Ajari Anak Belajar Membaca Ketika Sudah Tepat Waktunya

Ajari Anak Belajar Membaca Ketika Sudah Tepat Waktunya

Berdasarkan keterangan dari 10 pakar psikologi kognitif dan neurologist belajar menyimak hanya dapat dilakukan saat otak anak sudah lumayan berkembang, yg masing2 anak bisa bertolak belakang usia kematangannya. Namun bila hendak mengambil statistik, rata2 umur 4 tahun sejumlah anak telah dapat mengenali huruf dan mengidentifikasinya dg baik. Pendapat ilmuwan berbeda2 soal ini, Dokter Kazt dari Oxford University berasumsi usia 5th. Sementara Judith Hudson berasumsi usia 2 th sejumlah anak telah dapat mengenali huruf dan keterampilan identifikasi huruf kian besar saat usianya 4 atau 5 tahun.

Beragamnya pendapat ilmuwan ini menandakan adanya range perbedaan kematangan benak pd anak. Sebagian terdapat yg 2 tahun (prosentase paling kecil), tapi mayoritas usia 4 atau 5 tahun dg prosentase 96%.

Jadi supaya tak salah langkah, Anda mesti bisa mengukur kesiapan anak kita dan tunda dulu belajarnya andai ditemukan tanda sbb:

1. Anak tidak bisa mengenali pola warna muda dan tua.
2. Tidak punya minat melihat huruf dan suka memindahkan perhatian.
3. Mudah sekali melupakan huruf yg baru dipelajarinya saat dia telah hafal, besoknya tak sempat lagi.
4. Terlihat berfikir keras saat mengingat huruf.
5. Dll.

Hentikan belajar andai tanda di atas ditemukan dan lanjutkan belajar andai anak tampak enjoy dan bahkan kecanduan.

Berdasarkan keterangan dari pakar psikologi kognitif, David Ausubel, seseorang yg sudah siap berarti sudah mempunyai kematangan dalam belajar, yg ditandai dg kepekaannya dalam merespon dan memberi penjabaran terhadap sebuah materi.

Sumber : http://www.9oo9le.me/details.php?site=www.pelajaran.co.id

Fenomena Bully yang Berbahaya

Fenomena Bully yang Berbahaya

Fenomena Bully yang Berbahaya

Fenomena Bully yang Berbahaya
Fenomena Bully yang Berbahaya

Dari AbuHurairah Ra, bahwasanya Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Jika ada seseorang berkata, ‘Orang banyak (sekarang ini) sudah rusak’, maka orang yang berkata itu sendiri yang paling rusak di antara mereka.” (HR. Muslim).

Dalam waktu dekat ini banyak berita dalam negeri yang membuat tercengang. Dari ayah seorang artis yang jadi pengemis; artis laga yang mendadak gila; kelulusan anak SLTA yang dirayakan berlebihan, mencatut nama jenderal polisi dan mempermalukan ayahnya hingga terkena stroke dan meninggal; hingga penyanyi Irma Bule yang tergigit cobranya sendiri.

Dari sekian kasus yang terjadi di Indonesia, mereka mempunyai kesamaan yaitu berakhir dengan bully-an. Bully adalah tindakan mengintimidasi baik secara fisik ataupun psikis. Kasus terakhir lebih menarik bagi saya. Dimana seorang penyanyi dari panggung ke panggung dengan lilitan ular di tubuhnya, yang pada akhirnya harus ia tebus dengan nyawanya sendiri. Setelah kejadian itu lalu muncul bully-an dari netizen, “Salah sendiri bawa ular.”, “kasian ya, meninggalnya lagi joget-joget belum sempat tobat.”, “Lagian aneh-aneh aja sih nyari sensasinya.” dan masih banyak lagi.

Terlepas dari dosa dan kesalahan dirinya, kita perlu juga melihat dari perspektif lainnya. Saya terenyuh membaca beberapa berita dimana diceritakan bahwa kasus Irma Bule di muat lebih dari 110 media asing, termasuk The Washington Post. Karena berdasarkan literatur, bisa ular cobra dapat membunuh makhluk hidup yang digigitnya dibawah 5 menit. Tapi Irma Bule kembali melangsungkan pertunjukannya setelah digigit dan berhasil bertahan selama 45 menit. Terbayang dorongan kuat seperti apa yang membuatnya tetap bertahan meski dalam keadaan SEKARAT? Coba kita memposisikan diri, mungkin saja ia teringat tanggung jawab terhadap 3 anak kecilnya, takut bayarannya yang tidak besar itu di potong jika panggungan tidak selesai.

