Pengakuan Abu Jahal

Table of Contents

Pengakuan Abu Jahal

Dalam penyebaran risalah Islam, Rasulullah banyak sekali menemui kendala agar untuk menjauhi sikap orang-orang Quraisy yang menentang risalah Islam, Rasulullah jalankan dakwah secara sembunyi-sembunyi. Hal itu dijalankan Rasulullah dikarenakan belum tersedia arahan berasal dari Allah untuk jalankan dakwah secara terang-terangan.

Akan tetapi, disaat turun perintah untuk dakwah secara terang-terangan, Rasulullah saw langsung nampak berasal dari kediamannya dan mendaki bukit Shafa. Di atas sana, beliau berseru bersama dengan lantang memanggil penduduk Mekah, “Wahai kaum Quraisy!” Seruan itu memancing penduduk Mekah untuk berduyun-duyun mendekati beliau.

Setelah penduduk Mekah berkumpul di bukit Shafa, Rasulullah bersabda, “Percayakah kalian jikalau kukabarkan kepada kalian bahwa seekor unta akan ketuar berasal dari kaki gunung ini?”

Mereka menjawab, “Kami tidak dulu mendapatkan kebohongan darimu sebelumnya.”

Rasulullah melanjutkan, “Ketahuilah, memang aku mengingatkan kalian akan adanya siksa yang terlampau pedih!”

Mendengar perihal itu, pamannya yang bernama Abu Lahab berdiri dan langsung meninggalkan beliau. Ketidakpedulian Abu Lahab pada ajakan Rasulullah saw diikuti oleh yang lainnya. Satu per satu berasal dari mereka pergi meninggalkan beliau. Tidak tersedia yang tertarik bersama dengan ajakannya.

Tradisi jahiliah begitu melekat di dalam diri kaum Quraisy Mekah agar hampir tidak mungkin untuk meninggalkan formalitas yang turun-menurun tersebut.

Meskipun demikian, Rasulullah saw tidak berhenti begitu saja. Pada suatu kesempatan, beliau bertemu bersama dengan pamannya, Abu Jahal, di sebuah lorong kota Mekah. Pertemuan ini tidak disia-siakan oleh Rasulullah saw untuk mengajak pamannya menauhidkan Allah SWT. Beliau bersabda, “Wahai, Abu Hakam, marilah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku mengajakmu kepada Allah!”

Dengan ketus Abu Jahal menjawab, “Hai, Muhammad! Tidakkah kamu berhenti mencela tuhan-tuhan kami? Jika engkau jalankan ini agar kami bersaksi di hadapan Allah bahwa kamu adalah penyampai risalah, akan kami jalankan jikalau kamu memang benar! Karena itu, biarkanlah kami mengurus diri kami sendiri!”

Mendengar pernyataan Abu Jahal, Rasulullah saw berlalu meninggalkannya. Mughirah bin Shu’bah yang saat itu sedang bersama dengan Abu Jahal bertanya mengenai kerasulan Nabi Muhammad.

Abu Jahal menjawab, “Aku tahu bahwa dia adalah seorang nabi dan apa yang dikatakannya adalah kebenaran. Akan tetapi, kami beradu bersama dengan Bani Hasyim (keluarga Rasulullah saw) di segala sesuatu. Mereka membanggakan diri dikarenakan sedia kan makanan dan minuman bagi para peziarah. Jika di pada mereka tersedia yang menjadi nabi, mereka pasti akan membangga-banggakannya di hadapan kami. Jika demikian, pasti saja kami tidak sanggup menyainginya.”

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Abu Jahal dulu berkata, “Kami tidak dulu mendustakan engkau dan engkau bukanlah seorang pendusta. Namun, kami mendustakan apa yang engkau bawa.”

Pengakuan Abu Jahal pada kerasulan Muhammad pun diungkapkan Abu Dzar Al-Ghifari. Saat itu Abu Dzar belum memeluk Islam dan ia pun menjadi kawan akrab dekat Abu Jahal. Keduanya dipersatukan di dalam kerja serupa perdagangan yang saling beruntung kedua belah pihak. Setiap kali Abu Dzar singgah ke kota Mekah, ia senantiasa membawa barang-barang dagangan yang akan ia jual lewat perantaraan Abu Jahal.

Alkisah diceritakan bahwa berlangsung sesuatu di luar kebiasaan. Suatu disaat Abu Dzar singgah ke Mekah tanpa membawa barang dagangan satu pun, juga uang perniagaan. Hal ini pasti saja membawa dampak Abu Jahal heran. la pun bertanya kepada Abu Dzar, “Apakah kau membawa barang dagangan, hai sahabatku?”

Abu Dzar menjawab, “Seperti yang kaulihat, aku tidak membawa apa pun.”

“Apakah engkau membawa uang?” bertanya Abu Jahal kembali.

“Tidak juga,” jawab Abu Dzar singkat.

Melihat tersedia sesuatu yang tidak biasa pada sahabatnya, Abu Jahal ulang bertanya, “Ada apa denganmu? Apa yang membuatmu singgah jauh-jauh ke Mekah tanpa membawa barang dagangan atau uang? Adakah tujuanmu yang lain?”

Melihat kerisauan sahabatnya, Abu Dzar coba menenangkannya bersama dengan menjawab, “Sahabatku Abu Jahal, kali ini kedatanganku bukan untuk mengadu beruntung di dalam perdagangan.”

“Lantas untuk apa?” bertanya Abu Jahal yang makin penasaran.

“Aku ingin bertemu bersama dengan kemenakanmu.”

