Jenis-Jenis Perusahaan Dagang

Jenis-Jenis Perusahaan Dagang

Jenis-Jenis Perusahaan Dagang

Jenis-Jenis Perusahaan Dagang
Jenis-Jenis Perusahaan Dagang

Berdasarkan Produk Yang Diperdayakan

Perusahaan Dagang Barang Produksi, yaitu perusahaan yang memperjualbelikan produk materi baku (raw material) sebagai materi dasar pembuatan produk atau alat produksi untuk menghasilkan produk lain. Seperti kayu gelondongan dan mesin gergaji.

Perusahaan Dagang Barang Jadi, yaitu perusahaan yang memperdagangkan produk final atau dalam bentuk final yang siap untuk dikonsumsi manusia. Seperti buku,sepatu dan lain sebagainya.

Berdasarkan Ruang Lingkupnya

Berdasarkan ruang lingkup, perusahaan dagang dibedakan menjadi dua, yaitu pedagang besar dan pedagang kecil.

Pedagang besar, yaitu pedagang yang membeli barang dagangan dari produsen dan menjualnya ke pedagang kecil secara partai

Pedagang kecil, yaitu pedagang yang membeli barang dagangan dari pedagang besar dan menjualnya ke konsumen secara eceran.

Berdasarkan Macam Konsumen Yang Terlibat

Perusahaan Dagang Besar (Wholesaler), yaitu perusahaan yang secara eksklusif membeli produk dari pabrik dalam jumlah yang besar. Perusahaan lalu menjual barangnya ke sebagian pedagang dengan mediator dengan volume penjualan yang cukup besar. Contohnya perusahaan dagang besar ialah grosir.

Perusahaan Dagang Perantara (Middleman), yaitu perusahaan yang membeli dalam partai besar untuk dijual kembali ke pengecer dalam jumlah sedang. Contoh perusahaan dagang besar diantaranya subgrosir.

Perusahaan Dagang Pengecer (Retailer), yaitu perusahaan yang eksklusif bekerjasama dengan konsumen. Konsumen sanggup membeli secara eceran produk yang ditawarkan. Contoh perusahaan dagang pengecer diantaranya warung, kios dan swalayan.


Baca Juga :

Pengertian Bank Syariah Menurut Para Ahli

Pengertian Bank Syariah Menurut Para Ahli

Pengertian Bank Syariah Menurut Para Ahli

Pengertian Bank Syariah Menurut Para Ahli
Pengertian Bank Syariah Menurut Para Ahli

Schaik

Menurut Schaik, Bank Syariah ialah bentuk bank modern yang berdasarkan pada aturan islam, dikembangkan pada era pertengahan Islam, memakai konsep bagi risiko sebagai sebagai metode utama dan meniadakan sistem keuangan berdasarkan kepastian dan keuangan yang telah ditentukan sebelumnya.

Siamat Dahlan

Menurut Siamat Dahlan, Bank Syariah ialah bank yang menjalankan usahanya berdasar prinsip-prinsip syariah dengan mengacu pada Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Sudarsono

Menurut Sudarsono, Bank Syariah ialah forum keuangan yang memeberikan kredit dan jasa-jasa lainnya dalam kemudian lintas pembayaran serta peredaran uang yang beroperasidengan prinsip-prinsip syariah.

M. Syafe’i Antonio dan Perwataatmadja

Menurut M. Syafe’i Antonio dan Perwataatmadja, Bank Syariah ialah bank yang beroperasi berdasarkan prinsip-prinsip syariah islam dan tata caranya mengacu kepada ketentuan Al-Qur’an dan Hadits.

UU No. 10 Tahun 1998

Menurut UU No. 10 Tahun 1998, Bank Syariah ialah bank yang menjalankan aktivitas berdasar prinsip syariah dan berdasarkan jenisnya terdiri atas bank umum syariah san bank pembiayaan rakyar syariah.

Ensiklopedi Islam

Menurut Ensiklopedi Islam, Bank Islam ialah forum keuangan yang perjuangan pokoknya memperlihatkan kredit dan jasa-jasa dalam lalulintas pembayaran serta peredaran uang yang pengoprasiannya diubahsuaikan dengan prinsip-prinsip syariah islam.

Drs. H. Karnaen Perwata Atmadja

Menurut Drs. H. Karnaen Perwata Atmadja , Bank Islam ialah bank yang beroperasi sesuai denan prinsip-prinsip syariah islam yang tata cara operasionalnya mengacu pada ketentuan-ketentuan Al-Qur’an dan Al-Hadits.


Sumber: https://danu-aji-s-school.teachable.com/blog/209399/seva

Jenis-Jenis Bank Syariah

Jenis-Jenis Bank Syariah

Jenis-Jenis Bank Syariah

Jenis-Jenis Bank Syariah
Jenis-Jenis Bank Syariah

Bank Umum Syariah

Bank Umum Syariah ialah bank syariah yang dalam aktivitas usahanya memperlihatkan jasa kemudian lintas pembayaran. Contohnya: PT. Bank Muamalat Indonesia, PT. Bank Syariah Mandiri, PT. Bank BRI Syariah, PT. Bank BNI Syariah dan lain sebagainya.

Unit Usaha Syariah

Unit Usaha Syariah ialah unit kerja dari kantor sentra Bank Umum Konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dan unit kantor cabang yang melaksanakan aktivitas perjuangan berdasarkan prinsip syariah. Contohnya: PT. Bank Tabungan Negara (BTN), PT. Bank CIMB Niaga, PT. Bank Danamon Indonesia, dan lain sebagainya.

