dari jumlah kemasan dalam satu partai temulawak siap ekspor, diambil sejumlah kemasan secara acak seperti dibawah ini, dengan maksimum berat tiap partai 20 ton.

–          Untuk jumlah kemasan dalam partai 1–100, contoh yang diambil 5.

–          Untuk jumlah kemasan dalam partai 101–300, contoh yang diambil 7

–          Untuk jumlah kemasan dalam partai 301–500, contoh yang diambil 9

–          Untuk jumlah kemasan dalam partai 501-1000, contoh yang diambil 10

–          Untuk jumlah kemasan dalam partai di atas 1000, contoh yang diambil minimum 15

–          Kemasan yang telah diambil, dituangkan isinya, kemudian diambil secara acak sebanyak 10 rimpang dari tiap kemasan sebagai contoh.

–          Khusus untuk kemasan temulawak berat 20 kg atau kurang, maka contoh yang diambil sebanyak 5 rimpang.

–          Contoh yang telah diambil kemudian diuji untuk ditentukan mutunya.

–          Petugas pengambil contoh harus memenuhi syarat yaitu orang yang telah berpengalaman atau dilatih terlebih dahulu dan mempunyai ikatan dengan suatu badan hukum.

Pengemasan : Kunyit disajikan dalam bentuk rimpang utuh, dikemas dengan jala plastik yang kuat, dengan berat maksimum 15 kg tiap kemasan, atau dikemas dengan keranjang bambu dengan berat sesuai kesepakatan anatara penjual dan pembeli. Dibagian luar dari tiap kemasan ditulis, dengan bahan yang tidak luntur, jelas terbaca antara lain:

–          Produk asal Indonesia

–          Nama/kode perusahaan/eksportir

–          Nama barang

–          Negara tujuan

–          Berat kotor

–          Berat bersih

–          Nama pembeli

 

Baca Artikel Lainnya:

Panduan Lengkap Menyemai Biji Tanaman

Panduan Lengkap Menyemai Biji Tanaman

Sebenarnya tersedia banyak langkah yang dapat anda jalankan untuk memperbanyak tanaman. Contohnya Batang, umbi, atau daun tanaman dapat disemaikan dan jadilah tanaman baru. Cara perbanyakan ini disebut setek. Namun tersedia terhitung dengan langkah cangkok, okulasi, sambung, dan penanaman biji.

Dalam pembelajaran ini saya mengharapkan anda dapat mengetahui langkah perbanyakan dengan biji dapat berhasildengan baik, namun untuk itu tersedia sebagian perihal yang perlu anda perhatikan. Mulai dari penentuan biji untuk benih, langkah penyemaian benih, dan hal-hal lain sebagai kunci utama kesuksesan. Jenis tanaman yang dapat anda perbanyak tersedia banyak sekali.

Masing-masing tanaman mempunyai keunikan didalam penyemaian bijinya. Namun saya cuma dapat mengemukakan dari sebagian style saja dan sisanya dapat anda kembangkan.

Rangkuman ini dihimpun dan saya harap dapat mewakili dari sebagian kelompok tanaman yang dapat di perbanyak. Yaitu, perbanyakan tanaman pangan, tanaman sayur, tanaman buah, dan tanaman hias. Juga disajikan langkah penyemaian biji untuk keperluan batang bawah. Dalam perbanyakan dengan okulasi dan sambung, batang bawah amat dibutuhkan untuk disambung dengan batang atas.

Dengan langkah sambung ini akan dihasilkan tanaman baru yang unggul. Sebenarnya jauh dari kata sempurna saya menulis ini, namun saya harap peningkatan pendapatan pertanian anda makin lama meningkat dengan terdapatnya pembelajaran ini. Saya ucapkan selamat belajar.

Selengkapnya : https://www.lele.co.id/

Ikan Kembung Menjadi Salah Satu Komoditas Penting Ikan di Indonesia

Ikan Kembung Menjadi Salah Satu Komoditas Penting Ikan di Indonesia – Ikan kembung atau dikenal menggunakan nama ilmiah Rastrelliger spp adalah spesies ikan komoditas pelagis mini menggunakan populasi yg terbanyak dan hayati hampir di seluruh wilayah perairan Indonesia. Oleh karena itu ikan kembung sangat gampang didapat pada pasaran dengan harga yg nisbi terjangkau & banyak dikonsumsi oleh sebagian masyarakat Indonesia.

