kreteria manager proyek yang baik

kreteria manager prkreteria manager proyek yang baik !oyek yang baik !

kreteria manager proyek yang baik !

kreteria manager prkreteria manager proyek yang baik !oyek yang baik !
kreteria manager proyek yang baik !

 

Manajer Proyek (Project Manager) adalah

seseorang yang brtindak sebagai pimpinan dalam suatu proyek. PM ini sangat berperan penting dalam adanya suatu proyek, karena kegagalan dan keberhasilan dari proyek tersebut di tentukan oleh PM itu sendiri.

Untuk menjadi seorang PM yang baik diperlukan beberapa kriteria khusus agar proyek berhasil dengan baik. Kriteria tersebut dilihat dari berapa sisi diantaranya :

Karakter dari Kepribadinya
Karakteristik dari Kemampuan Terkait dengan Proyek yang Dikelola
Karakteristik Kemampuan Terkait dengan Tim yang Dipimpin

 

1.  Karakter dari Kepribadiannya

Harus memahami dan menguasai semua hal baik secara teori maupun teknis terhadap proyek yang sedang di tangani.
Memiliki pengalaman dan keahlian yang berkaitan dengan proyek yang sedang dikelola.
Sebagai seorang yang mengambil keputusan, maka harus mampu bertindak secara adil dan bertanggung jawab.
Memiliki wibawa, mampu beradaptasi dan bergaul dengan bawahan sehingga tidak ada kesenjangan antara atasan dan bawahan.

2.  Karakteristik dari Kemampuan Terkait dengan Proyek yang Dikelola

Memiliki komitmen yang tinggi untuk meraih tujuan serta keberhasilan proyek.
Mampu menyelesaikan proyek sesuai dengan waktu dan anggaran yang diberikan.
Membuat dan melakukan rencana darurat untuk mengantisipasi hal-hal maupun masalah tak terduga.
Mampu membuat perencanaan dalam jangka panjang dan jangka pendek.
Memiliki kemauan untuk mendefinisikan ulang tujuan, tanggung jawab dan jadwal selama hal tersebut ditujukan untuk mengembalikan arah tujuan dari pelaksanaan proyek jika terjadi jadwal maupun anggaran yang meleset.

3.  Karakteristik Kemampuan Terkait dengan tim yang Dipimpin

Mampu bersosialisasi dengan bawahan atau anggota tim.
Mampu membangun kedisiplinan secara structural
Memiliki kemampuan dan keahlian berkomunikasi serta manjerial.
Menghormati para anggota tim kerjanya serta mendapat kepercayaan dan penghormatan dari mereka.
Memiliki kepercayaan yang tinggi kepada para profesional terlatih untuk menerima pekerjaan-pekerjaan yang didelegasikan darinya.
Berbagi sukses dengan seluruh anggota tim.
Mampu menempatkan orang yang tepat di posisi yang sesuai.
Memberikan apresiasi yang baik kepada para anggota tim yang bekerja dengan baik.

Sumber : https://pendidikan.co.id/

Mengenai Peninggalan Kesultanan Kutai Kartanegara

Mengenai Peninggalan Kesultanan Kutai Kartanegara

Mengenai Peninggalan Kesultanan Kutai Kartanegara

Mengenai Peninggalan Kesultanan Kutai Kartanegara
Mengenai Peninggalan Kesultanan Kutai Kartanegara

Ketopong Sultan Kutai

Ketopong atau Mahkota Sultan Kutai Kartanegara terbuat dari emas yang dihiasi dengan batu-batu permata. Bentuk mahkota brunjungan dan bagian muka berbentuk meru bertingkat, dihiasi dengan motif ikal atau spiral yang dikombinasikan dengan motif sulur. Hiasan belakang berupa garuda mungkur berhiaskan ukiran motif bunga, kijang dan burung.

Ketopong dari emas ini telah mulai digunakan semenjak Sultan Aji Muhammad Sulaiman bertahta ( 1845 – 1899 ). Diperkirakan mahkota ini dibuat pada pertengahan abad ke-19 oleh pandai emas dari kerajaan Kutai sendiri. Seperti yang dijelaskan oleh Carl Bock dalam bukunya The Head-Hunters of Borneo (1881) bahwa Sultan Sulaiman memiliki 6 hingga 8 pandai emas yang dipekerjakan khusus untuk membuat barang-barang emas dan perak bagi Sultan.

