Perkembangan Nahdlatul Wathan Diniah Islamiah (NWDI)
By: Date: July 17, 2020 Categories: Umum

Perkembangan Nahdlatul Wathan Diniah Islamiah (NWDI)

Pada tahun 1952, madrasah-madrasah cabang NWDI yang didirikan oleh para alumni di berbagai daerah yakni tempat tinggal masing-masing telah berjumlah 66 buah. Maka untuk mengkoordinir, membina dan mengembangkan madrasah-madrasah cabang tersebut beserta seluruh amal usahanya, al-Mukarram Maulana al-Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid mendirikan organisasi Nahdlatul Wathan yang bergerak di dalam bidang pendidikan, sosial dan dakwah islamiyah pada tanggal 15 Jumadil Akhir 1372 H/1 Maret 1953 M. sampai dengan tahun 1997 ini lembaga-lembaga pendidikan yang dikelola oleh Organisasi Nahdlatul Wathan telah berjumlah 747 buah dari tingkat taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi, begitu juga lembaga sosial dan dakwah islamiyah Nahdlatul Wathan berkembang dengan pesat bukan hanya di NTB melainkan juga diberbagai daerah di Indonesia seperti NTT, Bali, Jawa Timur, Jawa Barat, DKI Jakarta, Riau, Sulawesi, Kalimantan, bahkan sampai ke mancanegara seperti Malaysia, Siangapura, Brunei Darussalam, dan lain sebagainya.

Namun, jauh sebelum itu semua berkembang dengan begitu pesat, sekiranya kita mengetahui bahwasanya begitu banyak rintangan-rintangan dan ujian yang beliau hadapi khususnya dari masyarakat Pancor sendiri. Salah satu ujian yang cukup berat yang beliau rasakan adalah ketika beliau di fitnah oleh sebagian masyarakat yang memang kontra terhadap beliau yang pada akhirnya beliau tidak diperbolehkan untuk melaksanakan sholat jum’at di Pancor, sehingga dengan terpaksa beliau harus jum’atan di Labuhan Haji selama kurang lebih 3 bulan. Akan tetapi, itu semua tidak membuat semangat beliau lemah dan justru karna itu semua menjadikan beliau lebih termotivasi untuk terus berjuang mendirikan madrasah dalam rangka menjalankan syariat Islam.

berjuang mendirikan Nahdlatul Wathan Diniah Islamiah

Selain itu juga, alasan beliau untuk terus berjuang mendirikan Nahdlatul Wathan Diniah Islamiah (NWDI) karena beliau merasa penyebaran dan pengembangan islam melalui system pendidikan kemadrasahan, yang dimana menurut pandangan beliau saat itu adalah Fardhu Ain, dan juga beliau melihat pada masa itu banyak sekali kebodohan dan keterbelakangan yang melanda sebagian besar masyarakat wilayah Lombok Timur terutama di kalangan remaja sasak yang di akibatkan pleh banyaknya tekanan-tekanan dari tindakan politik colonial Belanda dan kerajaan Hindu-Bali yang sudah beratus-ratus tahun menguasai daerah Lombok.
Dengan perjuangan Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, yang begitu besar, ternyata bukan suatu perjuangan yang sia-sia karena beliau berhasil mencapai keinginannya untuk mendirikan madrasah Nahdlatul Wathan Diniah Islamiah (NWDI) itu sendiri dan terus berkembang seperti yang kita rasakan hingga saat ini. Adapun mata pelajaran yang diajarkan pada saat itu yakni Membaca Al-Qur’an, Tajwid, Tafsir, ushul Tafsir, Hadits, Tauhid, Fiqih, Ushul Fiqih, Tashawuf, Tarikh, Ilmu-ilmu bahasa Arab seperti Nahwu, Sharaf, Balagoh, ‘Arud, Ilmu falak, Manthiq dan lain-lain. Waktu belajarnyapun dilaksanakan pada sore hari, yakni dari pukul 13.30-17.00 WITA.
Di antara inovasi atau rintisa-rintisan beliau yang lain adalah menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran agama Islam di NTB dengan sistem madrasi, membuka lembaga pendidikan khusus untuk wanita, mengadakan ziarah umum Idul Fitri dan Idul Adha dengan mendatangai jamaah di samping didatangi, meyelenggarakan pengajian umum secara bebas, mengadakan gerakan doa dengan berhizib, mengadakan syafaat al-kubro, menciptakan tariqat, yakni tariqat Hizib Nahdlatul Wathan, membuka sekolah umum disamping sekolah agama (madrasah), menyusun nazam berbahasa Arab bercampur bahasa Indonesia, dan lain sebagainya.

SUmber: https://pulauseribumurah.com/iphone-x-datang-lebih-cepat/