Bank Pembiayaan Rakyat Syariah

Bank Pembiayaan Rakyat Syariah ialah bank syariah yang dalam kegiatannya tidak menghimpun dana masyarakat dalam bentuk giro, sehingga tidak sanggup menerbitkan cek dan bilyet giro. Contohnya:
PT BPRS Amanah Rabbaniah, PT BPRS Buana Mitra Perwira, dan lain sebagainya.

Hingga sekarang terdapat sekitar 11 Bank Umum Syariah, 23 Unit Usaha Syariah, dan 163 Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.


Sumber: https://www.artstation.com/ahmadali88/blog/8zL7/seva-used-car-no-1-owned-by-sevaid

Apa Yang Berikutnya Untuk Dunia Muslim

Apa Yang Berikutnya Untuk Dunia Muslim

Apa Yang Berikutnya Untuk Dunia Muslim

Apa Yang Berikutnya Untuk Dunia Muslim
Apa Yang Berikutnya Untuk Dunia Muslim

Sekarang sudah 18 bulan sejak Musim Semi Arab dimulai. Pemberontakan-pemberontakan itu berhasil mengakhiri pemerintahan brutal Hosni Mubarak di Mesir, Ben Ali di Tunisia hingga Libya Kolonel Gaddafi, sementara Basher al Assad masih hendak terus menggenggam kekuasaannya. Pemilihan umum telah terjadi di sejumlah negara dimana kita melihat partai-partai Islam memperoleh kemenangan secara signifikan, sedangkan kaum sekularis menderita kekalahan. Perdebatan dan diskusi tentang konstitusi baru dan peran Islam terus mendominasi Musim Semi Arab.

Apakah sekarang Musim Semi Arab mencapai kesudahannya ketika berhasil menggantikan diktator-diktator yang didukung Barat dengan pemerintahan Islam?

Di Tunisia, Maroko dan Mesir, para pemilih yang berjumlah jutaan telah dengan jelas menyatakan penentangan mereka terhadap nilai-nilai liberal sekuler dan ada keinginan kuat bagi pemerintahan Islam. Namun partai-partai yang sama berusaha keras untuk menunjukkan mandat Islam mereka kepada massa dalam kampanye pemilunya, dan sekarang berusaha lebih keras untuk menunjukkan sikap lunak mereka kepada Barat. Memang sikap mereka yang terburu-buru untuk menenangkan apa yang disebut sebagai opini internasional, mereka telah meninggalkan kepura-puraannya menjadi politisi Islam. Dalam melakukannya, mereka bersikap pragmatis, pintar dan cerdas secara politik. Namun, apa yang telah mereka tunjukkan adalah oportunisme, standar ganda dan bahwa mereka tidak lebih berprinsip daripada rekan-rekan sekuler mereka. Ketika berkaitan dengan penerapan politik Islam, mereka mengungkapkan hambatan-hambatan konstitusional dan perlunya menjaga kaum minoritas. Ketika berkaitan dengan penerapan ekonomi Islam, mereka mengungkapkan perlunya menghindari ketakutan investor internasional dan para wisatawan. Ketika berkaitan dengan penerapan kebijakan luar negeri Islam, mereka mengungkapkan perlunya menampilkan kesan moderat dan memenuhi tuntutan Barat. Memang, seperti itulah kehati-hatian mereka, kelemahan dan keinginan mereka untuk menyenangkan Barat, dan mereka kini hanya menjadi politisi Islam dalam hal nama saja. Realitas pada saat ini adalah bahwa kelompok-kelompok Islam yang mendekam di sel-sel penyiksaan milik penguasa seperti Mubarak yang menggembar-gemborkan ‘Islam adalah solusi’, pada saat ini benar-benar mencegah umat dari pemerintahan Islam.

Jadi apa yang salah dengan kelompok-kelompok Islam?

Kelompok-kelompok Islam, baik Ennahda di Tunisia maupun Partai Keadilan dan Kebebasan (FJP) dari Ikhwanul Muslimin di Mesir telah membuat satu kesalahan strategis satu persatu. Partai-partai Islam telah memenangkan pemilu yang cacat sejak awal. Pemilu adalah untuk parlemen yang merupakan peninggalan dari semua hal yang salah di dunia Muslim. Partai-partai Islam itu alih-alih mengubah dan mengganti sistem tersebut, mereka malah masuk dalam sistem yang korup dan menggantikan Ben Ali dan Hosni Mubarak dengan diri mereka sendiri dalam mempertahankan sistem yang korup dan sekuler.

Sementara banyak dari kelompok-kelompok Islam yang sekarang berkuasa, yang mengorbankan banyak hal di masa lalu dan menerima banyak kebrutalan dari para penguasa diktator, membuat perhitungan politik mereka yang berakar pada mitos. Mereka percaya bahwa sistem Islam hanya dapat diimplementasikan secara bertahap. Sementara kelompok-kelompok yang telah mencapai kekuasaan tidak memiliki banyak hal dalam pengembangan kebijakan dan mereka berpendapat bahwa solusi Islam tidak siap untuk menghadapi masalah-masalah seperti kemiskinan, pengangguran dan masih dalam pengembangan. Mereka juga percaya kebohongan bahwa penerapan Islam akan bisa menakut-nakuti kaum minoritas, menakut-nakuti investor dan menakut-nakuti masyarakat internasional.