Jawaban Abu Dzar makin membingungkan Abu Jahal. Abu Jahal pun ulang bertanya, “Kemenakanku? Siapakah yang kaumaksud?”

“Muhammad,” jawab Abu Dzar singkat.

“Muhammad?” ulang Abu Jahal untuk meyakinkan apa yang baru saja ia dengar.

“Ya. Kudengar berasal dari lebih dari satu sahabatku bahwa Muhammad, kemenakanmu itu sudah diangkat menjadi seorang rasul. Engkau harus bangga membawa kemenakan semulia itu, sahabatku!” tahu Abu Dzar panjang lebar. Ia tidak tahu bahwa sang paman tidak menyukai risalah yang dibawa kemenakannya, Muhammad.

Abu Jahal yang tidak ingin Islam memengaruhi sahabatnya langsung mencegah Abu Dzar untuk bertemu Rasulullah saw dan berkata, “Sahabatku, dengarkanlah aku jikalau kau ingin selamat, jangan kautemui dia! Sekali-kali jangan dulu kau menemui kemenakanku itu!”

“Mengapa kau berkata seperti itu?” bertanya Abu Dzar Al-Ghifari heran.

Abu Jahal menjelaskan, “Kautahu, Muhammad itu terlampau menarik. Ia terlampau memesona. Sekali bertemu dengannya, aku jamin kaupasti akan terlampau terpikat dengannya. Wajahnya bersih, perkataannya memuat mutiara indah dan senantiasa benar. Perilakunya terlampau lembut dan sopan membacakan wahyu. Semua kalimatnya menyentuh jiwa.”

Tentu saja jawaban Abu Jahal terlampau berlawanan bersama dengan sarannya untuk tidak menemui Rasulullah saw. Di satu sisi ia melarang Abu Dzar untuk bertemu kemenakannya, tetapi di sisi lain ia memberikan alasan yang baik-baik mengenai Rasulullah saw.

Abu Dzar mengungkapkan keheranannya seraya berkata, “Aku tidak mengerti, tetapi apa itu berarti kau yakin dia seorang rasul?”

Abu Jahal langsung mengiyakan. Katanya, “Jelas. Mustahil rasanya jikalau ia bukan seorang rasul. Ia baik kepada semua orang tua dan muda, begitu pula budi pekerti dan akhlaknya terlampau mulia. Satu perihal ulang yang harus kauketahui, ia terlampau tabah hadapi apa pun yang berlangsung padanya. Ia membawa energi tarik yang hebat sekali.”

“Aku tidak habis tahu terhadapmu, Abu Jahal sahabatku,” tandas Abu Dzar, “kaubilang bahwa kauyakin kemenakanmu itu adalah seorang rasul.”

“Yakin betul. Aku tidak dulu meragukannya sedikit pun,” tegas Abu Jahal.

“Apakah kaupercaya bahwa ia benar?” bertanya Abu Dzar kembali.

“Lebih berasal dari sekadar percaya,” Jawab Abu Jahal.

“Tapi engkau melarangku untuk menemuinya …,” bertanya Abu Dzar masih bersama dengan keheranan.

Abu Jahal menjawab “Begitulah ….”

“Lalu, apakah engkau ikuti ajaran agamanya?”

Abu Jahal tersentak bersama dengan pertanyaan sang sahabat. “Ulangi sekali ulang pertanyaanmu …,” pinta Abu Jahal.

“Apakah engkau ikuti agamanya menjadi pemeluk Islam?” Abu Dzar ulang ulangi pertanyaannya seperti permohonan Abu Jahal.

Tidak sanggup mengelak, Abu Jahal berkilah, “Sahabatku, hingga kapan pun aku senantiasa Abu Jahal. Aku bukanlah orang gila. Aku masih waras. Berapa pun kaubayar aku, aku tidak akan menjadi pengikut Muhammad!”

Abu Jahal melanjutkan, “Meskipun aku yakin bahwa Muhammad itu benar, aku senantiasa akan melawan Muhammad hingga kapan pun. Sampai titik darah penghabisanku.”

“Apa sebabnya?” bertanya Abu Dzar.

“Kautahu sahabatku, jikalau aku menjadi pengikut kemenakanku sendiri, kedudukan dan wibawaku akan hancur. Akan kuletakan di mana mukaku di hadapan bangsa Quraisy?”

Abu Dzar menggeleng-gelengkan kepalanya seakan tidak yakin akan pemikiran sahabatnya, ” Pendirianmu keliru, sahabatku.”

“Aku tahu aku memang keliru,” ujar Abu Jahal.

Abu Dzar mengingatkan sahabatnya, “Kelak, engkau akan dikalahkan oleh kekeliruanmu.”

“Baik, biar saja aku kalah. Bahkan, aku tahu diakhirat kelak akan dimasukkan ke di dalam neraka jahanam. Namun, aku tidak mau dikalahkan Muhammad di dunia meskipun di akhirat sana aku pasti dikalahkan,” jawab Abu Jahal sambil berlalu meninggalkan Abu Dzar yang masih tidak yakin bersama dengan apa yang baru saja didengarnya.

Abu Jahal senantiasa di dalam pendiriannya. Ketika Perang Badar berlangsung, ia ditanya oleh Akhnas bin Syariq, “Hai, Abu Jahal! Di sini hanya kami berdua dan tidak tersedia orang lain, ceritakanlah mengenai diri Muhammad, apakah benar dia itu orang yang jujur atau pendusta?”

“Demi Tuhan! Sesungguhnya Muhammad itu adalah orang yang benar dan tidak dulu berdusta!”

baca juga :