Ikan kembung merupakan grup scombridae yaitu ikan pelagis tetapi termasuk ikan pelagis yang ukuran mini dibanding dengan tuna ataupun cakalang. Bentuk tubuh ikan kembung memanjang, sedikit kompres, dengan rona tubuh & perut keperakan. Ikan kembung dapat mencapai panjang 30 cm, tetapi umumnya 15-20 centimeter. Ikan kembung berwarna biru kehijauan permukaan, putih perak bagian bawah, totol-totol hitam pada bagian punggung (diatas garis rusuk). Sirip punggung pertama kuning keabuan, dengan pinggiran gelap. Sirip dada, perut kuning maya-maya, sedikit gelap & lain-lain sirip kekuningan.

Ikan kembung termasuk ikan pemakan plankton halus dan habitatnya mendekati pantai serta membentuk grup besar . Ikan kembung adalah spesies epipelagic & neritic yaitu ikan yg hayati dalam bagian atas laut, bergerombol dan menyukai daerah dengan suhu permukaan minimum 17 °C, suhu optimum antara 20 °C – 30 °C. Daerah penyebaran ikan kembung di Indonesia mencakup pantai Indonesia menggunakan jumlah tangkapan terbesar pada Kalimantan, Sumatera Barat, Laut Jawa, Selat Malaka, Muna-Buton, & Arafuru.

Saat ini, terdapat dua spesies berdasarkan genus Rastrelliger yang dikenal & memiliki persebaran yang relatif luas, yaitu Rastrelliger brachysoma atau nama lokalnya ikan kembung betina & Rastrelliger kanagurta atau nama lokalnya yaitu ikan kembung jantan. Di Indonesia spesies ikan kembung yg banyak dijumpai yaitu Rastrelliger brachysoma menggunakan volume produksi pada tahun 2011 sebanyak 291.863 ton. Sehingga ikan kembung jenis ini telah menduduki peringkat tiga menurut komoditas ikan bahari menggunakan volume produksi tertinggi sesudah ikan layang dan ikan cakalang. Sedangkan volume produksi ikan kembung jenis Rastrelliger kanagurta hanya mencapai 19.688 ton.

Apa perbedaan ikan kembung betina dan ikan kembung jantan?
Kembung jantan, Rastrelliger kanagurta (Scombridae); hidup diperairan pantai, lepas pantai, bergerombol akbar, pemakan plankton kasar, dapat mencapai panjang 35 centimeter, umumnya 20-25 centimeter. Tergolong ikan pelagis kecil, penangkapan dengan purse seine, jaring insang lingkar, jala lompo & sejenisnya, sero, dipasarkan pada bentuk segar, asin 1/2 kemarau (peda), harga relatif mahal. Daerah penyebaran; hampir masih ada diseluruh perairan Indonesia, Kalbar, Kalsel, Laut Jawa, Selat Malaka, Sulsel, Arafuru, Teluk Siam, Philipinna.

Kembang betina, Rastrelliger brachysoma (Scombridae); hayati lebih mendekati pantai, membangun grup besar , pemakan plankton halus, dapat mencapai panjang 30 centimeter, umumnya 15-20 centimeter. Tergolong ikan pelagis kecil, penangkapan menggunakan sero, jala lompo dan sejenisnya, kadang-kadang masuk trawl, jaring insang lingkar, purse seine, dipasarkan pada bentuk segar, asin setengah kering (peda), harga relatif mahal. Daerah penyebaran; perairan pantai Indonesia terutama Kalimantan, Sumbar, Laut Jawa, Selat Malaka, Sulsel, Muna-Buton, Arafuru, Teluk Siam, Philipinna.

Ikan kembung mengandung beberapa jenis senyawa kimia, diantaranya yg mayoritas yaitu air, protein, lemak dan mineral. Senyawa kimia yang bernilai gizi yaitu protein, lemak dan mineral sedangkan air adalah penyusun terbesar yang kurang mempunyai nilai gizi. Selain senyawa bergizi tadi, ikan mengandung vitamin yang mempunyai nilai gizi yg relatif berarti. Komposisi & nilai gizi ikan kembung yaitu pada 100 gr daging mengandung energi sebanyak 103 kilokalori, protein 22 gram, lemak 1 gram, kalsium 20 miligram, fosfor 200 miligram, dan zat besi 1 miligram. Selain itu pada dalam daging ikan kembung jua terkandung vitamin A sebanyak 9.00 RE & vitamin B1 0,05 miligram.

