Penyiapan Lahan Tanaman Karet Secara Mekanis Penuh

Penyiapan Lahan Tanaman Karet Secara Mekanis Penuh

Penyiapan Lahan Tanaman Karet Secara Mekanis Penuh

Penyiapan Lahan Tanaman Karet Secara Mekanis Penuh

Cara peremajaan mekanis ini lebih disukai untuk mengatasi penyakit JAP yang sangat berbahaya. Dengan peremajaan secara mekanis penuh maka sumber infeksi penyakit JAP baik yang berupa tunggul atau sisa-sisa akar-akar yang sakit dapat disingkirkan dari areal penanaman.

Pembukaan lahan sebaiknya dilakukan menjelang musim kemarau, dimaksudkan agar tanaman yang ditebang segera akan mengering. Kondisi kering ini akan mempermudah dalam penanganan selanjutnya, apakah kayu hasil penebangan akan dimanfaatkan sebagai kayu log atau selainnya. Di wilayah Sumatera Utara umumnya musim kemarau jatuh pada bulan Februari s.d Juni. Tahapan penyiapan lahan secara mekanis adalah sebagai berikut :

a. Penumbangan dan pengumpulan pohon 

Tanaman tua ditumbangkan dengan meggunakan chain saw atau dengan didorong sampai tumbang dengan menggunakan bulldozer. Sewaktu penumbangan dengan chain saw tunggul harus disisakan sepanjang 30 cm untuk memudahkan dalam pembongkaran dan pencabutannya. Pohon karet yang sudah ditumbang kemudian di potong-potong sesuai keperluan misalnya untuk kayu log. Ranting dan cabang biasanya dikumpulkan sebagai sumber kayu bakar atau sebagai kayu asap.

b. Pembongkaran dan pengumpulan tunggul/perumpukan 
Pembongkaran tunggul dilakukan dengan mendorong tunggul yang disisakan sepanjang 30 cm menggunakan crawler tractor dan dikumpulkan pada tiap-tiap barisan yang berjarak 10 m. Di beberapa daerah sisa-sisa tunggul masih bisa dijual sehingga akan mengurangi biaya pengangkutan. Tunggul-tunggul yang sudah kering dikumpulkan menjadi beberapa bagian (spot-spot) lalu dibakar. Saat ini pembakaran sudah dilarang dalam penyiapan lahan, untuk mempercepat pelapukan sisa tunggul maka dapat dibantu dengan penanaman kacangan penutup tanah. Untuk daerah-daerah ber lereng sisa tunggul didorong ke daerah lembahan dan diharapkan akan melapuk dengan sendirinya.

c. Ripper 
Ripper dilakukan apabila tahap pembongkaran sudah selesai dan sisa-sisa tunggul sudah dirumpuk menjadi spot-spot dan tidak berada dalam barisan lagi. Ripper dilakukan dua kali, Ripper pertama dilakukan dengan melintang ke arah Timur-Barat, Ripper kedua ke arah Utara-Selatan. Untuk lahan-lahan yang miring putaran pertama dilakukan ke atas dan kemudian ke bawah lalu dilanjutkan dengan rippper kedua dan seterusnya. Alat yang digunakan adalah Ripper yang ditarik dengan traktor rantai D6/D8. Kedalaman ripper 50 cm, selang waktu antara ripper I dengan ripper II berselang 2-3 minggu. Setiap kali ripper di ikuti dengan ayap akar. Tujuannya adalah untuk mengumpulkan sisa akar yang masih tertinggal ketika pembongkaran. Dalam pengelolaan perkebunan karet diusahakan agar akar berada di permukaan dan terkena cahaya matahari, tujuannya adalah untuk mengurangi potensi JAP dari sisa akar tanaman karet.

d. Luku (Bajak) 
Pekerjaan luku dilakukan dua kali, dengan alat bajak piringan yang ditarik menggunakan traktor ban. Kedalam luku minimal 40 cm sesuai dengan distribusi akar serabut tanaman karet. Luku dilakukan sebanyak 2 kali dengan arah menyilang saling tegak lurus satu sama lainnya, interval waktu antara luku I dan luku II selang 2-3 minggu. Setiap kali pembajakan di ikuti dengan ayap akar.


Sumber: https://blogs.uajy.ac.id/teknopendidikan/seva-mobil-bekas/