Anak yang Suka Menunda Mengerjakan Tugas
By: Date: August 17, 2020 Categories: Umum Tags:

Alasan orang tua terlihat sangat marah ketika melihat anaknya tidak mengerjakan tugas sekolah dan lebih banyak bermain.

Kadang-kadang penundaan bea cukai sedang berjalan dengan baik ketika lelaki tua itu menyuruh bocah itu melakukan hal-hal lain seperti membersihkan mainan atau membersihkan piring setelah makan. Jika ya, bagaimana Anda menghadapinya?

Mengapa anak sering menunggu tugas atau tugas?

Pekerjaan keterlambatan anak

Banyak psikolog mengatakan bahwa penundaan adalah cara individu untuk mengatasi stres. Ada juga yang menggunakan alasan seperti mencari inspirasi, agar bekerja bisa menghasilkan hal yang lebih baik.

Akan tetapi, anak akan mengabaikan hal-hal yang terasa tidak menyenangkan atau tidak menyenangkan. Mereka hanya akan melakukannya jika ada tenggat waktu atau kompilasi tugas yang harus dilakukan. Tak hanya anak-anak, orang dewasa pun kerap melakukannya.

Kemungkinan tanggung jawab lain yang diberikan terasa sangat sulit karena dia tidak tahu pada peluncuran pertama. Belum lagi jika seorang anak kesulitan mempertahankan fokus, maka akan membutuhkan waktu untuk tetap fokus dan tidak memulainya.

Bagaimana mengatasi kebiasaan anak yang suka menunda

Untunglah kebiasaan bagian-bagian alam atau ciri-ciri tertentu pada seorang anak yang sudah terbentuk sejak kecil. Kebiasaan bisa diubah untuk mencegah kambuh, termasuk jika anak sudah mulai bekerja.

Nantinya, kebiasaan yang terbawa saat menghadapi senam juga bisa membuat presentasi di sekolah jadi bisa turun. Nah, tulungake anak dengan langkah-langkah di bawah ini.

1. Beri aturan tegas agar anak tidak menunda pekerjaan
Seringkali, anak menunda tanggung jawab yang tidak penting baginya. Namun, tidak penting bagi seorang anak bukan berarti tidak penting bagi kehidupan. Cobalah untuk mulai mendisiplinkan anak Anda dengan aturan yang ketat.

Misalnya, Anda mendapatkan beberapa jam yang dibutuhkan seorang anak untuk melakukan pekerjaan rumah tangga, mungkin satu jam atau 90 menit.

Selama waktu ini, anak harus menjalankan tanggung jawabnya. Selanjutnya, Anda dapat memberi mereka hadiah kecil seperti bermain game favorit Anda atau menonton film favorit Anda.

2. Jadikan anak itu tugas
Seperti yang kita ketahui bersama, salah satu hal yang bisa menjadi alasan dibalik kebiasaan menggantung adalah tugas yang sulit. Terkadang alasan ini mungkin disertai rasa takut atau keengganan untuk bertanya.

Jika ya, tanyakan kepada anak tentang faktor penahannya. Jika tanggung jawab adalah tugas sekolah, bimbing anak tentang beberapa materi yang tidak diketahui.

Jika tanggung jawab terkait dengan tugas rumah tangga, berikan contoh kepada anak bagaimana mengerjakannya dan jelaskan beberapa hal yang dapat dilakukan untuknya.

3. Untuk tugas di beberapa bagian kecil
Akhir pekan yang biasa dijadikan sebagai jadwal bersih-bersih seluruh rumah, Anda juga meminta bantuan seorang anak untuk mulai membersihkan kamar sendiri.

Menghadapi ruangan yang penuh sesak bisa membingungkan bagi seorang anak dan mereka tidak tahu harus mulai dari mana. Untuk mengatasinya, Anda bisa membagi tugas menjadi beberapa tugas kecil.

Misalnya, Anda bisa meminta anak untuk membersihkan pakaian yang ada di lemari. Setelah selesai, minta anak untuk membersihkan dan menyortir barang-barang yang tidak terpakai dari meja belajar. Lanjutkan sampai semuanya selesai.

4. Ajari anak untuk memilih prioritas
Bantulah anak-anak untuk memprioritaskan tugas dan tujuan yang ingin Anda tutupi dari tanggung jawab. Ini juga membantu memperkirakan berapa banyak waktu yang dibutuhkan serta hal-hal lain yang diperlukan untuk memenuhi tanggung jawab Anda.

5. Biarkan anak menerima konsekuensinya
Terkadang, jadi pilihan terbaru anak Anda jika Anda tetap tidak mengubah kebiasaan mengirim tunda. Jangan panik saat mencari anak yang masih asyik bermain atau bersantai dan tidak mengerjakan pekerjaannya hingga larut malam, apalagi sampai mengerjakan tugas anaknya.

Biarkan anak menerima konsekuensinya. Memang, belakangan mengeluh bahwa dia akan menyesal karena mengejar beberapa waktu dan mengorbankan waktu istirahat untuk melaksanakan tugas. Dia bahkan mungkin mengeluh tentang hukuman atau pelecehan oleh guru di sekolahnya.

Dengan segala konsekuensi yang tidak mempengaruhinya, anak tahu bahwa tuntutan menunda pekerjaan tidak akan mudah untuk dijalani.