Di Museum Mulawarman Tenggarong hanya dapat dilihat duplikat dari Ketopong ini. Mahkota asli yang beratnya hampir 2 kg tersebut berada di Museum Nasional Jakarta. Pada saat penobatan Sultan H.A.M. Salehuddin II sebagai Sultan Kutai Kartanegara pada tanggal 22 September 2001, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara meminjam ketopong ini untuk prosesi penobatan sang Sultan.
Detail Ketopong Sultan Kutai

Pedang Sultan Kutai

Pedang Kerajaan Kutai ini terbuat dari emas padat. Pada gagang pedang terukir seekor harimau yang sedang siap menerkam, sementara pada ujung sarung pedang dihiasi dengan seekor buaya. Pedang Sultan Kutai ini dapat dilihat di Museum Nasional, Jakarta.
Kalung Ciwa

Kalung yang terbuat dari emas ini diketemukan oleh penduduk di sekitar Danau Lipan, Kecamatan Muara Kaman pada masa pemerintahan Sultan Aji Muhammad Sulaiman (1850-1899). Oleh penduduk kalung ini diserahkan kepada Sultan, yang kemudian dijadikan perhiasan kerajaan dan digunakan Sultan pada waktu diadakan pesta adat Erau dalam rangka ulang tahun penobatan Sultan sebagai Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

Kalung Uncal

Kalung Uncal yang merupakan atribut dari Kerajaan Kutai Martadipura (Mulawarman) ini digunakan oleh Sultan Kutai Kartanegara setelah Kerajaan Kutai Martadipura berhasil ditaklukkan dan dipersatukan dengan Kerajaan Kutai Kartanegara. Terbuat dari emas 18 karat dengan berat 170 gram. Kalung ini dihiasi dengan relief cerita Ramayana.

Menurut sejarah, kalung Uncal tersebut kemungkinan berasal dari India. Dalam bahasa India kalung ini disebut Unchele dan di dunia ini hanya terdapat 2 buah atau satu pasang, yakni sebuah untuk pria dan sebuahnya lagi untuk wanita.

Kalung Uncal yang saat ini ada di India hanya sebuah saja. Menurut keterangan salah seorang duta India yang berkunjung ke Tenggarong pada tahun 1954, kalung Uncal yang ada di Kutai ini sama bentuk, rupa dan ukurannya dengan kalung Unchele yang ada di India. Sehingga, ada kemungkinan bahwa Raja Mulawarman Nala Dewa merupakan salah seorang keturunan dari Raja-Raja India di masa silam dan membawa kalung Uncal tersebut ke daerah Kutai ini.

Kura-Kura Mas

Menurut riwayat, datanglah ke pusat Kerajaan Mulawarman beberapa rombongan perahu dari negeri Cina yang dipimpin oleh seorang Pangeran yang ingin meminang salah seorang Putri Raja yang bernama Aji Bidara Putih. Setelah lamaran diterima, sang Pangeran mengantarkan barang-barang pertanda kesungguhannya untuk memperistri sang putri berupa perhiasan dari emas dan intan, termasuk diantaranya adalah Kura-Kura Mas tersebut.

Tali Juwita

Tali juwita adalah simbul dari sungai Mahakam yang mempunyai 7 buah muara sungai dan 3 buah anak sungai (sungai Kelinjau, Belayan dan Kedang Pahu). Tali Juwita ini terbuat dari benang yang banyaknya 3×7 helai, kemudian dikuningi dengan kunyit untuk dipakai dalam upacara adat Bepelas.

Keris Bukit Kang

Keris ini adalah tusuk konde dari Aji Putri Karang Melenu, permaisuri Raja Kutai Kartanegara yang pertama yakni Aji Batara Agung Dewa Sakti. Menurut legenda Kutai, bayi perempuan yang kemudian diberi nama Aji Putri Karang Melenu ini ditemukan dalam sebuah gong bersama-sama dengan Keris Bukit Kang dan sebuah telur ayam. Gong ini terletak pada sebuah balai dari bambu kuning. Balai tersebut terletak diatas tanduk seekor binatang aneh yang disebut Lembu Swana yang muncul di perairan Kutai Lama.