Yang sangat disayangkan fenomena bully seperti sudah mendarah daging, bahkan termasuk dalam dunia pendidikan. Sehingga kita tidak bisa menanggapi suatu persoalan dengan kepala dingin. Inginnya mencaci saja, menghakimi. Kita sudah terbiasa menemukan orang yang mem-bully temannya, dikelas misalnya. Saat ada yang bertanya dan belum paham pelajaran, seisi kelas malah mencemoohnya. Atau ada yang salah ketika berbicara di depan, langsung terkena sorakan bully. Ada pepatah mengatakan, “Boleh saja jari mu menunjuk, tapi pastikan dulu tanganmu itu bersih.” Budaya bully ini adalah budaya yang dapat merusak masa depan kita semua, menghilangkan kemampuan manusia Indonesia untuk terus maju. Bully menghapus kemampuan untuk mengoreksi diri sendiri dan saling membantu untuk membuat orang lain berkembang.

Baca Juga :

Kisah Negeri 4 Musim

Kisah Negeri 4 Musim

Kisah Negeri 4 Musim

Kisah Negeri 4 Musim
Kisah Negeri 4 Musim

Indonesia adalah negeri  yang memiliki dua musim, berkah curah hujan tinggi dan cahaya matahari yang melimpah membuatnya jadi negeri yang subur. Bahkan ada bahasa, tongkatpun di tanah ini bisa jadi tanaman. Sayangnya, anugerah Ilahi ini disia-siakan oleh tangan-tangan kotor yang tahunya hanya menjarah dan menindas. Seorang Sastrawan Hasan Aspahani, menolak menyebut Indonesia sebagai negeri dua musim, dalam puisinya “Dongeng Negeri Empat Musim” (2004) dia menyebut, ada empat musim di negeri ini, musim berdusta, musim berjanji, musim berpura-pura dan musim lupa.

Terlepas dari hal itu, ada sesuatu yang menggelitik saya. Kalau kita perhatikan, terjadi fenomena unik mengenai persamaan negara-negara maju, yaitu mereka memiliki 4 musim (subtropis): musim semi, musim panas, musim gugur dan musim dingin. Kita lihat saja, perbandingan taraf hidup dinegara-negara Eropa, Amerika, Jepang, China, Korea, Australia dengan negara-negara yang hanya memiliki dua musim yang tersebar disebagian Asia dan Afrika. Tidak umum bagi negara tropis yang hanya punya dua musim (musim hujan dan musim kemarau) seperti Indonesia untuk duduk di deretan negara maju. Pengecualian adalah tetangga kita, Singapura.

Saya yakin, kondisi alam berpengaruh besar dalam membentuk karakter membangun dalam jiwa-jiwa mereka. Adanya perbedaan musim yang drastis menuntut penduduknya untuk tidak monoton dalam aktivitas hidup. Ibarat kisah monyet yang makin kuat ditiup angin kencang dan lengah ditiup angin sepoi. Mereka dituntut untuk tangguh menghadapi kegerahan di musim panas, kekeringan di musim gugur, mengatasi dingin di musim salju, dan tidak terlena di musim semi. Dalam analisis sosio-psikologi adanya perubahan musim yang membutuhkan adaptasi ini akan membentuk karakter bangsa yang kuat dan tangguh dalam mengatasi problematika hidup.

Beberapa ekonom menghubungkan proses sebab-akibat antara iklim dan kemajuan ekonomi. Mereka mengaitkan antara iklim dan kemajuan ekonomi melalui sikap masyarakat dan penghargaan terhadap waktu. Di negara 4 musim, masyarakatnya sangat peduli dengan waktu. Kalau mereka tidak menghitung waktu, mereka bisa mati, misalnya karena kurang persiapan untuk musim dingin (tanaman mati, jalanan tidak dapat dilalui, dll).

