Tolok ukur CBSA

Tolok ukur CBSA

Tolok ukur CBSA

Tolok ukur CBSA

Untuk dapat mengukur kadar keaktifan siswa dalam belajar berikut ini dikemukakan beberapa pendapat dari para pakar CBSA.

Mckeachie ( student centered versus instruktur-centered instruction, 1954)

Mengemukakan tujuh dimensi dalam proses belajar mengajar di mana terdapat variasi kadar ke-CBSA-an sebagai berikut:

–            partisipasi siswa dalam menetukan tujuan kegiatan belajar mengajar

–            Penekanan pada aspek efektif dalam pengajaran

–            Partisipasi siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar utama yang berbentuk intraksi antar siswa

–            Penerimaan guru terhadap perbutan dan sumbnangan siswa yang kurang relevan atau yang salah

–            Keeratan hubungan kelas sebagai kelompok

–            Kesempatan yang diberikan kepada siswa untuk mengambil keputusan yang penting dalm kegiatan di sekolah

–            Jumlah waktu yang digunakan untuk menangani masalah pribadi siswa, baik yang berhubungan ataupun yang tidak berhubungan dengan pelajaran.

  1. K. Yamamoto (many faces of teaching 1969) melihat kadar keaktifan siswa itu dari segi intensionalitas atau kesengajaan terencana dari peran serta kegiatan oleh kedua pihak (siswa dan guru) dalam proses belajar mengajar.

Yamamoto membedakan keaktifan yang direncanakan secara sengaja sengaja ( intensional ), keaktifan yang dilakukan sewaktu-waktu (insidental), dan sama sekali tidak ada keaktifan dari kedua belah pihak. Tujuan instruksional dapat dicapai dengan tuntas, sebaliknya apabila tidak terdapat keaktifan mengajar pada pihak guru serta tidak ada keaktifan belajar pada siswa kegiatan itu bukan lagi kegiatan instruksional, melainkan kegiatan non instruksional.

  1. H.O. Lingren ( education psychology in the classroom, 1976), melukiskan kadar keaktifan siswa itu adalah interaksi di antara siswa dengan guru dan siswa dengan siswa lainnya. Apabila  kita perhatikan suasana kelas  pada waktu terjadi kegiatan instruksional, akan tampak komunikasi yang beraneka ragam.
  2. Ausebel (1978) mengemukakan penjernihan pengertian di dalam mengkaji ke CBSA dan kebermaknaan kegiatan belajar mengajar dengan mengemukakan dua dimensi, yaitu:

–            Kebermaknaan materi serta proses belajar mengajar

–            Modus kegiatan belajar mengajar

Cara memperbaiki keterlibatan kelas

  1. Abadikanlah waktu yang lebih banyak untuk kegiatan-kegiatan belajar mengajar
  2. Tingkatkan partisipasi siswa secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar dengan menuntun respons yang aktif dari siswa.
  3. Masa transisi antara antar berbagai kegiatan dalam mengajar hendaknya dilakukan secara cepat.
  4. Berikanlah pengajaran yang jelas dan tepat sesuai dengan tujuan mengjar yang dicapai.
  5. Usahakan agar pengajaran dapat lebih menarik minat murid.

Cara meningkatkan keterlibatan siswa

  1. Kenalilah dan bantulah anak-anak yang kurang terlibat.
  2. Siapkan siswa secara tepat
  3. Sesuaikan pengajaran dengan kebutuhan-kebutuhan individual siswa.

Setiap guru tahu bahwa keterlibatan anak secara aktif  dalam kegiatan belajar mengajar sangat diperlukan agar belajar menjadi efektif dan dapat mencapai hasil yang diinginkan.


Sumber: https://superforex.co.id/golden-axe-classic-apk/