Sumber : faunadanflora.com/

Cara menanam tomat dalam polybag

Cara menanam tomat dalam polybag

Cara menanam tomat dalam polybag

Tomat dikategorikan sebagai sayuran, meskipun mempunyai susunan buah. Tanaman ini dapat tumbuh baik didataran rendah maupun tinggi jadi berasal dari 0-1500 mtr. dpl, terkait berasal dari varietasnya. Tanaman tomat menghendaki tanah yang subur dan gembur, bersama pH kurang lebih 5,5-7.

Cara menanam tomat dalam polybag

Di alam bebas pohon tomat berbentuk layaknya perdu, ketinggiannya dapat capai tinggi 3 meter. Namun sehabis dibudidayakan tinggi tanaman ini tak lebih berasal dari 2 mtr. dan umumnya ditopang oleh ajir atau tali untuk menghindar agar tidak roboh.

Tanaman tomat dapat tumbuh baik di bermacam tempat layaknya lahan terbuka, hidroponik, taman vertikultur dan tempat pot atau polybag. Pada peluang kali ini kami akan menguraikan berkenaan langkah menanam tomat dalam polybag. Bila dambakan mengetahui bercocok tanam tomat skala besar di lahan terbuka baca panduan lazim budidaya tomat.

Pemilihan style tanaman
Secara umum, orang membedakan tomat berasal dari wujud buahnya. Terdapat empat golongan tomat yang banyak beredar di pasaran yakni, (1) Tomat buah atau tomat granola, bentuknya bulat bersama pangkal mendatar (2) Tomat gondol, bentuknya lonjong biasa digunakan sebagai bahan baku saus, (3) Tomat sayur, teskturnya keras rasanya sedikit kecut, (4) Tomat cherry, bentuknya kecil rasanya manis kecut.

Cara menanam tomat dalam polybag tidaklah sulit. Langkah pertama menentukan style tomat dan varietas yang akan ditanam. Sesuaikan wilayah tempat budidaya bersama varietas tomat yang akan dipilih, lebih-lebih untuk suasana iklim dan ketinggian tempat.

Untuk hasil yang maksimal, menggunakan benih unggul berasal dari sumber yang terpercaya. Benih tomat berasal dari bermacam varietas dapat didapatkan di toko-toko pertanian. Keterangan berkenaan sifat-sifat tanaman dapat dibaca terhadap label yang tertera dalam kemasan benih.

Penyemaian benih tomat
Cara menanam tomat dalam polybag sebaiknya melalui step persemaian lebih-lebih dahulu. Benih yang berbentuk biji mesti disemaikan jadi bibit tanaman. Langkah ini diperlukan gara-gara benih yang baru tumbuh butuh perlakuan yang berlainan bersama tanaman yang sudah tumbuh besar.

Siapkan tempat dan tempat persemaian terlabih dahulu. Pilih tempat persemaian yang terlindung berasal dari hujan dan cahaya matahari secara langsung. Media persemaian dapat bermacam-macam, silakan baca langkah mengakibatkan tempat persemaian untuk hortikuktura.

Bentuk persemaian dapat berbentuk bedengan, rak semai, atau polybag semai. Untuk persemaian bersama bedengan, membuat larikan diatas bedengan bersama kedalaman 1 cm dan jarak antar larik 5 cm. Kemudian tanam benih tomat terhadap tiap larik bersama jarak 3 cm, tutup permukaannya dan siram secukupnya.

Untuk persemaian yang menggunakan ploybag, mengisi polybag bersama tempat persemaian. Bila tidak tersedia polybag dapat menggunakan daun pisang. Kemudian benamkan benih tomat sedalam 1 cm kedalam tempat tersebut. Lalu tutup permukaannya dan siram secukupnya. Setiap polybag cukup diisi satu benih.

