Masa Reformasi (1998-selesai)
By: Date: July 24, 2020 Categories: Otomotif

Masa Reformasi (1998-selesai)

Pada awal reformasi ini perekonomian Indonesia di tandai dengan krisis moneter yang berlanjut menjadi krisis ekonomi yang sampai saat ini menjadi krisis ekonomi, yang sampai saat ini belum menunjukkan tanda-tanda kearah pemulihan.

Walaupun ada pertumbuhan ekonomi sekitar 6% untuk tahun 1997 dan 5,5% untuk tahun 1998 dimana inflasi sudah diperhitungkan, namun laju masih cukup tinggi yaitu rata-rata 10%.

Pada tahun1998 hampir seluruh sektor ekonomi mengalami pertumbuhan negatif, hal ini berbeda dengan kondisi ekonomi pada pada tahun 1999. Dari Sembilan sektor yang dihitung dalam PDB, ternyata masih ada empat sektor yang mengalami pertumbuhan negatif dalam tahun 1999.

Sektor-sektor tersebut antara lain pertambangan dan penggalian pertumbuhannya -0,11%; sektor perdagangan, hotel dan restoran -1,10%; sektor pengangkutan dan komunikasi -0,72%; dan keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan -8,67%. Menurunnya laju pertumbuhan sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan tersebut terutama disebabakan oleh penurunan laju pertumbuhan sub sektor perbankan yang tercatat -17,34% dan sub sektor sewa bangunan minus 6,10%.

Pada tahun 1999 laju pertumbuhan ekonomiIndonesia diperkirakan telah menjadi positif. Ini menunjukkan pertanda pemulihan ekonomi Indonesia. Berdasarkan perhitungan PDB tahun 1993, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 1999 adalah sebesar 0,23% dan pertumbuhan ekonomi tanpa migas sebesar 0,35%. Niali PDB atas dasar harga konstan 1993 pada tahun 1998 adalah sekitar Rp 376 trilyun dan tanpa migas sekitar Rp 342,8 trilyun dan pada tahun 1999 diperkirakan meningkat menjadi Rp 376,9 trilyun dan tanpa migas menjadi 343 trilyun.

Dan ukuran lain yang digunakan untuk melihat kinerja pemerintah adalah pendapatan perkapita dan nilai dollar (kurs). Untuk meningkatkan kinerja sektor riil masih memerlukan waktu 3-5 tahun untuk benar-benar tangguh.

Namun hal ini diperlukan pendekatan yang komprehensif, karena kalau bicara inefisiensi, Indosesia masih high cost economic (ekonomi biaya tinggi), yang artinya menyangkut masalah yang berada di instansi

yang berbeda-beda. Jadi untuk pertumbuhan ekonomi harus ada koordinasi dan pendekatan konsentrasi antar instansi pemerintah.

Sumber :

https://phpmag.net/samsung-galaxy-note-8-masuk-thailand-dan-malaysia/