Sistem Kepercayaan Dan Kebudayaan

Sistem Kepercayaan Dan Kebudayaan

Sistem Kepercayaan Dan Kebudayaan

Sistem Kepercayaan Dan Kebudayaan

  1. Sistem Kepercayaan

Kepercayaan bangsa Arab sebelum lahirnya Islam, mayoritas mengikuti dakwah Nabi Isma’il as., yaitu menyeru kepada agama Allah, mengesakan-Nya, dan memeluk agama-Nya. Waktu terus bergulir sekian lama, hingga banyak diantara mereka yang melalaikan ajaran yang pernah disampaikan kepada mereka. Sekalipun begitu masih ada sisa-sisa tauhid dan beberapa syiar dari agama Ibrahim, hingga muncul Amr Bin Luhay, (Pemimpin Bani Khuza’ah). Dia tumbuh sebagai orang yang dikenal baik, mengeluarkan shadaqah dan respek terhadap urusan-urusan agama, sehingga semua orang mencintainya dan hampir-hampir mereka menganggapnya sebagai ulama besar dan wali yang disegani. Kemudian Amr Bin Luhay mengadakan perjalanan ke Syam. Disana dia melihat penduduk Syam menyembah berhala. Ia menganggap hal itu sebagai sesuatu yang baik dan benar. Sebab menurutnya, Syam adalah tempat para Rasul dan kitab. Maka dia pulang sambil membawa Hubal dan meletakkannya di Ka’bah. Setelah itu dia mengajak penduduk Mekkah untuk membuat persekutuan terhadap Allah. Orang orang Hijaz pun banyak yang mengikuti penduduk Mekkah, karena mereka dianggap sebagai pengawas Ka’bah dan penduduk tanah suci.
Pada saat itu, ada tiga berhala yang paling besar yang ditempatkan mereka ditempat-tempat tertentu, seperti:

  1. Manat, mereka tempatkan di Musyallal ditepi laut merah dekat Qudaid
  2. Lata, mereka tempatkan di Tha’if.
  3. Uzza, mereka tempatkan di Wady Nakhlah.

Setelah itu, kemusyrikan semakin merebak dan berhala-berhala yang lebih kecil bertebaran disetiap tempat di Hijaz. Yang menjadi fenomena terbesar dari kemusyrikan bangsa Arab kala itu yakni mereka menganggap dirinya berada pada agama Ibrahim.

  1. Sistem Kebudayaan

Sejak sebelum kedatangan Islam, Bangsa Arab dikenal memiliki kebudayaan non-materiil yang dilestarikan secara turun-temurun. Dikalangan mereka banyak para pujangga, penyair, penutur cerita prosa, atau penunggang kuda yang tangkas. Kelebihan-kelebihan seperti itu menjadi syarat mutlak diraihnya status sosial, baik di kabilahnya sendiri maupun di hadapan kabilah lain. Sementara kedudukan sastra dalam masyarakat Arab sudah seperti ajaran agama. Mereka memposisikan syair-syair laksana kalam hikmah yang harus diikuti dan ditaati, dan penyairnya diposisikan layaknya nabi yang memiliki ajaran hikmah tingkat tinggi. Cara Bangsa Arab menerima syair biasanya dengan mengundang para penyair ke berbagai acara, baik acara keluarga maupun acara kolosal. Sejak sebelum kedatangan Islam, di kalangan Bangsa Arab terdapat nama-nama penyair yang sangat populer dan mempunyai posisi sangat terhormat. Mereka antara lain adalah Imri’ al-Qais, Nabighah al-Dzibyani, Zuhair bin Abi Salma, dan al-A’sya.


Baca Juga :