Setelah benih disemaikan, laksanakan penyiraman tiap tiap 2 kali sehari bersama gembor yang halus. Berhati-hatilah saat menyiram, jangan hingga menyebabkan kerusakan permukaan persemaian.

Pemupukan tambahan dapat diberikan sehabis dua minggu bersama pupuk cair organik, pupuk kompos atau NPK. Perawatan lain yang mesti dilaksanakan adalah penyiangan. Jangan hingga tumbuh gulma dalam tempat persemaian. Bibit tanaman tomat siap dipindahkan berasal dari tempat persemaian ke dalam polybag sehabis 30 hari atau sudah mempunyai setidaknya 5 helai daun.

Pemindahan bibit tomat
Sebelum bibit dipindahkan, siapkan tempat tanam dan polybag. Isi polybag selanjutnya bersama tanah, arang sekam, dan kompos bersama perbandingan 2:1:1. Untuk lebih detailnya melihat langkah mengakibatkan tempat tanam untuk polybag.

Terdapat dua langkah menanam tomat berasal dari tempat persemaian ke dalam polybag. Pertama, memindahkan bibit bersama dicabut. Caranya, siram persemaian bersama air agar tempat tanam jadi lunak. Lalu cabut tanaman bersama hati-hati jangan hingga akar tanaman putus atau rusak. Kemudian masukkan tanaman selanjutnya secara tegak lurus terhadap lubang tanam yang tersedia dalam polybag. Posisi akar mesti tegak lurus jangan hingga bengkok atau terlipat. Atur kedalaman lubang tanam sesuai bersama panjang akar.

Kedua, memindahkan bibit bersama diputar. Caranya tanaman tomat diangkat bersama tempat yang tersedia disekitarnya. Untuk bibit berasal dari bedengan, cungkil tanaman sedalam 10 cm bersama sekop atau tangan. Kemudian angkat dan pindahkan selanjutnya bersama tanahnya.

Untuk bibit dalam polybag semai, sobek atau tarik plastik polybag semai kemudian dipindahkan beserta tanahnya kedalam polybag yang lebih besar. Polybag semai berasal dari plastik dapat dipakai berulang-ulang.

Pemeliharaan dan perawatan
Pemeliharaan tanaman tomat dalam polybag atau pot relatif mudah. Kesehatan tanaman lebih lebih terkontrol gara-gara terhindar berasal dari penularan penyakit melalui akar. Jaga agar tempat tanam tidak terlampau kering. Siram setidaknya 2 kali sehari, tapi jangan terlampau basah untuk menjauhi busuk akar.

Siangi gulma yang terdapat dalam polybag secara teratur. Apabila tersedia tanaman yang layu atau mati, cabut langsung dan buang tempat tanamnya agar tidak menulari tanaman lain. Perawatan lain yang diperlukan adalah pemangkasan tunas dan pemberian ajir sebagai penopang tanaman.

Pupuk tanaman sehabis satu minggu bersama kompos sebanyak satu genggam untuk tiap tiap polybag. Lakukan penambahan pupuk kompos tiap tiap bulan, atau seandainya muncul tanaman tidak cukup subur. Bila tanaman akan berbuah dapat ditambahkan pupuk buah atau pupuk organik cair.

Hama dan peyakit tanaman tomat cukup banyak. Bila muncul tersedia serangan hama, ambil hama selanjutnya secara manual. Buang daun atau batang yang rusak terkena hama. Penyemprotan hendaknya dilaksanakan seandainya terlampau diperlukan. Agar lebih safe untuk kesehatan dan lingkungan menggunakan pestisida organik yang lebih alami. Silahkan baca langkah mengakibatkan pestisida organik. https://www.budidayaternak.com/

Pemanenan
Tanaman tomat dalam polybag sudah dapat dipanen sehabis 3 bulan, terkait berasal dari varietasnya. Kriteria buah tomat yang siap dipanen adalah yang berubah warna berasal dari hijau ke kuning-kuningan atau tepi daun muncul kering dan batang menguning. Pemetikan dilaksanakan terhadap buah yang sudah matang saja.

Buah tomat tidak matang secara serentak. Lakukan pemetikan tiap tiap 2-3 hari sekali, jangan terlampau rapat untuk menjauhi kerusakan tanaman. Waktu pemetikan yang paling baik pagi dan sore hari, saat cahaya matahari tidak terlampau terik. Demikian uraian singkat tenang langkah menanam tomat dalam polybag.

