Sosial Ekonomi Masyarakat
By: Date: July 22, 2020 Categories: Umum
Sosial Ekonomi Masyarakat

Sosial Ekonomi MasyarakatSosial Ekonomi Masyarakat

Perdebatan antara pengelola Taman Nasional (TN) dengan masyarakat lokal, penebang liar, dan pemerintah daerah, terutama sekali berkaitan dengan tata aturan pemanfaatan sumberdaya alam TN dan hak-hak masyarakat atas potensi yang ada dalam TN mewarnai pertengkaran antara pengelola TN dengan masyarakat secara umum. Penciptaan dan penerapan peraturan tentang TN yang kurang mempertimbangkan asupan dari masyarakat merupakan akar pemicu perdebatan panjang yang melelahkan tersebut. Dengan demikian pemahaman tentang keadaan sosial ekonomi dan budaya masyarakat sekitar TNS sangat penting.
Setelah melakukan konservasi di Kawasan Taman Nasional Sebangau dan melakukan wawancara dengan dua perwakilan masyarakat lokal yang bekerja sebagai pengemudi klotok untuk mengantar para peneliti atau badan yang melakukan konservasi dari Dermaga Kereng Bangkirai menuju Taman Nasional Sebangau menyatakan bahwa pekerjaan rata-rata masyarakat di dalam 2 RT adalah sebagai nelayan. Jumlah penduduk yang diperkirakan ada di wilayah Kereng Bangkirai sebagai jalur masuk utama ke Kawasan Taman Nasional Sebangau berjumlah kira-kira 150 kepala keluarga memiliki pendidikan rata-rata tamatan SLTA dan sebagian adalah tamatan Universitas. Sebelum bahkan sampai sudah terbentuknya Taman Nasional Sebangau pernah terjadi konflik dengan masyarakat, dikarenakan masyarakat belum mengetahui arti penting dan tujuan dari Taman Nasional. Masyarakat merasa takut akan dilarang untuk datang dan memperoleh hasil dari Taman Nasional ini karena sebelumnya masyarakat menggunakan wilayah ini untuk mengambil hasil hutannya dan sebagai mata pencaharian masyarakat sehingga terjadi kesalahan komunikasi antara masyarakat dengan pengurus Taman Nasional Sebangau. Untuk melakukan pendekatan dengan masyarakat maka pengurus sosialisasi dan studi banding serta diberikan bantuan-bantuan seperti pembuatan keramba dan pemeliharaan sapi sehingga secara perlahan akhirnya masyrakat mengerti dan mulai menerima keberadaan taman ini.

Efek langsung yang diberikan Taman Nasional Sebangau

Efek langsung yang diberikan Taman Nasional Sebangau ini terhadap masyarakat adalah penghasilan yang diperoleh masyarakat melalui jasa transportasi, membantu penelitian yang didominasi oleh para peneliti terutama yang melakukan konservasi. Selain itu banyaknya pengunjung yang menuju ke Taman Nasional yang singgah ke wilayah wisatanya di Pelabuhan Kereng Bangkirai meningkatkan perekonomian masyarakat baik itu melalui uang masuk ke kawasan maupun jasa foto yang ada serta warung yang menyediakan berbagai macam cemilan yang banyak dikunjungi pengunjung.
Menurut Awang (2006), mengikuti penelitian yang pernah dilakukan oleh Persoon & Aliayub (2002) secara ekonomi dan budaya, kehidupan dan cara hidup penduduk tersebut bergantung pada potensi sumberdaya alam yang ada di dalam kawasan hutan yang ditunjuk sebagai kawasan Taman Nasional Sebangau. Secara umum kegiatan ekonomi kayu sangat dominan dalam keluarga. Masyarakat banyak menggantungkan hidupnya di lahan bekas HPH sebelum menjadi Taman Nasional untuk mengambil kayu.
Sumber ekonomi masyarakat yang penting adalah kegiatan menangkap ikan di sungai-sungai dan danau-danau kecil di dalam kawasan yang ditunjuk sebagai kawasan TNS. Etnik Dayak dan Banjar mendominasi kegiatan penegkapan ikan untuk pemenuhan ekonomi susbsisten (cukup dikonsumsi sendiri) dan untuk “cash income” keluarga. Ikan segar berbagai jenis di jual dengan harga antara Rp 6.000 – Rp 8.000 per kg. Bagi masyarakat di desa-desa sekitar Pegatan, penangkapan udang di muara dan laut merupakan sumber ekonomi penting, masyarakat pada pagi hari sudah pergi dengan perahu “klotok” mereka untuk menangkap udang di laut dengan menggunakan jaring sungkur.
Jenis ikan yang terdapat di perairan sungai-sungai dan danau-danau kecil sekitar dan dalam kawasan Taman Nasional Sebangau yang ditangkap oleh masyarakat tahun 2002 dan tahun 2006 adalah antara lain: udang sungai, seluang, kalatau (tampala/sambaling), kapar/kakapar, tatabun, patun, bapuiuk, haruan/gabus, meau,karandang, kihung, tahumas, ikan tapah, kesung, peang, lawang, padadasei, la’is, baung, buaya sampit, buaya kaman, buaya katak, balidah, bakut, pentet, lindung, lambaiut. Semua ikan yang ditangkap tersebut dikonsumsi langsung oleh keluarga, dan dijual dalam bentuk segar atau diasinkan. Kegiatan ekonomi yang berasal dari pertanian, kehutanan dan peternakan juga memberikan kontribusi penting bagi ekonomi masyarakat. Kegiatan pertanian seperti berladang membukan hutan dengan teknik tebas dan bakar untuk mendapatkan padi untuk dikonsumsi oleh keluarga. Kegiatan pertanian ini tidak dilakukan oleh semua masyarakat, sebab banyak penduduk lebih suka menebang kayu untuk memperoleh uang dengan cepat (instant income). Di desa-desa transmigrasi yang penduduknya berasal dari Jawa dan sunda biasanya menanam ubi kayu, pisang, jagung, lada, dan tanaman palawija lainnya.

Penduduk Dayak biasa juga memelihara sapi dan masyarakat Jawa lebih suka memelihara kerbau. Memelihara sapi bagi orang dayak ada kaitannya dengan upacara tiwah, upacara pemakan kedua kali bagi masyarakat yang mampu, sebagai penghormatan kepada yang meninggal. Upacara tiwah ini merupakan upacara budaya dayak yang sering dilakukan sampai sekarang. Sementara itu hewan kerbau digunakan oleh masyarakat transmigrasi untuk pengolahan lahan sawah.

Recent Posts