FJP tidak lagi memakai slogan mereka “Islam adalah solusi ‘ dan telah membuat pernyataan-pernyataan kebijakan yang kontradiktif karena mereka terus-menerus kembali mundur dalam upaya untuk menenangkan semua orang. Saad al-Husseini, anggota Partai Kebebasan dan Keadilan Mesir dan eksekutif biro partai itu mengatakan dalam sebuah wawancara, bahwa pariwisata sangat penting bagi Mesir dan menekankan bahwa minum dan menjual alkohol adalah dilarang dalam Islam. Namun, ia kemudian menambahkan, “Namun hukum-hukum Islam juga melarang memata-matai tempat-tempat pribadi dan hal ini berlaku juga untuk pantai… saya ingin ada 50 juta turis yang akan melakukan perjalanan ke Mesir meskipun mereka datang dengan telanjang.”

Keengganan mereka untuk menerapkan Islam dalam keseluruhan resiko memberikan kesan bahwa sistem Islam tidak bisa memecahkan masalah-masalah pada hari ini. Umat yang berjumlah jutaan yang memilih partai-partai Islam itu menginginkan Islam. Memang hal itu seperti menggurui umat, dimana puluhan juta memilih mereka karena solusi Islam dan bahwa mereka tidak siap menghadapi konsekuensi dari solusi yang mereka pilih.

Inilah sebabnya mengapa pemilu ini cacat sejak awal. Demokrasi pada kenyataannya memungkinkan terpilihnya kelompok-kelompok dan individu-individu yang dapat membuat aturan-aturan yang dapat mereka jalankan bersama. Setelah bekerja selama beberapa dekade bagi pelaksanaan Islam, kelompok-kelompok Islam yang berkuasa sekarang di ambang pintu membuang-buang kesempatan yang ada.

Sumber : https://student.blog.dinus.ac.id/blogtekno/seva-mobil-bekas/

 

Memiskinkan dan Menyengsarakan Rakyat

Memiskinkan dan Menyengsarakan Rakyat

Memiskinkan dan Menyengsarakan Rakyat

Memiskinkan dan Menyengsarakan Rakyat
Memiskinkan dan Menyengsarakan Rakyat

[Al Islam 615] Tak tahan dibelit kemiskinan, Markiah dengan membawa anaknya yang berumur tiga tahun melompat dari sebuah jembatan di Pulo Empang kota Bogor awal Juli lalu untuk mengakhiri hidupnya. Pada Maret lalu di Bandung, seorang ibu bunuh diri karena tak tahan atas himpitan kemiskinan. Saat itu, sang ibu, Herawati lebih dahulu membunuh anaknya dengan ditenggelamkan ke selokan, lalu ia menyayat lengannya sendiri hingga akhirnya tewas.

Juni lalu seorang tukang ojek gantung diri di rumahnya di Cengkareng, Jakarta Barat. Lalu di awal Juli, seorang tukang bakso juga gantung diri di kawasan Ciracas, Jakarta Timur. Kedua pria itu sama-sama bunuh diri diduga karena tidak tahan menghadapi himpitan ekonomi.

Bahaya Kemiskinan

Kemiskinan tidak jarang juga menyebabkan pelaku selain bunuh diri juga membunuh anak atau anggota keluarga yang menjadi tanggungannya. Pelaku khawatir akan masa depan anaknya itu.

Pada pertengahan April lalu, di Bekasi seorang ayah membunuh anaknya setelah ditinggal kabur istri karena tak tahan himpitan ekonomi. Sang ayah yang depresi karena tidak punya pekerjaan tetap dan harus mengasuh anak akhirnya gelap mata dan menghabisi nyawa anaknya sendiri.

Kemiskinan tak jarang juga menjadi biang ketakharmonisan keluarga. Himpitan ekonomi banyak menjadi pangkal percekcokan hingga perceraian. Badan Urusan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung (MA) mencatat selama periode 2005 hingga 2010 terjadi peningkatan perceraian hingga 70 persen (republika.co.id, 24/1). Cerai karena persoalan ekonomi mencapai 67.891 perkara. Yang banyak terjadi kini para istri menuntut cerai dengan alasan kurang nafkah.

Kemiskinan juga bisa memicu kriminalitas. Di Bulukumba, Sulsel, seorang remaja (14 th) di tahan polisi setelah ketahuan mencuri uang Rp 20 ribu untuk membeli makanan guna menyambung hidup. Sementara di Bojonegoro kakak beradik Gita siswa SMP dan Mamat kelas 6 SD bernasib tragis digebuki warga setelah ketahuan mencuri. Keduanya hidup miskin setelah ditinggal kedua orang tuanya mencari pekerjaan di Kalimantan (rri.co.id, 5/5/2012).

Kemiskinan pun tak jarang menjadi alasan terjadinya berbagai masalah sosial lain seperti pelacuran, pencopetan, perampasan dan sebagainya. Juga tak jarang pertengkaran bahkan perkelahian ternyata dilatarbelakangi masalah kemiskinan.

Negara Gagal!

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan jumlah orang miskin di Indonesia turun 0,89 juta orang dari 30,02 juta orang pada Maret tahun lalu menjadi 29,13 juta orang pada Maret 2012 (http://www.bps.go.id/brs_file/kemiskinan_02jul12.pdf). Angka pengangguran tinggal 6,3 %, dan jumlah pengangguran usia muda mencapai 4,2 juta jiwa.

