Kisah Negeri 4 Musim

Kisah Negeri 4 Musim

Table of Contents

Kisah Negeri 4 Musim

Kisah Negeri 4 Musim
Kisah Negeri 4 Musim

Indonesia adalah negeri  yang memiliki dua musim, berkah curah hujan tinggi dan cahaya matahari yang melimpah membuatnya jadi negeri yang subur. Bahkan ada bahasa, tongkatpun di tanah ini bisa jadi tanaman. Sayangnya, anugerah Ilahi ini disia-siakan oleh tangan-tangan kotor yang tahunya hanya menjarah dan menindas. Seorang Sastrawan Hasan Aspahani, menolak menyebut Indonesia sebagai negeri dua musim, dalam puisinya “Dongeng Negeri Empat Musim” (2004) dia menyebut, ada empat musim di negeri ini, musim berdusta, musim berjanji, musim berpura-pura dan musim lupa.

Terlepas dari hal itu, ada sesuatu yang menggelitik saya. Kalau kita perhatikan, terjadi fenomena unik mengenai persamaan negara-negara maju, yaitu mereka memiliki 4 musim (subtropis): musim semi, musim panas, musim gugur dan musim dingin. Kita lihat saja, perbandingan taraf hidup dinegara-negara Eropa, Amerika, Jepang, China, Korea, Australia dengan negara-negara yang hanya memiliki dua musim yang tersebar disebagian Asia dan Afrika. Tidak umum bagi negara tropis yang hanya punya dua musim (musim hujan dan musim kemarau) seperti Indonesia untuk duduk di deretan negara maju. Pengecualian adalah tetangga kita, Singapura.

Saya yakin, kondisi alam berpengaruh besar dalam membentuk karakter membangun dalam jiwa-jiwa mereka. Adanya perbedaan musim yang drastis menuntut penduduknya untuk tidak monoton dalam aktivitas hidup. Ibarat kisah monyet yang makin kuat ditiup angin kencang dan lengah ditiup angin sepoi. Mereka dituntut untuk tangguh menghadapi kegerahan di musim panas, kekeringan di musim gugur, mengatasi dingin di musim salju, dan tidak terlena di musim semi. Dalam analisis sosio-psikologi adanya perubahan musim yang membutuhkan adaptasi ini akan membentuk karakter bangsa yang kuat dan tangguh dalam mengatasi problematika hidup.

Beberapa ekonom menghubungkan proses sebab-akibat antara iklim dan kemajuan ekonomi. Mereka mengaitkan antara iklim dan kemajuan ekonomi melalui sikap masyarakat dan penghargaan terhadap waktu. Di negara 4 musim, masyarakatnya sangat peduli dengan waktu. Kalau mereka tidak menghitung waktu, mereka bisa mati, misalnya karena kurang persiapan untuk musim dingin (tanaman mati, jalanan tidak dapat dilalui, dll).

Pernahkah kita bayangkan bagaimana rasanya hidup di musim dingin tanpa mengenakan baju hangat, atau tinggal di rumah yang tidak dilengkapi fasilitas pemanas ruangan? Pada saat itu salju bukan lagi keindahan, namun tontonan tragedi yang menyayat hati. Teman saya asal Bosnia menceritakan, di musim dingin, ketika tumpukan salju disingkirkan dari jalan-jalan kota, tidak sedikit ditemukan mayat-mayat manusia. Mereka adalah para tunawisma yang mencoba bertahan hidup di tengah musim dingin yang menusuk tulang. Ya, dongeng tentang salju tidak melulu menceritakan kebahagiaan sang putri salju, namun juga kegetiran hidup putri penjual korek api, yang mati beku kehabisan api penghangat.

Sementara penduduk negara tropis sangat cuek dengan waktu karena sepanjang tahun dapat bekerja tanpa jeda cuaca. Sangat jarang ada orang yang mati karena kehujanan atau kepanasan, bahkan rumahpun cukup dibuat dengan atap dedaunan dan dinding kardus. Di negeri empat musim, rumah harus dibangun kokoh, lengkap dengan sistem pemanas dan pendingin jika tidak ingin mati diterkam musim.

Maka, di negara maju, waktu sangat dihargai. Jadwal kereta di Tokyo, Jepang bukan 5.30 atau 6.30 namun 5.07, 6.32. Telat 1 menit ya bye bye, harus menanti 5-15 menit kereta selanjutnya. Dalam rapat-rapat di Amerika dan Eropa, jadwal sangat ketat. Mulai jam 5.30, maka mulai tepat 5.30 bukan dibuat molor menunggu yang hadir sampai jam 6.30 bahkan 7.30.

Bagaimana dengan penghargaan waktu di negeri kita? Kita semua tahu sendiri-lah tanpa perlu di-detil-kan. Makanya negara kita sangat terkenal sebagai “the rubber watch” alias si jam karet. Sebutan ini hanya puncak gunung es dari perilaku kita yang sangat tidak menghargai waktu. Akhirnya etos kerja dan produktivitas kita cenderung rendah.

Apa pelajaran yang bisa diambil? Jika Indonesia ingin menjadi negara maju yang mensejahterakan rakyatnya (pendapatan tinggi, pengangguran rendah dan kemiskinan enyah), kita harus memulai dengan satu kata: WAKTU. Hargai dan perlakukan waktu sebagai aset termahal. Hilangkan budaya JAM KARET. Hilangkan budaya INSYAA ALLAH ala Indonesia (untuk ngeles dan janji palsu). Mulai budaya TEPAT WAKTU. Mulai budaya KOMIT pada JANJI dan WAKTU.

“Sebaik-baik manusia adalah yang diberi umur panjang dan baik amalnya. Dan sejelek-jelek manusia adalah yang diberi umur panjang dan jelek amalnya.” (HR.Ahmad). Kita ini telah, sedang dan akan selalu bepacu dengan waktu. Satu desah nafas sebanding dengan satulangkah menuju maut. Alangkah ruginya manakala banyaknya keinginan, melambungnya angan-angan, serta meluapnya harapan tidak diiringi dengan meningkatnya kualitas diri. Maka siapa pun yang bersungguh-sungguh mengisi waktunya dengan kebaikan, niscaya Allah akan memberikan yang terbaik bagi orang tersebut.

Sumber : https://downloadapk.co.id/