Fenomena Bully yang Berbahaya

Fenomena Bully yang Berbahaya

Fenomena Bully yang Berbahaya

Fenomena Bully yang Berbahaya
Fenomena Bully yang Berbahaya

Dari AbuHurairah Ra, bahwasanya Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Jika ada seseorang berkata, ‘Orang banyak (sekarang ini) sudah rusak’, maka orang yang berkata itu sendiri yang paling rusak di antara mereka.” (HR. Muslim).

Dalam waktu dekat ini banyak berita dalam negeri yang membuat tercengang. Dari ayah seorang artis yang jadi pengemis; artis laga yang mendadak gila; kelulusan anak SLTA yang dirayakan berlebihan, mencatut nama jenderal polisi dan mempermalukan ayahnya hingga terkena stroke dan meninggal; hingga penyanyi Irma Bule yang tergigit cobranya sendiri.

Dari sekian kasus yang terjadi di Indonesia, mereka mempunyai kesamaan yaitu berakhir dengan bully-an. Bully adalah tindakan mengintimidasi baik secara fisik ataupun psikis. Kasus terakhir lebih menarik bagi saya. Dimana seorang penyanyi dari panggung ke panggung dengan lilitan ular di tubuhnya, yang pada akhirnya harus ia tebus dengan nyawanya sendiri. Setelah kejadian itu lalu muncul bully-an dari netizen, “Salah sendiri bawa ular.”, “kasian ya, meninggalnya lagi joget-joget belum sempat tobat.”, “Lagian aneh-aneh aja sih nyari sensasinya.” dan masih banyak lagi.

Terlepas dari dosa dan kesalahan dirinya, kita perlu juga melihat dari perspektif lainnya. Saya terenyuh membaca beberapa berita dimana diceritakan bahwa kasus Irma Bule di muat lebih dari 110 media asing, termasuk The Washington Post. Karena berdasarkan literatur, bisa ular cobra dapat membunuh makhluk hidup yang digigitnya dibawah 5 menit. Tapi Irma Bule kembali melangsungkan pertunjukannya setelah digigit dan berhasil bertahan selama 45 menit. Terbayang dorongan kuat seperti apa yang membuatnya tetap bertahan meski dalam keadaan SEKARAT? Coba kita memposisikan diri, mungkin saja ia teringat tanggung jawab terhadap 3 anak kecilnya, takut bayarannya yang tidak besar itu di potong jika panggungan tidak selesai.

Yang sangat disayangkan fenomena bully seperti sudah mendarah daging, bahkan termasuk dalam dunia pendidikan. Sehingga kita tidak bisa menanggapi suatu persoalan dengan kepala dingin. Inginnya mencaci saja, menghakimi. Kita sudah terbiasa menemukan orang yang mem-bully temannya, dikelas misalnya. Saat ada yang bertanya dan belum paham pelajaran, seisi kelas malah mencemoohnya. Atau ada yang salah ketika berbicara di depan, langsung terkena sorakan bully. Ada pepatah mengatakan, “Boleh saja jari mu menunjuk, tapi pastikan dulu tanganmu itu bersih.” Budaya bully ini adalah budaya yang dapat merusak masa depan kita semua, menghilangkan kemampuan manusia Indonesia untuk terus maju. Bully menghapus kemampuan untuk mengoreksi diri sendiri dan saling membantu untuk membuat orang lain berkembang.

Baca Juga :