Data itu harus dipertanyakan sebab komponen surveinya tidak realistis. Menurut BPS angka itu adalah perhitungan makro dengan sampel hanya sekitar 68.000 rumah tangga dari sekitar 61 juta rumah tangga di Indonesia (http://bimakab.bps.go.id/files/miskin.pdf). Artinya, hanya menggunakan sampel sekitar 0,1115 % yang tentunya belum dapat mewakili sampel data secara makro di Indonesia. Disamping itu, garis kemiskinan yang digunakan Rp 267.408 untuk perkotaan dan Rp 229.226 untuk pedesaan tidak logis dan tidak sesuai dengan biaya hidup sehari-hari. Angka itu di kota hanya cukup untuk makan sekali secara layak. Lalu bagaimana dengan kebutuhan papan, sandang, pendidikan, kesehatan dan lainnya? Apakah angka dan batas kemiskinan itu logis dan manusiawi?.

Ekonom Indef Enny Sri Hartati menilai program pengentasan kemiskinan yang dibuat pemerintah selama ini telah salah sasaran. Penurunan persentase penduduk miskin sebesar 0,53%, sangat kecil dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 6,5%. Dengan anggaran kemiskinan yang selalu naik, harusnya pemerintah bisa menurunkan angka kemiskinan hingga 5,2 %.

Sosiolog UIN Syarif Hidayatullah, Musni Umar, menilai berbagai klaim keberhasilan pemerintah soal pertumbuhan ekonomi hanya menyentuh masyarakat menengah dan atas. Musni menilai negara yang tidak bisa mengurus orang miskin sebagai negara yang gagal.

Akibat Kapitalisme-Liberalisme

Kemiskinan yang mendera sebagian rakyat negeri ini bukan karena negeri ini miskin. Sebaliknya negeri ini kaya raya. Sebab kemiskinan di negeri ini adalah kekayaan itu tidak terdistribusi secara merata dan adil pada seluruh rakyat. Itu terjadi karena sistem ekonomi kapitalisme yang diadopsi dan diterapkan di negeri ini tidak bisa mendistribusikan kekayaan secara merata dan adil.

Karena itu pangkal penyebab kemiskinan tidak lain adalah sistem ekonomi kapitalisme-liberal yang diterapkan di negeri ini. Dalam sistem ekonomi ini berlaku prinsip ‘survival of the fittest’, siapa yang kuat dialah yang menang. Akibat dari sistem kapitalisme itu, kekayaan terkonsentrasi pada sebagian kecil orang. Menurut ekonom Indef, Enny Sri Hartati, 20 % dari penduduk Indonesia menguasai 48 % PDB, sedangkan mayoritas yaitu 80 % dari penduduk Indonesia hanya menguasai 52 % PDB.

Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tentang distribusi simpanan bank umum April 2012 justru menunjukkan data yang lebih ironis. Menurut data LPS itu, dari total nilai simpanan di bank umum nasional sebesar Rp 2.894,01 triliun, ternyata Rp 1.508,71 triliun-nya (52,13%) dikuasai oleh hanya 0,14% dari total pemilik rekening. Data itu juga menunjukkan, 97,38 % dari total pemilik rekening hanya menguasai Rp 466,49 triliun atau 16,12 % dari total nilai simpanan, sementara itu 2,62 % dari total pemilik rekening menguasai Rp 2.427,52 triliun atau 83,88 % dari total nilai simpanan. Padahal total jumlah rekening hanya 101,532 juta atau kurang dari 50% jumlah penduduk Indonesia.

Keadaan ini diperparah diantaranya oleh maraknya korupsi dari hulu hingga ke hilir. Juga diperparah oleh alokasi anggaran yang tidak berpihak pada rakyat dan pengentasan kemiskinan.

Syariat Islam: Solusi Total

Kemiskinan yang terjadi di negeri ini adalah kemiskinan struktural, diakibatkan oleh sistem dan bersifat sistemik. Masalah kemiskinan tidak mungkin diatasi selama sistem yang menjadi penyebab utamanya yaitu sistem kapitalisme berikut sistem politik demokrasinya terus eksis.

Solusi problem kemiskinan haruslah solusi sistemik dan ideologis, yaitu dengan jalan mencampakkan sistem ekonomi kapitalisme liberal. Hal itu tidak bisa dilakukan kecuali dengan juga merubah sistem kapitalisme yang eksis. Solusi sistemik dan ideologis itu adalah dengan jalan menerapkan syariah Islam secara utuh termasuk sistem ekonomi Islam dalam bingkai sistem Khilafah Rasyidah.

Hanya sistem Islam lah yang bisa mendistribusikan kekayaan secara merata dan adil. Yaitu melalui penerapan hukum-hukum Sistem Ekonomi Islam termasuk tentang kepemilikan, tasharruf kepemilikan dan pendistribusian harta diantara masyarakat.

Secara lebih khusus, untuk menyelesaikan masalah kemiskinan, Sistem Islam menempuh dua strategi: ekonomi dan non ekonomi. Strategi non ekonomi adalah dengan strategi zakat, infak dan shadaqah. Meski potensi ziswak di negeri ini sangat besar, akan tetapi belum cukup untuk mengatasi kemiskinan, karenanya harus diiringi oleh strategi ekonomis yaitu melalui pemberian jaminan pemenuhan kebutuhan pokok dan asasi masyarakat.