Panduan teknis budidaya kopi

Panduan teknis budidaya kopi

Panduan teknis budidaya kopi

Kopi merupakan komoditas perkebunan yang paling banyak diperdagangkan. Pusat-pusat budidaya kopi ada di Amerika Latin, Amerika Tengah, Asia-pasifik dan Afrika. Sedangkan customer kopi terbesar ada di negara-negara Eropa dan Amerika Utara. Wajar jika komoditas ini sangat aktif diperdagangkan.

Panduan teknis budidaya kopi

Kopi merupakan tanaman tahunan yang mampu menggapai usia produktif sepanjang 20 tahun. Untuk mengawali bisnis budidaya kopi, pilihlah style tanaman kopi bersama dengan cermat. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan budidaya kopi diantranya style tanaman, teknik budidaya, penanganan pasca panen dan Pemasaran product akhir.

Pemilihan style dan varietas
Tanaman kopi sangat banyak jenisnya, mampu menggapai ribuan. Namun yang banyak dibudidayakan hanya empat style saja yaitu arabika, robusta, liberika dan excelsa. Masing-masing style selanjutnya mempunyai karakter yang berbeda-beda. Untuk lebih detailnya silahkan baca mengenal jenis-jenis kopi budidaya.

Memilih style tanaman untuk budidaya kopi, wajib sesuai bersama dengan daerah atau lokasi lahan. Lokasi lahan yang terdapat di ketinggian lebih berasal dari 800 meter dpl cocok untuk ditanami arabika. Sedangkan berasal dari ketinggian 400-800 meter mampu ditanami robusta. Budidaya kopi didataran rendah mampu pertimbangkan style liberika atau excelsa.

Selain berasal dari sisi teknis budidaya, hal yang patut dipertimbangkan adalah harga menjual product akhir. Kopi arabika cenderung dihargai lebih tinggi berasal dari style lainnya. Namun robusta mempunyai produktivitas yang paling tinggi, rendemennya juga tinggi.

Penyiapan bibit budidaya kopi
Setelah memastikan budidaya kopi yang cocok, cara selanjutnya adalah melacak bibit yang unggul, menyiapkan lahan dan pohon peneduh. Informasi tentang bibit unggul untuk budidaya kopi mampu ditanyakan ke Puslit Kopi dan Kakao atau toko bibit terpercaya. Sementara itu, pohon peneduh wajib telah disiapkan setidaknya 2 tahun sebelum budidaya kopi dilaksanakan.

Untuk budidaya kopi arabika sumber tanaman yang digunakan adalah varietas. Contohnya adalah varietas S 795, USDA 762, Kartika-1 dan Kartika-2. Sedangkan untuk budidaya kopi robusta sumber tanaman yang digunakan dalah klon. Contohnya klon BP 42 atau BP 358.

Perbanyakan bibit pohon kopi mampu didapatkan bersama dengan teknik generatif dan vegetatif. Perbanyakan generatif berasal dari biji umumnya digunakan untuk budidaya kopi arabika, sedangkan kopi robusta lebih kerap pakai perbanyakan vegetatif bersama dengan setek. Masing-masing metode perbanyakan bibit membawa kelebihan dan kelemahan sendiri-sendiri. Lebih detailnya silahkan baca artikel terdahulu tentang perbanyakan bibit kopi bersama dengan biji dan perbanyakan bibit kopi bersama dengan setek.

Penyiapan lahan dan pohon peneduh
Budidaya kopi mampu dilakukan baik didataran tinggi maupun rendah, terkait berasal dari jenisnya. Secara umum kopi menghendaki tanah gembur yang kaya bahan organik. Untuk menambah kesuburan berikan pupuk organik dan penyubur tanah di lebih kurang daerah tanaman. Arabika bakal tumbuh baik pada keasaman tanah 5-6,5 pH, sedangkan robusta pada tingkat keasaman 4,5-6,5 pH.

Hal yang wajib disiapkan sebelum mengawali budidaya kopi adalah menanam pohon peneduh. Guna pohon peneduh untuk mengatur intensitas sinar matahari yang masuk. Tanaman kopi juga tumbuhan yang menghendaki intensitas sinar mataheri tidak penuh.