Pernahkah kita bayangkan bagaimana rasanya hidup di musim dingin tanpa mengenakan baju hangat, atau tinggal di rumah yang tidak dilengkapi fasilitas pemanas ruangan? Pada saat itu salju bukan lagi keindahan, namun tontonan tragedi yang menyayat hati. Teman saya asal Bosnia menceritakan, di musim dingin, ketika tumpukan salju disingkirkan dari jalan-jalan kota, tidak sedikit ditemukan mayat-mayat manusia. Mereka adalah para tunawisma yang mencoba bertahan hidup di tengah musim dingin yang menusuk tulang. Ya, dongeng tentang salju tidak melulu menceritakan kebahagiaan sang putri salju, namun juga kegetiran hidup putri penjual korek api, yang mati beku kehabisan api penghangat.

Sementara penduduk negara tropis sangat cuek dengan waktu karena sepanjang tahun dapat bekerja tanpa jeda cuaca. Sangat jarang ada orang yang mati karena kehujanan atau kepanasan, bahkan rumahpun cukup dibuat dengan atap dedaunan dan dinding kardus. Di negeri empat musim, rumah harus dibangun kokoh, lengkap dengan sistem pemanas dan pendingin jika tidak ingin mati diterkam musim.

Maka, di negara maju, waktu sangat dihargai. Jadwal kereta di Tokyo, Jepang bukan 5.30 atau 6.30 namun 5.07, 6.32. Telat 1 menit ya bye bye, harus menanti 5-15 menit kereta selanjutnya. Dalam rapat-rapat di Amerika dan Eropa, jadwal sangat ketat. Mulai jam 5.30, maka mulai tepat 5.30 bukan dibuat molor menunggu yang hadir sampai jam 6.30 bahkan 7.30.

Bagaimana dengan penghargaan waktu di negeri kita? Kita semua tahu sendiri-lah tanpa perlu di-detil-kan. Makanya negara kita sangat terkenal sebagai “the rubber watch” alias si jam karet. Sebutan ini hanya puncak gunung es dari perilaku kita yang sangat tidak menghargai waktu. Akhirnya etos kerja dan produktivitas kita cenderung rendah.

Apa pelajaran yang bisa diambil? Jika Indonesia ingin menjadi negara maju yang mensejahterakan rakyatnya (pendapatan tinggi, pengangguran rendah dan kemiskinan enyah), kita harus memulai dengan satu kata: WAKTU. Hargai dan perlakukan waktu sebagai aset termahal. Hilangkan budaya JAM KARET. Hilangkan budaya INSYAA ALLAH ala Indonesia (untuk ngeles dan janji palsu). Mulai budaya TEPAT WAKTU. Mulai budaya KOMIT pada JANJI dan WAKTU.

“Sebaik-baik manusia adalah yang diberi umur panjang dan baik amalnya. Dan sejelek-jelek manusia adalah yang diberi umur panjang dan jelek amalnya.” (HR.Ahmad). Kita ini telah, sedang dan akan selalu bepacu dengan waktu. Satu desah nafas sebanding dengan satulangkah menuju maut. Alangkah ruginya manakala banyaknya keinginan, melambungnya angan-angan, serta meluapnya harapan tidak diiringi dengan meningkatnya kualitas diri. Maka siapa pun yang bersungguh-sungguh mengisi waktunya dengan kebaikan, niscaya Allah akan memberikan yang terbaik bagi orang tersebut.

Sumber : https://downloadapk.co.id/

Angin dan Negeri 4 Musim

Angin dan Negeri 4 Musim

Angin dan Negeri 4 Musim

Angin dan Negeri 4 Musim
Angin dan Negeri 4 Musim

Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara : Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al Hakim)

 

Alkisah, di sebuah hutan, tampak seekor monyet sedang bergelantungan di pepohonan. Tak jauh dari sana, ada sekelompok angin yang sedang bertiup. Ada angin topan, angin puting beliung, serta ada angin badai. Ketiga jenis angin itu sedang berdebat tentang siapa yang paling hebat di antara mereka.

Makin lama, adu mulut ketiga angin itu makin seru. Maka, karena tak ada yang mengalah, mereka pun sepakat untuk saling adu kekuatan. Mereka lalu melihat sekelilingnya. Dan tampaklah di dekat mereka, monyet yang sedang asyik bergelantungan itu. Ketiga angin pun sepakat adu kuat dengan berusaha menjatuhkan monyet dari pohon.