Pemenuhan kebutuhan pokok ditempuh dengan strategi. Pertama, Islam memerintahkan setiap laki-laki agar bekerja untuk memenuhi kebutuhannya dan keluarganya. Dalam hal ini negara wajib menyediakan lapangan kerja untuk rakyat, baik dengan pendekatan langsung maupun tidak langsung. Secara langsung negara bisa membuka lapangan kerja melalui proyek-proyek pembangunan. Sedangkan secara tak langsung, negara harus menciptakan iklim usaha yang sehat dan kondusif. Diantaranya dengan sistem administrasi dan birokrasi yang mudah, sederhana, cepat, dan tanpa pungutan. Negara juga akan menghilangkan dan memberantas berbagai distorsi yang menghambat, seperti penimbunan, kanzul mal (QS at-Tawbah [9]: 34), riba, dsb. Negara pun bisa memberikan bantuan teknis, informasi, dan modal kepada rakyat yang mampu berusaha/bekerja. Negara menghilangkan sektor non riil, sehingga harta berputar di sektor riil sehingga berefek langsung pada perekonomian riil.

Sumber : https://aldirenaldi.blog.institutpendidikan.ac.id/seva-mobil-bekas/

Basis Teori Etika

Basis Teori Etika

Basis Teori Etika

Basis Teori Etika
Basis Teori Etika

a. Etika Teleologi (Yunani : Telos = tujuan), adalah mengukur baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan atau akibat yang ditimbulkan oleh tindakan itu. Terdapat dua aliran etika teleology, yaitu:

  • Egoisme Etis merupakan tindakan dari setiap orang pada dasarnya bertujuan untuk mengejar pribadi dan memajukan dirinya sendiri tanpa memikirkan oranglain. Egoisme ini baru menjadi persoalan serius ketika ia cenderung menjadi hedonistis, yaitu ketika kebahagiaan dan kepentingan pribadi diterjemahkan semata-mata sebagai kenikmatan fisik yg bersifat vulgar.
  • Utilitarianisme merupakan berasal dari bahasa latin utilis yang berarti “bermanfaat”. Menurut teori ini suatu perbuatan adalah baik jika membawa manfaat, tapi manfaat itu harus menyangkut bukan saja  satu dua orang melainkan masyarakat sebagai keseluruhan. Dalam rangka pemikiran utilitarianisme, kriteria untuk menentukan baik buruknya suatu perbuatan adalah “the greatest happiness of the greatest number”, kebahagiaan terbesar dari jumlah orang yang terbesar.

b. Deontologi

Istilah deontologi berasal dari kata  Yunani ‘deon’ yang berarti kewajiban. ‘Mengapa perbuatan ini baik dan perbuatan itu harus ditolak sebagai buruk’, deontologi menjawab : ‘karena perbuatan pertama menjadi kewajiban  kita dan karena perbuatan kedua dilarang’.

Yang menjadi dasar baik buruknya perbuatan adalah kewajiban. Pendekatan deontologi sudah diterima dalam konteks agama, sekarang merupakan juga salah satu teori etika yang terpenting.

c. Teori Hak

Dalam pemikiran moral dewasa ini barangkali teori hak ini adalah pendekatan yang paling banyak dipakai untuk mengevaluasi  baik buruknya  suatu perbuatan atau perilaku. Teori Hak merupakan suatu aspek  dari teori deontologi, karena berkaitan dengan kewajiban. Hak dan kewajiban bagaikan dua sisi uang logam yang sama. Hak didasarkan atas martabat manusia dan martabat semua manusia itu sama. Karena itu hak sangat cocok dengan suasana pemikiran demokratis.

d. Teori Keutamaan (Virtue)

Memandang  sikap atau akhlak seseorang, tidak ditanyakan apakah suatu perbuatan tertentu adil, atau jujur, atau murah hati dan sebagainya. Keutamaan bisa didefinisikan  sebagai berikut : disposisi watak  yang telah diperoleh  seseorang dan memungkinkan  dia untuk bertingkah laku baik secara moral.

Contoh keutamaan :

a.    Kebijaksanaan

b.    Keadilan

c.    Suka bekerja keras

d.    Hidup yang baik

Sumber : http://riskyeka.web.ugm.ac.id/seva-mobil-bekas/

Pendahuluan Etika Sebagai Tinjauan

Pendahuluan Etika Sebagai Tinjauan

Pendahuluan Etika Sebagai Tinjauan

Pendahuluan Etika Sebagai Tinjauan
Pendahuluan Etika Sebagai Tinjauan

Pengertian Etika
Etika adalah Ilmu tentang apa yang baik dan yang buruk, tentang hak dan kewajiban moral. Etika disebut juga filsafat moral adalah cabang filsafat yang berbicara tentang praxis (tindakan) manusia. Etika tidak mempersoalkan keadaan manusia, melainkan mempersoalkan bagaimana manusia harus bertindak.

