mimpi dan kamu KOPI
By: Date: February 29, 2020 Categories: Pendidikan
mimpi dan kamu KOPI

Table of Contents

mimpi dan kamu KOPI

mimpi dan kamu KOPI

mimpi dan kamu KOPI

Namaku Nunik, aku sekarang berusia 22 tahun, masih sibuk dengan skripsi dan dipusingkan dengan banyak tuntutan agar segera wisuda. Aku sedang tidak terlalu antusias bicara soal identitasku secara formalitas seperti membahas soal bagaimanakah kuliahku atau apapun itu yang berhubungan dengan background pendidikanku. Aku sedang gemar sekali menceritakan mimpi-mimpiku soal kopi. Ya, kopi! Kenapa tiba2 aku bicara soal mahluk hitam itu. Entah dimana benang merahnya. Hehe tapi yang pasti, teman yang paling mengerti aku adalah dia untuk saat ini. Bukan bermaksud menafikan keberadaan teman nyata didekatku. Ini hanya soal bagaimana aku bahagia dengan sebuah benda mati. Ia tak dapat bicara selayaknya teman yang ada disekitarku. Namun, ia mampu membantu otakku bernafas sesaat seketika aku menyeruputnya di cangkir mini.

Image

Baiklah, langsung saja kuceritakan bagaimana hubunganku dengan dia “si hitam yg seksi”. Bagiku, dia begitu seksi apalagi jika ia kujumpai dalam keadaan panas. Oiya, sebelumnya aku ingin menjabarkan selera kopiku. Perlu diketahui bahwa kopi pada dasarnya berwarna hitam meskipun baru-baru ini terdengar kata “white coffee”. Tapi ujung2nya dia agak hitam juga. Tidak semutlaknya white. Oleh karena itu, aku sangat mencintai black coffee alias kopi hitam. Bagiku, kopi hitam adalah minuman magic yang mampu menyulap perasaan dan pikiranku menjadi lebih baik dari sebelumnya. Mungkin terdengar agak ‘lebay’ tapi memang begitulah yang aku rasakan.

Aku sangat mengagumi kopi hitam tanpa gula. Apapun itu jenisnya, entah Arabica, robusta bahkan liberika. Atau bagaimana variannya entah itu espresso, atau hanya tubruk biasa. Yang penting ia hitam. Dan satu lagi, dia pahit! Aku tak suka mencampuri kopi hitamku dengan apapun itu: gula, creamer, susu dll. Bagiku terlalu sayang jika si hitam tidak menjadi dirinya sendiri. Dan untuk menikmati serta membidik perbedaan dari masing2 jenis kopi (dari berbagai daerah asalnya) hanya bisa dilakukan dengan meminumnya secara ‘jujur’.

Semenjak kenal dia. Aku jadi gemar bermimpi. Mula-mula, Aku punya mimpi akan membuat sebuah kedai kopi. Tapi untuk hal itu aku targetkan 5-7tahun lagi. Maklum, aku butuh modal besar. Dan bagiku itu adalah hobi yang harus direalisasikan. Semata-mata tujuanku bukan hanya uang dan uang, tapi lebih secara moral (halah..). maksudnya, aku punya tujuan untuk membagi pengalaman minum kopi yang senyatanya dan seharusnya kopi. Mungkin terdengar agak egois sekali klaim sepihakku barusan. Tapi begitu memang yang aku pikirkan. Aku agak sedih saat teman2 sepermainanku (kampus,SMA dll) mencibirku soal kebiasaanku minum kopi ini. Selain pengetahuan mereka yang kurang tentang manfaat kopi, mereka juga terheran-heran mengapa aku mau-maunya mengeluarkan uang yang cukup mahal hanya untuk membeli bubuk kopi beberapa gram. Atau ketika aku ajak mereka ngopi di salah satu kafe di daerah kampusku yang terkenal mahal. Mereka malah mengira aku gaya-gayaan nongkrong dsana. Padahal, tidak sedangkal itu. Aku sudah survey beberapakafe yang menawarkan dan mengklaim diri mereka sebagai kafe yang punya kualitas kopi oke. Tapi ternyata sering sekali aku dibuatnya kecewa. Mereka tidak menggunakan alat penggiling kopi, apalagi espresso machine. Ternyata mereka hanya bermodalkan kopi sachet pada umumnya. aku sama sekali tidak bermaksud membeda-bedakan soal harga ataupun apa. Tapi sumpah, kopi-kopi sachetan itu justru tidak baik. Kandungan kopinya tidak lagi murni karna banyak dicampur berbagai bahan tambahan guna menekan biaya produksi supaya tetap murah. Serta kopi yang tidak pahit dan kental sama sekali.

Oke kita tinggalkan sejenak soal kafe impianku, selanjutnya aku berharap sekali ada sutradara film yang berniat dan bertindak membuat sebuah film yang membahas soal kopi. Aku ingiin sekali ada film atau sebenernya aku ingin sekali membuat film tentang petualang seorang pecinta kopi. Mulai dari perjalanannya mengembara keliling Indonesia untuk menemukan kopi-kopi yang khas dari daerah asalnya. Kemudian ia pulang ke Jakarta lagi dan membangun sebuah kedai kopi. Dan tidak berhenti disitu, aku ingin dia menceritakan detail soal kopi. Bagaimana merasakan kopi-kopi itu. Dan apa saja yang membuatnya mencintai kopi tersebut. Oh indah sekali !!!

Atau jika membuat film tidak terlalu memungkinkan, alternatifnya adalah menulis buku berbentuk novel tentang kopi tadi. Aku ingin sekali berbagi cerita dan energy positif yang aku dapatkan dari kopi kepada semua orang.

ya mungkin seperti itu lah mimpiku ini tentang kopiku. Aku meyakini setiap mimpiku.. karna “yakin” itu adalah bagian dari ikhtiarku

Baca Juga :