Pasca-masuk Plano

Pasca-masuk Plano

Table of Contents

Pasca-masuk Plano

Pasca-masuk Plano
Pasca-masuk Plano
Ketika menginjakkan kakiku pertama kali di lingkungan Undip, aku merasakan kemegahan yang menakjubkan. Bagaiamana tidak? Aku yang berasal dari kota kecil tidak mengira akan dapat masuk ke Undip, universitas favorit di Jawa Tengah. Universitas ini besarnya mungkin berpuluh-puluh kali lipat dari SMAku dulu. Walaupun sebebanrnya, aku sangat ingin masuk ke UGM …, tetapi aku berusaha untuk mengalihkan kecintaanku pada Undip, meskipun aku hanya mampu memberikan setengah hatiku.

 

Begitu aku masuk ke halaman Plano, aku melihat gedung bercat kuning merah yang tampak mencolok. Apabila dibandingkan dengan Arsitek dan Sipil, luas wilayah Plano relatif kecil. Maklum, jurusan ini baru berdiri pada tahun 1992.
# Semester 1
Aku menderita penyakit homesick. Setiap hari, aku merindukan rumah, ingin pulang tidak bisa, ingin berlari … itupun mustahil. Aku berusaha mati-matian menahan perasaan ini. Satu minggu pertama, kulalui malam dengan semua ketidakpastian. Hidupku terasa hampa tanpa kehadiran keluarga yang selama ini selalu hadir memenuhi hatiku dengan cinta, kasih, dan perhatian. Aku tidak bisa pulang karena ada program kampus yang sungguh menjengkelkan, OSPEK. Aku mau menolak, tetapi tidak tahu caranya. Sampai sekarang, aku selalu berpikir apa gunanya OSPEK? Cuma bentakan-bentakan tak berarti yang kadang membuat orang sakit dan menangis. Mengapa jurusan tidak membuat suatu program yang lebih berguna bagi mahasiswa?

 

OSPEK, bagiku merupakan pelampiasan kekesalan dan rasa dendam yang selama ini menumpuk kepada adik-adik angkatannya. Alasannya, karena mereka dulu juga diperlakukan sama. Nah, kan? Tak lain, OSPEK adalah lingkaran setan yang sulit untuk dihancurkan. Lha, bagaimana bisa? Jurusan saja mendukung kegiatan itu sepenuhnya.

 

Puncak dari OSPEK itu adalah pelantikan. Pelantikan yang hingga saat ini belum kulupakan. Satu hari dalam penderitaan. Detik demi detik dimarahi terus seakan tidak pernah akan habis. Capek semua ini badan.
Bahkan, malam hari menjelang pelantikan, aku menulis di diary … saking takutnya …
Satu hari menjelang pelantikan, Tuahn menurunkan hujan ke atas bumi. Mengapa? Karena Dia tahu bahwa itu adalah hujan terakhir yang dapat kulihat. Hujan yang dicurahkan sebagai hadiah ungkapan terakhir untukku. Karena, esok hari ‘kan kusongsong kematian. Atau, mungkin juga, Tuhan merasa kasihan padaku dan meneteskan butir-butir air mata untukku?
Kecuali Engkau, siapapun tidak berhak mengatur berapa lama waktu hidup manusia di dunia ini. Tapi, aku adalah suatu pengecualian. Aku tahu, bila esok menjelang, aku sudah tidak akan berada di dunia ini lagi. Lalu, kemana? Entahlah, nggak mungkin juga demi aku, Engkau menghentikan waktuMu.
Biarlah kusongsong fajar nanti dengan segala arti kepasrahan, tentang makna hidup, tentang makna kematian. Selama ini, Tuhan sudah selalu menjagaku, memberiku banyak karunia, dan aku bukanlah orang tak tahu malu yang hanya selalu menengadahkan tangan.
Aku minta padaMu, hilangkanlah ketakutan yang senantiasa membayang di setiap helai nafasku, agar aku bisa menerimanya degan hati lapang.