Untuk lebih memahami mengenai etika, mari kita lihat beberapa pengertian etika itu sendiri. Banyak sumber yang mendefinisikan tentang etika, berikut merupakan pengertian etika yang dikutip dari berbagai macam sumber:

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995) “Etika adalah Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat”
Menurut Maryani & Ludigdo (2001) “Etika adalah Seperangkat aturan atau norma atau pedoman yang mengatur perilaku manusia, baik yang harus dilakukan maupun yang harus ditinggalkan yang di anut oleh sekelompok atau segolongan masyarakat atau profesi”
Menurut Drs. O.P. Simorangkir “Etika atau etik sebagai pandangan manusia dalam berprilaku menurut ukuran dan nilai yang baik.”
Menurut Drs. Sidi Gajalba dalam sistematika filsafat “Etika adalah teori tentang tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari segi baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal.”
Menurut Drs. H. Burhanudin Salam “Etika adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan prilaku manusia dalam hidupnya”
Sedangkan menurut Bertens (1994), etika didefinisikaan dalam tiga pengertian yaitu,
Kata etika bisa dipakai dalam arti nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang/suatu kelompok masyarakat dalam mengatur perilakunya.
Etika berarti kumpulan asas atau nilai moral, yang dimaksud disini adalah kode etik;
Etika mempunyai arti lagi: ilmu tentang yang baik atau yang buruk. Etika disini sama artinya dengan filsafat moral.
2. Prinsip-prinsip Etika

Etika merupakan norma atau aturan yang tentunya didasarkan pada suatu prinsip. Prinsip- prinsip perilaku professional tidak secara khusus dirumuskan oleh ikatan akuntan Indonesia tapi dianggap menjiwai kode perilaku akuntan Indonesia. Adapun prinsip- prisip etika yang merupakan landasan perilaku etika professional, menurut Arens dan Lobbecke (1996 : 81) adalah :

Tanggung jawab

REPORT THIS AD

Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai professional dan pertimbangan moral dalam semua aktifitas mereka.

Kepentingan Masyarakat
Akuntan harus menerima kewajiban-kewajiban melakukan tindakan yang mendahulukan kepentingan masyarakat, menghargai kepercayaan masyarakat dan menunjukkan komitmen pada professional.

Integritas
Untuk mempertahankan dan menperluas kepercayaan masyarakat, akuntan harus melaksanakan semua tanggung jawab professional dan integritas.

Objektivitas dan indepedensi
Akuntan harus mempertahankan objektivitas dan bebas dari benturan kepentingan dalam melakukan tanggung jawab profesioanal. Akuntan yang berpraktek sebagai akuntan public harusbersikap independen dalam kenyataan dan penampilan padawaktu melaksanakan audit dan jasa astestasi lainnya.

Keseksamaan
Akuntan harus mematuhi standar teknis dan etika profesi, berusaha keras untuk terus meningkatkan kompetensi dan mutu jasa, dan melaksanakan tanggung jawab professional dengan kemampuan terbaik.

Lingkup dan sifat jasa
Dalam menjalankan praktek sebagai akuntan publik, akuntan harus mematuhi prinsip-prinsip prilaku professional dalam menentukan lingkup dan sifat jasa yang diberikan.

Sumber : https://silviayohana.student.telkomuniversity.ac.id/seva-mobil-bekas/

Fungsi Bimbingan Konseling

Fungsi Bimbingan Konseling

Fungsi Bimbingan Konseling

Fungsi Bimbingan Konseling
Fungsi Bimbingan Konseling

Ditinjau dari segi sifatnya, layanan Bimbingan dan Konseling dapat berfungsi sebagai:

  1. Fungsi Pencegahan (preventif)

Layanan Bimbingan dan Konseling dapat berfungsi pencegahan artinya : merupakan usaha pencegahan terhadap timbulnya masalah. Dalam fungsi pencegahan ini layanan yang diberikan berupa bantuan bagi para siswa agar terhindar dari berbagai masalah yang dapat menghambat perkembangannya. Kegiatan yang berfungsi pencegahan dapat berupa program orientasi, program bimbingan karier, inventarisasi data, dan sebagainya.

  1. Fungsi pemahaman

Fungsi pemahaman yang dimaksud yaitu fungsi Bimbingan dan Konseling yang akan menghasilkan pemahaman tentang sesuatu oleh pihak-pihak tertentu sesuai dengan keperluan pengembangan siswa pemahaman ini mencakup :
1) Pemahaman tentang diri siswa, terutama oleh siswa sendiri, orangtua, guru, dan guru pembimbing.

2) Pemahaman tentang lingkungan siswa (termasuk di dalam lingkungan keluarga dan sekolah) terutama oleh siswa sendiri, orangtua, guru, dan guru pembimbing.

3) Pemahaman tentang lingkungan yang lebih luas (terutama di dalamnya informasi pendidikan, jabatan/pekerjaan dan/atau karier dan informasi budaya/nilai-nilai terutama oleh siswa.

  1. Fungsi Perbaikan

Walaupun fungsi pencegahan dan pemahaman telah dilakukan, namun mungkin saja siswa masih menghadapi masalah-masalah tertentu. Disinilah fungsi perbaikan itu berperan, yaitu fungsi Bimbingan dan Konseling yang akan menghasilkan terpecahnya atau teratasinya berbagai permasalahan yang dialami siswa.

  1. Fungsi Pemeliharaan dan Pengembangan

Fungsi ini berarti bahwa layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan dapat membantu para siswa dalam memelihara dan mengembangkan keseluruhan pribadinya secara mantap, terarah, dan berkelanjutan. Dalam fungsi ini hal-hal yang dipandang positif agar tetap baik dan mantap. Dengan demikian, siswa dapat memelihara dan mengembangkan berbagai potensi dan kondisi yang positif dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan berkelanjutan.