Kelambu Kuning

Berbagai benda yang menurut kepercayaan mengandung magis ditempatkan dalam kelambu kuning, yakni:

a. Kelengkang Besi

Pada suatu hari ketika hujan panas, petinggi yang tinggal di sungai Bengkalang (Kecamatan Long Iram) yang bernama Sangkareak mendengar suara tangisan bayi. Setelah dicari akhirnya ditemukannya seorang bayi berada dalam suatu wadah yang disebut kelengkang besi.

b. Tajau (Guci/Molo)

Tajau atau tempayan ini dipergunakan untuk mengambil air ketika hendak memandikan Aji Batara Agung Dewa Sakti untuk pertama kalinya.

c. Gong Raden Galuh

Tempat Aji Putri Karang Melenu bersama Keris Bukit Kang diketemukan. Gong besar ini disebut juga Gong Maharaja Pati.

d. Gong Bende (Canang Ponograh)

Gong kecil ini dipukul bilamana ada sesuatu yang akan diumumkan kepada khalayak.

e. Arca Singa Noleh

Konon, arca Singa Noleh awal mulanya adalah seekor binatang hidup yang sedang memakan beras lempukut yang baru ditumbuk oleh seorang wanita. Wanita tersebut marah dan binatang tersebut jatuh, terus menjadi batu bercampur porselein seperti keadaannya sekarang.
f. Keliau Aji Siti Berawan

Keliau atau perisai ini adalah yang selalu dipakai oleh Aji Siti Berawan, keluarga dari dari Sultan Kutai Kartanegara. Aji Siti Berawan disebut pahlawan wanita karena selalu mempertahankan kerajaan dari serangan musuh. Mandau yang dipakainya dinamakan Mandau Piatu.

g. Sangkoh Piatu

Sangkoh (lembing) ini dipakai pada waktu Erau dan dikaitkan pada tali Juwita dan kain Cinde.

h. Sangkoh Buntut Yupa

Lembing ini penjelmaan dari seekor ular yang diketemukan di ujung pulau Yupa oleh seorang penduduk kampung sekitar pulau tersebut.
Singgasana Sultan Kutai
Singgasana Sultan Kutai Kartanegara

Singgasana Sultan

Setinggil / Singgasana yang dipakai Sultan Aji Muhammad Sulaiman maupun yang dipakai Sultan Aji Muhammad Parikesit, berikut payung, umbul-umbul, dan geta (peraduan pengantin Kutai Keraton).

Meriam Sapu Jagat dan Meriam Gentar Bumi

Kedua meriam yang dianggap memiliki kekuatan daya sakti ini digunakan Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa untuk menundukkan Kerajaan Kutai Martadipura di Muara Kaman.

Meriam Aji Entong

Meriam buatan VOC ini awalnya ditempatkan di daerah muara sungai Mahakam, tepatnya di Terantang (Kecamatan Anggana), untuk berjaga-jaga dan menghadapi musuh yang datang melalui selat Makassar.

Meriam Sri Gunung

Meriam Sri Gunung inilah yang dipakai Awang Long gelar Pangeran Senopati untuk menembak armada kapal Inggris dan Belanda yang menyerang Tenggarong pada tahun 1844.

Tombak Kerajaan Majapahit

Tombak-tombak tua dari Kerajaan Majapahit yang tersimpan di Museum Mulawarman membuktikan adanya hubungan sejarah antara Kerajaan Kutai Kartanegara dengan Kerajaan Majapahit.

Keramik Kuno Tiongkok

Ratusan koleksi keramik kuno dari berbagai dinasti di Cina yang tersimpan di ruang bawah tanah Museum Mulawarman membuktikan telah adanya perdagangan yang ramai antara daerah Kutai dengan daratan Cina di masa lampau.

Gamelan Gajah Prawoto

Seperangkat gamelan yang terdapat di Museum Mulawarman berasal dari pulau Jawa, begitu pula topeng-topeng, beberapa keris, pangkon, barang-barang perak maupun kuningan, serta wayang kulit membuktikan adanya hubungan yang erat antara Kerajaan Kutai Kartanegara dengan kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa semenjak jayanya Majapahit.

 

Baca Artikel Lainnya:

