Konservasi Keanekaragaman Hayati
By: Date: July 22, 2020 Categories: Umum
Konservasi Keanekaragaman Hayati

Konservasi Keanekaragaman HayatiKonservasi Keanekaragaman Hayati

Keluarnya surat Menteri Kehutanan yang telah menunjuk Sebangau sebagai Taman Nasional ke-50 pada 19 Oktober 2004 melalui Surat Keputusan Nomor. SK.423/Menhut-II/2004, tindakan konservasi memiliki manfaat penting penting dalam pengelolaannya demi menjaga dan mengembalikan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Hal ini dikarenakan kawasan Sebangau merupakan hutan produksi yang dikelola dan ijinnya telah berakhir sehingga pembalakan liar terjadi setelahnya. Di dalam kawsan tersebut terdapat spesies makhluk hidup seperti orang-utan dan spesies lainnya seperti bekantan, beruang madu, owa-owa, burung enggang, harimau dahan dan beberapa spesies tumbuhan seperti anggrek, kantong semar, jamur dan lainnya.
Dalam perkembangannya, konservasi merupakan tahap awal sebagai dasar perlindungan ekologi, dengan menggunakan teknik yang signifikan dalam mengembangkan kerapatan, topik dan keuntungan dari konservasi itu sendiri. Arambiza & Painter (2006) mengemukakan suatu gagasan dimana perlu dicari suatu model manajemen konservasi yang dapat digunakan dalam pengelolaan lahan di daerah tropis secara terpadu untuk mendapatkan keseimbangan antara kebutuhan lahan, kebutuhan masyarakat, penyangga kehidupan, konservasi keanekaragaman hayati serta fungsi ekosistem.
Upaya yang dilakukan para ahli untuk mengadakan pembaharuan dan masih dibutuhkan adanya sebuah konsep yang efektif dalam memenuhi kebutuhan dasar manusia dan juga tepat digunakan untuk melindungi keanekaragaman yang ada di kawasan tanam nasiona. Para ahli ikut merespons konsep ini untuk menjawab konsep berbagi (sustainability science) secara luas pada kemampuan memperbaharui (sustainability) dan terapannya telah menjadi dasar munculnya berbagai penelitian lanjutan (Arambiza & Painter, 2006).
Perlindungan terhadap kawasan konservasi sering dianggap sebagai pembatasan ruang gerak masyarakat yang ada di sekitarnya. Oleh sebab itu di dalam pengelolaan Kawasan Taman Nasional Sebangau dikembangkan sistem zonasi berdasarkan proses pemetaan partisipatif, dimana adanya kesepakatan bersama dengan masyarakat untuk menetapkan areal-areal yang merupakan wilayah tradisional masyarakat, areal yang perlu direhabilitasi dan areal inti. Dengan demikian diharapkan ada tanggungjawab bersama dalam menjaga kelestarian wilayah tersebut, dengan tetap memperhatikan pertimbangan secara ilmiah dan objektif mengenai kondisi dan kelayakan lingkungan.
Dengan adanya Taman Nasional, Sebangau dapat tetap terjaga kelestariannya dan sekaligus tetap dapat memberi manfaat bagi masyarakat yang hidup di sekitarnya. Usaha penjagaan kelestarian dan pemberian manfaat sumber daya alam di kawasan Sebangau pada masyarakat sekitarnya dilakukan oleh Balai Taman Nasional Sebangau bekerjasama dengan WWF-Indonesia. Kerjasama ini juga dikoordinasikan dengan pemerintah provinsi dan kabupaten serta dinas/instansi terkait lainnya.

3. Ekowisata

Ekowisata diperkenalkan oleh organisasi The Ecoutourism Society (1990), dengan arti suatu bentuk perjalanan wisata ke area alami yang dilakukan dengan tujuan mengkonservasi lingkungan dan melestarikan kehidupan dan kesejahteraan penduduk setempat. Ekowisata biasanya dilakukan oleh wisatawan pecinta alam dengan keinginan daerah tujuan wisata tetap utuh dan lestari di samping budaya dan kesejahteraan masyarakatnya tetap terjaga. Tidak terlepas dari kegiatan tersebut, ekowisata juga memberi manfaat bagi pebisnis dan biasanya dilakukan sebagai perjalanan bisnis. Berdasarkan pada kegiatan tersebut, muncullah pengertian ekowisata yang baru yaitu bentuk baru dari perjalanan bertanggungjawab ke area alami dan berpetualangan yang dapat menciptakan industri pariwisata (Eplerwood, 1999).
Ekowisata merupakan bentuk wisata yang dikelola dengan pendekatan konservasi. Ekowisata biasanya hanya memanfaatkan jasa alam dan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pengetahuan, fisik, dan psikologis wisatawan. Di daerah Taman Nasional Sebangau pada tahun 2003, pihak WWF Kalimantan Tengah memberangkatkan salah satu Strategic Planning dengan membentuk Working Group Community Empowerment untuk menjadikan konservasi hutan serta isinya bermanfaat bagi masyarakat. Ada beberapa manfaat penting dari pengembangan ekowisata di kawasan taman nasional sebangau, yakni:
  • Meningkatkan pengembangan di bidang ekonomi.
  • Mengkonservasi warisan alam & budaya.
  • Meningkatkan kualitas kehidupan dalam masyarakat lokal.
IUCN (1995) menggambarkan bahwa di taman nasional yang mendapat pemasukan dari wisatawan, tidak hanya menciptakan pekerjaan dan meningkatkan pendapatan tetapi juga dapat digunakan untuk mendukung memenuhi kebutuhan masyarakat lokal yang digunakan untuk:
  • Memperbaiki fasilitas komunikasi dan jalan-jalan.
  • Pendidikan;
  • Pelatihan
  • Pelayanan kesehatan.
Pengelolaan ekowisata pada kawasan Taman Nasional Sebangau adalah salah satu cara untuk membantu masyarakat untuk mempertahankan atau memerbaiki standar kehidupan dan kualitas kehidupan mereka. Hal itu dapat diukur pada bebrapa aspek seperti pengurangan polusi air dan udara serta peningkatan akses ke tempat-tempat wisata dan taman nasional pada bagian lainnya.