Baca Artikel Lainnya:

Pengertian dan Unsur-Unsur Novel

Pengertian dan Unsur-Unsur Novel

Pengertian dan Unsur-Unsur Novel

Pengertian dan Unsur-Unsur Novel
Pengertian dan Unsur-Unsur Novel

Pengertian Novel

Novel adalah karangan prosa yang panjang, mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang-orang disekitarnya serta menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku. Biasanya, cerita dalam novel dimulai dari peristiwa atau kejadian terpenting yang dialami oleh tokoh cerita, yang kelak mengubah nesib kehidupannya. Misalnya, novel pada sebuah kapal, karya Hh. Dini, dimulai ketika sang tokoh berusia tega belas tahun, saat ayahnya meninggal.

Berbeda dengan cerita pendek, yang umumnya berkisah tentang perilaku sesaat sang tokoh ketika ia menghadapi suatu peristiwa atau kejadian pada suatu ketika. Penulis/pengarang novel disebut novelis.

Unsur-unsur Novel

1. Unsur Intrinsik

Unsur intrinsik adalah unsur pembangun sastra dalam atau yang ada dalam sastra itu sendiri.
Unsur intrinsik novel meliputi:

1. Tema

Ide pokok yang menjiwai seluruh cerita. Tema dapat berupa sosial, keluarga, remaja, percintaan religius.

2. Tokoh : Tokoh juga disebut orang yang ada dalam novel tersebut.
Ada tida macam tokoh yaitu tokoh utama dengan ciri : sering muncul, banyak masalah, berwatak pratagonis

3. Penokohan : Penokohan juga disebut karakter. Setiap tokoh mempunyai karakter yang berbeda. Ada dua macam karakter yaitu pratagonis dan antagonis.
a. Pratagonis yaitu watak yang baik. Biasanya dimiliki oleh tokoh utama
b. Antagonis yaitu watak yang tidak baik (penentang kebaikan)

4. Latar : Latar meliputi 3 hal yaitu latar tempat, latar waktu dan latar suasana

5. Alur : yaitu urutan peristiwa. Ada dua macam alur yaitu alur maju dan alur mundur.
Alur mahu yaitu cerita yang peristiwanya sekarang dan kedepan
Alur mundur yaitu cerita yang peristiwanya telah berlalu

6. Amanat : Pesan yang disampaikan pengarang secara tersirat. Amanat yang diambil dari effek samping sebuah peristiwa. Pesan biasanya bersifat positif

7. Sudut pandang : Cara memposisikan diri pengarang terhadap hasil karyanya. Ada dua macam sudut pandang yaitu :

  • Sudut pandang orang pertama (akuan) apabila pengarang ikut terlibat dalam cerita tersebut. Pengarang ikut berperan aktif.
  • Sudut orang ketiga (diaan) apabila pengarang berada diluar cerita. Cerita ini biasanya menggunakan nama orang sebagai tokoh.

 

2. Unsur Ekstrinsik

Unsur-unsur ekstrinsik novel adalah unsur dari luar novel tersebut. Adapun beberapa unsur ekstrinsik novel yaitu

  1. Sejarah/biografi pengarang biasanya sejarah/biografi pengarang berpengaruh pada jalan cerita di novelnya
  2. Situasi dan kondisi secara langsung maupun tidak langsung, situasi dan kondisi akan berpengaruh pada hasil karya

Nilai-nilai dalam cerita. Dalam sebuah karya sastra terkandung nilai-nilai yang disisipkan oleh pengarang. Nilai-nilai itu antara lain :

  • Nilai moral, yaitu yang berkaitan dengan akhlak atau budi pekerti baik buruk
  • Nilai sosial, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan norma-norma dalam kehidupan masyarakat (misalnya, saling memberi, menolong, dan tenggang rasa)
  • Nilai budaya, yaitu konsep masalah dasar yang sangat penting dan bernilai dalam kehidupan manusia (misalnya adat istiadat, kesenian, kepercayaan, upacara adat)
  • Nilai estetika, yaitu nilai yang berkaitan dengan seni, keindahan dalam karya sastra (tentang bahasa, alur, tema)

Sumber: https://solidaritymagazine.org/bloody-west-apk/

Pembelajaran Micro Teaching

Pembelajaran Micro Teaching

Pembelajaran Micro Teaching

Pembelajaran Micro Teaching

Guru (tenaga pendidik) yang efektif adalah

mereka yang berhasil membawa peserta didik mencapai tujuan pembelajaran sesuai dengan kaidah yang berlaku dalam pendidikan. Keberhasilan pembelajaran yang efektif memuat dua tolok ukur yakni tercapainya tujuan dan hasil pembelajaran. Untuk mencapai tingkat efektifitas pembelajaran, Gadik harus menguasai berbagai ketrampilan dasar pembelajaran yang meliputi ketrampilan membuka dan menutup proses pembelajaran, ketrampilan menjelaskan, ketrampilan bertanya, ketrampilan menggunakan variasi, ketrampilan memberi penguatan, ketrampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan, ketrampilan mengelola kelas dan ketrampilan membimbing diskusi kecil.

Untuk dapat menguasai berbagai ketrampilan dasar pengajaran dan pembelajaran tersebut maka Gadik perlu berlatih satu demi satu ketrampilan tersebut agar mendalami makna dan strategi penggu-naannya

pada proses pembelajaran. Ketrampilan dasar mengajar dapat diperoleh melalui pembelajaran mikro atau micro teaching. Oleh karena itu pembelajaran mikro  sangat diperlukan dalam bentuk peer teaching dengan harapan agar para gadik dapat sekaligus menjadi observer temannya sesama gadik, dengan harapan masing-masing gadik dapat saling memberikan koreksi dan masukan untuk memperbaiki kekurangan penguasaan ketram-pilan dasar dalam mengajar.