Pertama adalah giliran angin topan. Ia pun segera bertiup pada monyet itu. Monyet yang ditiup angin topan, segera memeluk erat pohon yang digelayutinya. Makin kencang angin bertiup, makin kencang pula pegangan monyet pada pohon. Angin topan pun akhirnya menyerah, diiringi ejekan kedua angin lainnya.

Tiba giliran angin puting beliung. Dengan kekuatan putarannya, ia segera meniup monyet itu, seolah tak ingin memberi kesempatan monyet yang tadinya sedikit melonggarkan pegangan. Tapi, putaran kencang yang ditimbulkan angin ditanggapi monyet dengan cara yang sama. Makin kencang bertiup, makin kencang pula pegangan monyet pada pohon besar nan kokoh yang seolah jadi pelindungnya. Angin puting beliung pun menyerah.

Terakhir, angin badai segera memperlihatkan kekuatannya. Dengan badai yang dimilikinya, ia segera meniup sekencang-kencangnya monyet itu. Tapi, lagi-lagi, sang monyet justru makin kencang berpegangan pada pohon besar yang bergoyang-goyang akibat tiupan angin badai. Monyet pun tak berhasil dijatuhkan oleh angin badai. Maka, angin badai pun akhirnya juga menyerah.

Ketiga angin itu ternyata tak cukup punya kekuatan yang bisa menjatuhkan monyet. Hingga, saat mereka membicarakan kehebatan monyet, datanglah angin sepoi. Angin kecil yang bertiup itu penasaran mengapa ketiga angin besar membicarakan kehebatan monyet yang tak berhasil mereka jatuhkan.

Mendengar kehebatan monyet itu, angin sepoi pun ingin mencoba kekuatannya. Hal ini membuat ketiga angin besar itu menertawakannya. Sebab, angin yang sangat kencang saja tak berhasil menjatuhkan monyet, apalagi angin kecil sepertinya. Namun, angin sepoi tak memedulikan ejekan mereka. Ia segera menuju ke monyet dan meniupkan angin sejuknya.

Monyet yang mendapat tiupan angin sepoi rupanya merasa keenakan. Hawa sejuk yang bertiup membuatnya tertidur di salah satu dahan besar pohon. Tak lama, karena tertidur dengan posisi yang kurang pas, monyet langsung terjatuh. Pegangan kuat monyet yang melonggar karena tertidur mendapat tiupan angin sepoi menjadikan monyet kehilangan keseimbangan dan terjatuh.

Melihat itu, ketiga angin besar yang sombong mengaku kalah. Angin sepoi yang kecil tapi menyejukkan itu rupanya justru berhasil membuat monyet takluk dan terjatuh dari pohon besar yang melindunginya.

Acap kali kita mendapat banyak ujian yang terasa sangat berat. Tapi, justru karena itu, kita malah jadi makin kuat. Cobaan yang kerap datang akan membuat kita makin teguh untuk terus maju dan berjuang. Kesulitan justru jadi penguat yang menjadikan kita sebagai pribadi tangguh yang siap maju ke “medan perang” kehidupan. Layaknya kisah tadi. Makin kencang angin bertiup, justru makin kuat monyet berusaha bertahan. Jika kita mampu melakukan hal tersebut, niscaya kita pun akan makin kuat dalam bertahan menghadapi aneka cobaan.

Boleh jadi ketika kita diuji dengan KESUSAHAH, dicoba dengan PENDERITAAN, didera MALAPETAKA, Kita kuat bahkan lebih kuat dari sebelumnya… Tapi jika kita diuji dengan KENIKMATAN, KESENANGAN, KELIMPAHAN… Disinilah ”kejatuhan” itu terjadi.

Maka jangan sampai kita terlena. Tetap ”Rendah hati”, “Mawas diri”, “Sederhana”, karena bukan kritikan yang membuat kita jatuh, tapi sanjungan dan pujian. Ketika kita di atas, jangan pernah memandang rendah orang yang di bawah dan ketika kita melakukan kebaikan, jangan mengharap pamrih dan ketenaran. Ketika kita melakukan kebaikan, gunakan dengan hati yang tulus ikhlas, bukan dengan membusungkan dada, bangga dengan apa yang telah kita lakukan untuk orang lain. Dan jadikan diri kita Manusia yang “Bijak dan tetap Bersyukur”.