Jenis pohon peneduh yang kerap digunakan dalam budidaya kopi adalah dadap, lamtoro dan sengon. Pilih pohon pelindung yang tidak membutuhkan banyak perawatan dan daunnya mampu jadi sumber pupuk hijau.

Pohon pelindung style sengon wajib ditanam 4 tahun sebelum budidaya kopi. Sedangkan style lamtoro mampu lebih cepat, lebih kurang 2 tahun sebelumnya. Tindakan yang diperlukan untuk menjaga pohon pelindung adalah pemangkasan daun dan penjarangan.

Penanaman bibit kopi
Apabila lahan, pohon peneduh dan bibit telah siap, cara selanjutnya adalah memindahkan bibit berasal dari polybag ke lubang tanam di areal kebun. Jarak tanam budidaya kopi yang dianjurkan adalah 2,75×2,75 meter untuk robusta dan 2,5×2,5 meter untuk arabika. Jarak tanam ini divariasikan bersama dengan ketinggian lahan. Semakin tinggi lahan makin lama jarang dan makin lama rendah makin lama rapat jarak tanamnya.

Buat lubang tanam bersama dengan ukuran 60x60x60 cm, pembuatan lubang ini dilakukan 3-6 bulan sebelum penanaman. Saat penggali lubang tanam pisahkan tanah galian anggota atas dan tanah galian anggota bawah. Biarkan lubang tanam selanjutnya terbuka. Dua bulan sebelum penanaman campurkan 200 gram belerang dan 200 gram kapur bersama dengan tanah galian anggota bawah. Kemudian masukkan kedalam lubang tanam. Sekitar 1 bulan sebelum bibit ditanam campurkan 20 kg pupuk kompos bersama dengan tanah galian atas, lantas masukkan ke lubang tanam.

Kini bibit kopi siap ditanam dalam lubang tanam. Sebelumnya papas daun yang terdapat pada bibit sampai tersisa ⅓ anggota untuk kurangi penguapan. Keluarkan bibit kopi berasal dari polybag, lantas gali sedikit lubang tanam yang telah dipersiapkan. Kedalaman galian mengatur bersama dengan panjang akar. Bagi bibit yang mempunyai akar tunjang usahakan sehingga akar tanaman tegak lurus. Tutup lubang tanam sehingga tanaman berdiri kokoh, jika diperlukan beri ajir untuk menunjang tanaman sehingga tidak roboh.

Perawatan budidaya kopi
Langkah yang diperlukan untuk pemeliharaan budidaya kopi adalah penyulaman, pemupukan pemangkasan dan penyiangan. Berikut penjelasannya:

a. Peyulaman
Setelah bibi ditanam di areal kebun, periksa perkembangan bibit selanjutnya setidaknya seminggu dua kali. Setelah bibit berumur 1-6 bulan periksa sedikitnya satu bulan sekali. Selama periode kontrol tersebut, jika ada kematian pada pohon kopi segera melaksanakan penyulaman. Penyulaman dilakukan bersama dengan bibit yang sama. Lakukan perawatan yang lebih instensif sehingga tanaman penyulam mampu menyamai perkembangan pohon lainnya.

b. Pemupukan
Pemberian pupuk untuk budidaya kopi mampu pakai pupuk organik atau pupuk buatan. Pupuk organik mampu didapatkan berasal dari bahan-bahan lebih kurang kebun layaknya sisa-sisa hijauan berasal dari pohon pelindung atau kulit buah kopi sisa pengupasan lantas dibikin jadi kompos. Kebutuhan pupuk untuk tiap-tiap tanaman lebih kurang 20 kg dan diberikan lebih kurang 1-2 tahun sekali.

Cara menambahkan pupuk bersama dengan memicu lubang pupuk yang mengitari tanaman. Kemudian masukkan kompos kedalam lubang pupuk tersebut. Bisa juga dicampurkan pupuk buatan kedalam kompos. Untuk tanah yang asam bersama dengan pH di bawah 4,5 perlindungan pupuk dicampur bersama dengan setengah kilogram kapur. Pemerian kapur dilakukan 2-4 tahun sekali.