Pengajaran mikro telah dipraktikkan secara meluas dalam  latihan keguruan di seluruh dunia sejak diperkenalkan di Stanford University oleh Dwight W. Allen, Robert Bush dan Kim Romney pada tahun 1950-an. Untuk dapat memahami micro teaching atau pembelajaran mikro bagi calon gadik, dikemukakan beberapa asumsi dasar yaitu:

  1. Pada umumnya guru tidak dilahirkan tetapi dibentuk terlebih dahulu.
  2. Keberhasilan seseorang menguasai hal-hal yang lebih kompleks ditentukan oleh keberhasilannya menguasai hal-hal yang lebih sederhana sifatnya. Dengan terlebih dahulu menguasai berbagai ketrampilan dasar mengajar, maka akan dapat dilaksanakan kegiatan mengajar secara keseluruhan yang bersifat kompleks.
  3. Dengan menyederhanakan situasi latihan maka perhatian dapat dilakukan sepenuhnya kepada pembinaan ketrampilan tertentu yang merupakan komponen kegiatan mengajar.
  4. Dalam latihan-latihan yang sangat terbatas, calon guru lebih mudah mengontrol tingkah lakunya jika dibandingkan dengan mengajar secara global yang bersifat kompleks.
  5. Dengan penyederhanaan situasi latihan, diharapkan akan memudahkan observasi yang lebih sistematis, obyektif serta pencatatan yang lebih teliti. Hasil dari observasi ini diharapkan dapat digunakan sebagi balikan calon guru tentang kekurangan yang dilakukan dan segera diketahui yang selanjutnya akan diperbaiki pada kesempatan latihan berikutnya.

Merujuk pada beberapa asumsi dasar pengajaran mikro dapat dikemukakan beberapa pengertian pengajaran mikro sebagai berikut:

  1. Pengajaran mikro dirumuskan sebagai pengajaran dalam skala kecil atau mikro yang dirancang untuk mengembangkan ketrampilan baru dan memperbaiki ketrampilan yang lama.
  2. Pengajaran mikro adalah meto-de latihan yang dirancang sedemikian rupa dengan jalan mengisolasi bagian-bagian komponen dari proses pengajaran sehingga calon gadik dapat menguasai ketrampilan satu per satu dalam situasi mengajar yang disederhanakan.
  3. Micro teaching is effective method of learning to teach, oleh sebab itu micro teaching sama dengan teaching to teach dan atau learning to teach.
  4. Mengikut Micheel J Wallace pengajaran mikro merupakan pengajaran yang disederhana-kan. Situasi pengajaran telah dikurangi lingkupnya, tugas guru dipermudah, mata pelajaran dipendekkan dan jumlah peserta didik dikecilkan.

Berpijak pada asumsi dasar dan pengertian pengajaran mikro tersebut, maka dapat disampaikan beberapa ciri pengajaran mikro:

  1. Mikro dalam pengajaran mikro berarti pada skala kecil. Skala kecil berkaitan dengan ruang lingkup materi pelajaran, waktu, siswanya dan ketrampilannya.
  2. Mikro dalam pengajaran dimak-nai sebagai bagian dari ketram-pilan mengajar yang kompleks akan dipelajari lebih mendal

am dan teliti bagian demi bagian.

  1. Pengajaran mikro adalah pengajaran yang sebenarnya. Calon gadik harus membuat persiapan pembelajaran, rencana pem-belajaran, melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dibuat, mengelola kelas dan menyiapkan perangkat pembelajaran lainnya yang dapat mendukung proses belajar dan mengajar (PBM).
  2. Pengajaran mikro pada hakekatnya adalah belajar yang sebenarnya. Ditinjau dari praktikan, calon gadik akan belajar bagaimana melakukan pembelajaran sedangkan teman yang jadi siswa akan dapat merasakan bagaimana gaya mengajar temannya dirasakan tepat dan tidaknya strategi pembelajaran yang dibuat.
  3. Pengajaran mikro bukanlah simulasi. Dalam situasi menga-jar teman sejawat, mereka tidak diperlakukan sebagaimana siswa didik akan tetapi mereka tetap menjadi teman yang sebenarnya dengan kedudukan sebagai siswa. Hal ini untuk menghindari perilaku teman sejawat yang dibuat-buat yang mengakibatkan tidak terkondisikan proses pembelajaran antar teman sejawat.
  4. Pengajaran diharapkan dapat direkam sehingga hasil rekaman tersebut dapat dijadikan bahan diskusi antar teman untuk dikoreksi dan diberikan masukan guna perbaikan atas kekurangan praktikan gadik.

Pengajaran mikro bertujuan membekali gadik beberapa ketrampilan dasar mengajar dan pembelajaran. Bagi calon gadik metode ini akan memberi pengalaman mengajar yang nyata dan latihan sejumlah ketrampilan dasar mengajar secara terpisah. Sedangkan bagi calon gadik dapat mengembangkan ketrampilan dasar mengajarnya sebelum mereka melaksanakan tugas sebagai gadik. Memberikan kemungkinan calon gadik untuk mendapatkan bermacam ketrampilan dasar mengajar serta memahami kapan dan bagaimana menerapkan dalam program pembelajaran.

Bagi supervisor calon gadik, metode ini akan memberikan penyegaran dalam program pendidikan. Gadik mendapatkan pengalaman mengajar pada calon gadik yang bersifat individual demi perkembangan profesi.