Sumber : https://filehippo.co.id/

YP Tiara Mandiri Adakan Pelepasan Siswa

YP Tiara Mandiri Adakan Pelepasan Siswa

YP Tiara Mandiri Adakan Pelepasan Siswa

YP Tiara Mandiri Adakan Pelepasan Siswa
YP Tiara Mandiri Adakan Pelepasan Siswa

Yayasan Pendidikan Tiara Mandiri yang menaungi PAUD dan PKBM Mutiara Hati,

SMP Mutiara Pertiwi, serta SMK Mutiara Insani, mengadakan pelepasan peserta didik tahun ajaran 2016- 2017 di Gedung Kesenian Pemda Cibinong, Sabtu (20/5).

Kepala Yayasan Mutiara Mandiri Srimulyanti menga- takan, untuk tahun ini Yayasan Tiara Mandiri melepas peserta didik untuk jenjang PAUD 25 siswa, Paket A 35, Paket B 86 dan Paket C 211, kemudian SMP 25 dan SMK
105 Siswa.

Lulusan SMK, lanjut Sri, hampir 80 persen sudah langsung bekerja karena pihak sekolah

bekerja sama dengan Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kabupaten Bogor. Selain itu, pihak sekolah juga ada yang menjadi anggota Bursa Khusus Kerja (BKK) yang memudahkan siswa mendapatkan pekerjaan.

Ditambah, sekolah bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan yang ada di Kabupaten Bogor. “Alhamdulillah kami sangat bangga dan bersyukur, karena sekolah ini berawal dari PAUD yang di dirikan 2003 di rumah pribadi kami. Kemudian 2005 didirikan pusat kegiatan belajar mengajar (PKBM) dan semuanya sudah memiliki gedung sendiri,” kenang Sri.

Setelah itu, lanjut Sri, berdiri juga SMK pada 2010 dan SMP di 2015. Untuk tahun ini, SMK

Mutiara Insani sudah melaksanakan ujian nasional berbasis komputer (UNBK). “Kami ucapkan banyak terima kasih kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor dan yang terkait atas kerja sama dan bimbingannya sehingga kami bisa seperti ini,” tuturnya.

Sri juga berharap semua pihak dapat menyukseskan pendidikan khususnya di Kabupaten Bogor.

Pada kesempatan tersbut, Kadisdik Kabupaten Bogor TB Lutfie Syam juga memberikan langsung Kartu Indonesia Pintar (KIS) kepada 37 siswa PKBM. Dalam sambutannya, Lutfie mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Yayasan Mandiri yang ikut berkontribusi memajukan pendidikan di Kabupaten Bogor.

Lutfie juga berpesan kepada para orang tua agar bisa memberikan waktu dan perhatian terhadap anak, walaupun sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. “Jangan menjadi alasan karena anak butuh sosok atau figur yang menjadi suri tauladannya,” tegas Lutfie.

Acara dimeriahkan penam- pilan kreasi siswa, di antaranya pembacaan Alquran, marawis, tari-tarian, dan penampilan band siswa.

 

Baca Juga :

Unida Ajak Waspadai Laten Komunis

Unida Ajak Waspadai Laten Komunis

Unida Ajak Waspadai Laten Komunis

Unida Ajak Waspadai Laten Komunis
Unida Ajak Waspadai Laten Komunis

Memperingati Milad Universitas Djuanda (Unida) Bogor XXX sekaligus Hari Pendidikan Nasional

, Fakultas Hukum Unida bersama BEM Fakultas Hukum mengadakan Seminar Nasional Unida Law Festival 2017 dengan tema “Bahaya Laten Komunis terhadap Pancasila dan Keutuhan NKRI” di aula gedung C Unida, belum lama ini.

Hadir sebagai narasumber Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon, Nurhasan Zaidi d

ari Komisi VI DPR-RI, Ketua DPD Gerindra Jawa Barat Mulyadi, dan bertindak sebagai keynote speaker, yaitu Martin Roestamy, selaku ketua pembina YPSPIAI.

Fadli Zon menyatakan, dalam hal ini antek-antek PKI berusaha untuk bisa diterima kembali dengan cara merekonstruksi sejarah, membelokkan sejarah, dan menghapus jejak sejarah yang dianggap menjadi stigma buruk kepada PKI.