Untuk memperkaya bahan organik areal perkebunan mampu ditanami bersama dengan tanaman penutup tanah. Tanaman yang biasa dijadikan penutup tanah dalam budidaya kopi diantaranya bunguk (Mucuna munanease) dan kakacangan (Arachis pintol). Tanaman penutup tanah berguna sebagai pelindung dan penyubur tanah, tak sekedar itu hijauannya mampu dijadikan sumber pupuk organik.

c. Pemangkasan pohon
Terdapat dua style pemangkasan dalam budidaya kopi, yaitu pemangkasan berbatang tunggal dan pemangkasan berbatang ganda. Pemangkasan berbatang tunggal lebih cocok untuk style tanaman kopi yang membawa banyak cabang sekunder contoh arabika. Pemangkasan ganda lebih banyak diaplikasikan diperkebunan rakyat yang menanam robusta. Pemangkasan ini lebih cocok pada perkebunan di daerah dataran rendah dan basah.

Berdasarkan tujuannya, pemangkasan dalam budidaya kopi dibagi jadi tiga macam yaitu:

Pemengkasan pembentukan, memiliki tujuan membentuk kerangka tanaman layaknya wujud tajuk, tinggi tanaman dan style percabangan.
Pemangkasan produksi, memiliki tujuan memangkas cabang-cabang yang tidak produktif atau cabang tua. Hal ini dilakukan sehingga tanaman lebih fokus menumbuhkan cabang yang produktif. Selain itu, pemangkasan ini juga untuk menyingkirkan cabang-cabang yang terkena penyakit atau hama.
Pemangkasan peremajaan, dilakukan pada tanaman yang telah mengalami penurunan produksi, hasil kuranng berasal dari 400 kg/ha/tahun atau wujud tajuk yang telah tak beraturan. Pemangkasan dilakukan setelah pemupukan untuk menjaga ketersediaan nutrisi.
d. Penyiangan gulma
Tanaman kopi wajib selamanya bersih berasal dari gulma, lebih-lebih selagi tanaman masih muda. Lakukan penyiangan tiap-tiap dua minggu, dan bersihkan gulma yang ada di bawah tajuk pohon kopi. Apabila tanaman telah cukup besar, pengendalian gulma yang ada diluar tajuk tanaman kopi mampu pakai tanaman penutup tanah. Penyiangan gulma pada tanaman dewasa dilakukan jika diperlukan saja.

Hama dan penyakit
Lahan budidaya kopi yang terserang hama dan penyakit bakal mengalami penurunan produktivitas, mutu mutu kopi dan bahkan kematian tanaman. Beberapa hama dan penyakit yang umum menyerang tanam kopi adalah sebagai berikut:

Hama penggerek buah kopi. Menyerang tanaman muda maupun tua. Akibat serangan buah bakal berguguran atau perkembangan buah tidak normal dan membusuk. Pengendalian mampu hama ini adalah bersama dengan menambah sanitasi kebun, pemapasan pohon naungan, pemanenan buah yang terserang, dan penyemprotan kimia.
Penyakit karat daun (HV). Biasanya menyerang tanaman arabika. Gejala serangannya mampu diamati berasal dari permukaan daun yang mengalami bercak kuning, makin lama lama jadi kuning tua. Bisa dihindari bersama dengan menanam kopi arabika diatas ketinggian 1000 meter dpl. Pengendalian lainnya mampu dilakukan bersama dengan penyemprotan kimia, menentukan varietas unggul, dan kultur teknis.
Penyakit serangan nematoda. Banyak ditemui di sentra-sentra perkebunan kopi robusta. Serangan ini mampu menurunkan produksi sampai 78%. Pengendalian penyakit ini mampu dilakukan bersama dengan menyambung tanaman bersama dengan batang bawah yang tahan nematoda.
Untuk lebih cermat tentang hama dan penyakit pada tanaman kopi silahkan baca artikel pengendalian hama dan penyakit kopi.

Panen dan pasca panen
Tanaman yang dibudidayakan secara intensif telah mampu berbuah pada usia 2,5-3 tahun untuk style robusta dan 3-4 tahun untuk arabika. Hasil panen pertama umumnya tidak sangat banyak, produktivitas tanaman kopi bakal menggapai puncaknya pada usia 7-9 tahun.