Mengenai Kesultanan Kutai Kartanegara

Mengenai Kesultanan Kutai Kartanegara

Mengenai Kesultanan Kutai Kartanegara

Mengenai Kesultanan Kutai Kartanegara
Mengenai Kesultanan Kutai Kartanegara

Ditinjau dari sejarah Indonesia kuno

Kerajaan Kutai merupakan kerajaan tertua di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya 7 buah prasasti yang ditulis diatas yupa (tugu batu) yang ditulis dalam bahasa Sansekerta dengan menggunakan huruf Pallawa. Berdasarkan paleografinya, tulisan tersebut diperkirakan berasal dari abad ke-5 Masehi.
Dari prasasti tersebut dapat diketahui adanya sebuah kerajaan dibawah kepemimpinan Sang Raja Mulawarman, putera dari Raja Aswawarman, cucu dari Maharaja Kudungga. Kerajaan yang diperintah oleh Mulawarman ini bernama Kerajaan Kutai Martadipura, dan berlokasi di seberang kota Muara Kaman.
Pada awal abad ke-13, berdirilah sebuah kerajaan baru di Tepian Batu atau Kutai Lama yang bernama Kerajaan Kutai Kartanegara dengan rajanya yang pertama, Aji Batara Agung Dewa Sakti (1300-1325).
Dengan adanya dua kerajaan di kawasan Sungai Mahakam ini tentunya menimbulkan friksi diantara keduanya.
Pada abad ke-16 terjadilah peperangan diantara kedua kerajaan Kutai ini. Kerajaan Kutai Kartanegara dibawah rajanya Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa akhirnya berhasil menaklukkan Kerajaan Kutai Martadipura. Raja kemudian menamakan kerajaannya menjadi Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
Pada abad ke-17 agama Islam diterima dengan baik oleh Kerajaan Kutai Kartanegara. Selanjutnya banyak nama-nama Islami yang akhirnya digunakan pada nama-nama raja dan keluarga kerajaan Kutai Kartanegara. Sebutan raja pun diganti dengan sebutan Sultan. Sultan yang pertama kali menggunakan nama Islam adalah Sultan Aji Muhammad Idris (1735-1778).
Tahun 1732, ibukota Kerajaan Kutai Kartanegara pindah dari Kutai Lama ke Pemarangan.
Perpindahan ibukota Kerajaan Kutai Kartanegara dari Kutai Lama (1300-1732) ke Pemarangan (1732-1782) kemudian pindah ke Tenggarong (1782-kini).
Sultan Aji Muhammad Idris yang merupakan menantu dari Sultan Wajo Lamaddukelleng berangkat ke tanah Wajo, Sulawesi Selatan untuk turut bertempur melawan VOC bersama rakyat Bugis. Pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara untuk sementara dipegang oleh Dewan Perwalian.
Pada tahun 1739, Sultan A.M. Idris gugur di medan laga. Sepeninggal Sultan Idris, terjadilah perebutan tahta kerajaan oleh Aji Kado. Putera mahkota kerajaan Aji Imbut yang saat itu masih kecil kemudian dilarikan ke Wajo. Aji Kado kemudian meresmikan namanya sebagai Sultan Kutai Kartanegara dengan menggunakan gelar Sultan Aji Muhammad Aliyeddin.
Setelah dewasa, Aji Imbut sebagai putera mahkota yang syah dari Kesultanan Kutai Kartanegara kembali ke tanah Kutai. Oleh kalangan Bugis dan kerabat istana yang setia pada mendiang Sultan Idris, Aji Imbut dinobatkan sebagai Sultan Kutai Kartanegara dengan gelar Sultan Aji Muhammad Muslihuddin. Penobatan Sultan Muslihuddin ini dilaksanakan di Mangkujenang (Samarinda Seberang). Sejak itu dimulailah perlawanan terhadap Aji Kado.
Perlawanan berlangsung dengan siasat embargo yang ketat oleh Mangkujenang terhadap Pemarangan. Armada bajak laut Sulu terlibat dalam perlawanan ini dengan melakukan penyerangan dan pembajakan terhadap Pemarangan. Tahun 1778, Aji Kado meminta bantuan VOC namun tidak dapat dipenuhi.
Pada tahun 1780, Aji Imbut berhasil merebut kembali ibukota Pemarangan dan secara resmi dinobatkan sebagai sultan dengan gelar Sultan Aji Muhammad Muslihuddin di istana Kesultanan Kutai Kartanegara. Aji Kado dihukum mati dan dimakamkan di Pulau Jembayan.
Aji Imbut gelar Sultan Aji Muhammad Muslihuddin memindahkan ibukota Kesultanan Kutai Kartanegara ke Tepian Pandan pada tanggal 28 September 1782. Perpindahan ini dilakukan untuk menghilangkan pengaruh kenangan pahit masa pemerintahan Aji Kado dan Pemarangan dianggap telah kehilangan tuahnya. Nama Tepian Pandan kemudian diubah menjadi Tangga Arung yang berarti Rumah Raja, lama-kelamaan Tangga Arung lebih populer dengan sebutan Tenggarong dan tetap bertahan hingga kini.