“Banyak hal yang dilakukan dalam penyebarluasan perkembangan PKI di Indonesia.

Hal yang paling cepat dan efisien dalam penyebarannya adalah dengan melihat tayangan berkaitan dengan pembuatan film bernuansa PKI, yang secara tidak sadar di Indonesia sudah mulai diputar dan dikonsumsi publik. Wajib kita sadari, fenomena tersebut agar kita selaku bangsa Indonesia dapat membentengi diri dari perkembangan hal-hal negatif yang dapat merugikan diri pribadi khususnya, umumnya dapat merusak keutuhan NKRI,” ungkapnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Hukum Endeh Suhartini menuturkan, sesuai dengan tema seminar yang diselenggarakan Fakultas Hukum, diharapkan semakin membuat para civitas, terutama masyarakat umum di luar lingkungan akademik, menyadari bahaya laten komunisme yang tidak lagi berupa fenomena. “Tetapi juga suatu berita yang memang dapat diyakini kebenarannya,” tambahnya.

 

Sumber :

SEJARAH KOMPUTER LENGKAP

The Changcuters Ramaikan Pelepasan Tri Dharma 2

The Changcuters Ramaikan Pelepasan Tri Dharma 2

The Changcuters Ramaikan Pelepasan Tri Dharma 2

The Changcuters Ramaikan Pelepasan Tri Dharma 2
The Changcuters Ramaikan Pelepasan Tri Dharma 2

Seperti tahuntahun sebelumnya, SMKs Tri Dharma 2 melaksanakan acara pelepasan

siswa kelas XII pada tahun pelajaran 2016/2017 di GOR Pajajaran. Acara bertambah semarak dengan kehadiran band ternama The Changcuters.

Grup band nyentrik ini membawakan delapan lagu, sehingga membuat ramai dan merelaksasi dari ketegangan ujian, beberapa waktu lalu.

Kepala SMKs Tri Dharma 2 Chaerul Saleh mengingatkan siswa agar terus

memacu diri dalam meningkatkan prestasi dan menjaga nama baik sekolah serta mengapresiasi siswa-siswi kelas XII yang belajar dengan baik, dan memberi banyak kenangan. “Seperti prestasi akademik maupun prestasi non-akademik. Karenanya diberikan sertifikat dan penghargaan kepada 80 siswa yang membawa piala maupun kebanggaan untuk sekolah,” jelasnya

Tak lupa, kata Chaerul, kinerja para panitia yang sudah bekerja keras demi suksesnya

acara pelepasan yang memang
menjadi salah satu hajatan rutin setiap tahun. “Sesudah lulus ke perguruan tinggi, jangan lupakan jasa guru. Jaga citra sekolah, kalian adalah alumni SMKs Tri Dharma 2, tempat kalian menempa ilmu, mendidik diri dan belajar dalam proses pendewasaan,” pintanya.

Selain band, juga ada upacara adat dan seni serta kreasi siswa ditampilkan dalam acara tersebut

 

Sumber :

https://www.pesawarankab.go.id/pages/sejarah-perkembangan-teknologi/

Cara Meningkatkan Daya Ingat Pada Anak

Cara Meningkatkan Daya Ingat Pada Anak

Anak yang mempunyai daya ingat kuat pasti akan lebih unggul dikomparasikan dengan anak lainnya, misalnya saat belajar di sekolah. Daya ingat yang berkilauan akan menciptakan anak mudah mengetahui pelajaran dan menilik segala keterangan yang dikatakan guru terutama ketika belajar matematika. Lalu, bagaimana teknik meningkatkan daya ingat anak ? Berikut penjelasannya.

Gunakan Gambar
Ketika mesti menilik suatu informasi, lebih efektif andai disertai dengan gambar. Berdasarkan keterangan dari sebuah penelitian, benak akan mudah menilik penjelasan atau informasi yang di dalamnya terdapat unsur gambar dikomparasikan hanya artikel saja. Tidak heran, kan, andai anak lebih ingat alur cerita kitab bergambar atau komik miliknya dibanding materi kitab pelajaran tanpa gambar?

Rutin Olahraga
Rajin mengerjakan olahraga menciptakan pasokan oksigen ke benak anak tercukupi dengan baik. Hal ini dominan pada memori yang tajam. Anak yang suka olahraga bakal lebih mudah menilik informasi lama dan baru. Sebenarnya urusan ini tidak melulu berlaku guna anak saja, orang tua yang hendak daya ingatnya menjadi lebih baik juga harus rajin berolahraga agar oksigen di benak terpenuhi dan keterampilan mengingat juga meningkat.

Sarapan Pagi
Biasakan anak guna sarapan pagi sebelum berangkat sekolah. Berdasarkan keterangan dari penelitian, anak yang teratur sarapan pagi, fokus dan daya ingatnya bakal meningkat. Disarankan untuk mencicipi menu sehat (karbohidrat, lauk pauk, buah, dan sayur), di antaranya nasi, brokoli, dan telur dalam porsi seimbang.

Menulis
Cara menambah daya ingat anak selanjutnya ialah dengan menulis. Proses penulisan melibatkan tidak sedikit indera sampai-sampai apa yang ditulis akan gampang melekat dalam alam bawah sadar seseorang.

Mendengarkan
Mendengarkan musik menjadi di antara terapi penambahan daya ingat anak. Saat mendengar musik, anak pun berjuang untuk menilik lirik serta nadanya dengan benar. Di samping musik, dengarkanlah pelbagai audio yang berfungsi untuk menciptakan buah hati kita dapat mengetahui pelajarannya dengan baik, atau audio yang isinya padat ilmu secara berulang-ulang.

Mengonsumsi Makanan dan Suplemen Otak
Konsumsi makanan yang berisi nutrisi baik untuk benak anak, contohnya ialah brokoli, kacang, ikan, telur, dan sebagainya. Kandungan omega 3, antioksidan, serta beragam vitamin di dalamnya paling bermanfaat untuk otak. Di samping itu, konsumsi suplemen ekstra pun bermanfaat sebagai nutrisi benak yang dominan pada naiknya daya ingat anak.

Permainan
Pilih jenis permainan yang menajamkan otak anak, contohnya teka teki atau merangkai puzzle, sangat bermanfaat meningkatkan daya ingat dengan teknik yang asyik. Anak bahkan tidak bakal merasa kalau urusan itu adalahterapi asah daya ingat. Dia justeru menikmati permainan seru tersebut. Ingat, otak tersebut bak mesin. Mesin akan bermanfaat dengan baik bilamana dipanaskan serta tidak jarang dipakai, dan gampang rusak (berkarat) andai didiamkan begitu saja.

Istirahat Cukup
Istirahat lumayan sesuai dengan keperluan tubuh setiap orang bakal berimbas pada bertambahnya daya ingat seseorang. Sebagai contoh, anak yang rutin istirahat siang ingin mempunyai daya ingat lebih tajam dibanding dengan yang tidak istirahat siang atau mempunyai jam tidur kurang. Saat istirahat informasi yang masuk ke benak akan ditabung ke gudang ingatan. Ketika masuk etape rapid eye movement (kurun masa-masa tidur, di antara tandanya merupakan hadirnya mimpi yang kelihatan nyata), benak pun mulai merangkai informasi dari masa kemudian yang sehubungan dengan informasi yang diterima pada hari itu.

Orang tua berperan dalam perkembangan kepintaran seorang anak.

Sumber : http://jbbs.m.shitaraba.net/b/alink.cgi?l=https://www.pelajaran.co.id

Membanggakan! Siswi SDN Cibalagung 4 Ini Sabet Dua Gelar Juara dalam Sepekan

Membanggakan! Siswi SDN Cibalagung 4 Ini Sabet Dua Gelar Juara dalam Sepekan

Membanggakan! Siswi SDN Cibalagung 4 Ini Sabet Dua Gelar Juara dalam Sepekan

Membanggakan! Siswi SDN Cibalagung 4 Ini Sabet Dua Gelar Juara dalam Sepekan
Membanggakan! Siswi SDN Cibalagung 4 Ini Sabet Dua Gelar Juara dalam Sepekan

Prestasi membanggakan diraih siswi SDN Cibalagung 4. Dalam satu pekan

, siswi bernama Gina Amril Lidinilah tersebut berhasil menyabet dua gelar juara.

Putri pasangan Ende Pupun Saputra tersebut menjadi juara satu lomba kaligrafi tingkat sekolah dasar yang digelar di SMP Al-Azhar pada Kamis (21/2/2019) lalu.

Sepekan berselang, siswi kelas VI tersebut kembali menorehkan prestaasi

gemilang dalam pekan keterempilan Pekan Agama Islam (PAI) se Kecamatan Bogor Barat.

Dalam kegiatan yang digelar di komplek SDN Margajaya,

Sabtu (2/3/2019) tersebut, Gina berhasil menyabet juara 3 lomba kaligrafi putri. Ia berhasil menyisihkan wakil dari sejumlah sekolah dasar di Bogor Barat.

Guru SDN Cibalagung 4, Fuad Hambali mengaku bangga dengan prestasi dari siswinya tersebut. Dirinya berharap prestasi yang ditorehkan Gina menjadi contoh bagi siswa-siswi lainnya.

“Semoga akan ada Gina-Gina lain yang akan menjadi penerus selanjutnya,” pungkasnya.

 

Baca Juga :

STKIP Muhammadiyah Lepas 153 Wisudawan

STKIP Muhammadiyah Lepas 153 Wisudawan

STKIP Muhammadiyah Lepas 153 Wisudawan

STKIP Muhammadiyah Lepas 153 Wisudawan
STKIP Muhammadiyah Lepas 153 Wisudawan

Tak berbeda dengan kampus lain, STKIP Muhammadiyah juga menggelar wisuda tahap pertama

di tahun ini. Kampus yang berlokasi di Jalan Raya Leuwiliang, Kabupaten Bogor ini mewisuda 153 mahasiswa dari tiga program studi.

Ketua STKIP Muhammadiyah Bogor, Edi Sukardi mengatakan, sarjana dari STKIP Muhammadiyah adalah SDM berkualitas yang juga sebagai bagian dari solusi permasalahan yang ada di masyarakat.

Tidak hanya memiliki ilmu, juga dilengkapi dengan kemampuan soft skills.

Seperti, sikap jujur, disiplin, dan memiliki pergaulan atau jaringan yang luas.

“Pastinya dibekali ilmu, terutama di era revolusi industri 4.0 ini, harus memiliki kapasitas siap bersaing dengan lulusan kampus lain,” jelas Edi.

Mereka juga memiliki kepedulian terhadap kampus, masyarakat, bangsa dan negara.

“Hadirnya lulusan kami bisa jadi solusi untuk pembangunan yang lebih baik.

Menjadi sumber daya manusia (SDM) yang unggul, cerdas, memiliki pendidikan akhlak dan karakter yang baik,” terang Edi Sukardi kepada Radar Bogor, di sela acara wisuda di Braja Mustika, kemarin. Dengan wisuda kali ini, lanjutnya, dapat lebih mendukung pengembangan kampus. Nantinya, dapat menjadi sebuah universitas.

Perwakilan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah IV, Deece Udansyah manambahkan, peserta wisuda ini dapat melayani masyarakat sesuai dengan kemampuan dan bidang masing-masing.

“Sarjana yang siap bersaing. Tidak hanya punya ilmu, juga soft skills. Mampu melakukan komunikasi yang baik,” ungkap Deece. Ditambah, harus bisa menguasai bahasa asing.

Bahkan, Deece menuturkan lulusan dari STKIP Muhammadiyah ini memiliki dan mampu mengaktualisasikan pengetahuan dengan pengembangan teknologi secara terampil. Sehingga nantinya dapat mewujudkan masyarakat, bangsa dan negara yang modern dan madani.
“Sekarang ini teknologi dan informasi mampu memainkan peran. Jadi kalo ga mau tertinggal, harus bisa menyesuaikan,” ungkap Deece.

Wisuda kali ini berjumlah 153 orang dari tiga program. Yakni Administrasi Pendidikan berjumlah 49 orang, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia sebanyak 69 orang dan Bahasa Inggris 53 orang.

STKIP Muhamadiyah Leuwiliang Bogor tidak hanya mencetak sarjana-sarjana yang memiliki kualitas di bidang ilmu pengetahuan saja dan juga memiliki kepedulian terhadap kampus, masyarakat serta bangsa dan negara. Pastinya dibekali ilmu, terutama di era revolusi industri 4.0 ini memiliki kapasitas siap bersaing dengan lulusan kampus lain.

 

Sumber :

https://jeffmatsuda.com/