Pada tahun 1838, Kesultanan Kutai Kartanegara dipimpin oleh Sultan Aji Muhammad Salehuddin setelah Aji Imbut mangkat pada tahun tersebut.
Pada tahun 1844, 2 buah kapal dagang pimpinan James Erskine Murray asal Inggris memasuki perairan Tenggarong. Murray datang ke Kutai untuk berdagang dan meminta tanah untuk mendirikan pos dagang serta hak eksklusif untuk menjalankan kapal uap di perairan Mahakam. Namun Sultan A.M. Salehuddin mengizinkan Murray untuk berdagang hanya di wilayah Samarinda saja. Murray kurang puas dengan tawaran Sultan ini. Setelah beberapa hari di perairan Tenggarong, Murray melepaskan tembakan meriam kearah istana dan dibalas oleh pasukan kerajaan Kutai.
Pertempuran pun tak dapat dihindari. Armada pimpinan Murray akhirnya kalah dan melarikan diri menuju laut lepas. Lima orang terluka dan tiga orang tewas dari pihak armada Murray, dan Murray sendiri termasuk diantara yang tewas tersebut.
Insiden pertempuran di Tenggarong ini sampai ke pihak Inggris. Sebenarnya Inggris hendak melakukan serangan balasan terhadap Kutai, namun ditanggapi oleh pihak Belanda bahwa Kutai adalah salah satu bagian dari wilayah Hindia Belanda dan Belanda akan menyelesaikan permasalahan tersebut dengan caranya sendiri.
Kemudian Belanda mengirimkan armadanya dibawah komando t’Hooft dengan membawa persenjataan yang lengkap. Setibanya di Tenggarong, armada t’Hooft menyerang istana Sultan Kutai. Sultan A.M. Salehuddin diungsikan ke Kota Bangun. Panglima perang kerajaan Kutai, Awang Long gelar Pangeran Senopati bersama pasukannya dengan gagah berani bertempur melawan armada t’Hooft untuk mempertahankan kehormatan Kerajaan Kutai Kartanegara.
Awang Long gugur dalam pertempuran yang kurang seimbang tersebut dan Kesultanan Kutai Kartanegara akhirnya kalah dan takluk pada Belanda.
Pada tanggal 11 Oktober 1844, Sultan A.M. Salehuddin harus menandatangani perjanjian dengan Belanda yang menyatakan bahwa Sultan mengakui pemerintahan Hindia Belanda dan mematuhi pemerintah Hindia Belanda di Kalimantan yang diwakili oleh seorang Residen yang berkedudukan di Banjarmasin.
Tahun 1846, H. von Dewall menjadi administrator sipil Belanda yang pertama di pantai timur Kalimantan.
Pada tahun 1850, Sultan A.M. Sulaiman memegang tampuk kepemimpinan Kesultanan Kutai kartanegara Ing Martadipura.
Pada tahun 1853, pemerintah Hindia Belanda menempatkan J. Zwager sebagai Assisten Residen di Samarinda. Saat itu kekuatan politik dan ekonomi masih berada dalam genggaman Sultan A.M. Sulaiman (1850-1899).
Pada tahun 1863, kerajaan Kutai Kartanegara kembali mengadakan perjanjian dengan Belanda. Dalam perjanjian itu disepakati bahwa Kerajaan Kutai Kartanegara menjadi bagian dari Pemerintahan Hindia Belanda.
Tahun 1888, pertambangan batubara pertama di Kutai dibuka di Batu Panggal oleh insinyur tambang asal Belanda, J.H. Menten. Menten juga meletakkan dasar bagi ekspoitasi minyak pertama di wilayah Kutai. Kemakmuran wilayah Kutai pun nampak semakin nyata sehingga membuat Kesultanan Kutai Kartanegara menjadi sangat terkenal di masa itu. Royalti atas pengeksloitasian sumber daya alam di Kutai diberikan kepada Sultan Sulaiman.
Tahun 1899, Sultan Sulaiman wafat dan digantikan putera mahkotanya Aji Mohammad dengan gelar Sultan Aji Muhammad Alimuddin.
Pada tahun 1907, misi Katholik pertama didirikan di Laham. Setahun kemudian, wilayah hulu Mahakam ini diserahkan kepada Belanda dengan kompensasi sebesar 12.990 Gulden per tahun kepada Sultan Kutai Kartanegara.
Sultan Alimuddin hanya bertahta dalam kurun waktu 11 tahun saja, beliau wafat pada tahun 1910. Berhubung pada waktu itu putera mahkota Aji Kaget masih belum dewasa, tampuk pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara kemudian dipegang oleh Dewan Perwalian yang dipimpin oleh Aji Pangeran Mangkunegoro.
Pada tanggal 14 Nopember 1920, Aji Kaget dinobatkan sebagai Sultan Kutai Kartanegara dengan gelar Sultan Aji Muhammad Parikesit.
Sejak awal abad ke-20, ekonomi Kutai berkembang dengan sangat pesat sebagai hasil pendirian perusahaan Borneo-Sumatra Trade Co.
Di tahun-tahun tersebut, kapital yang diperoleh Kutai tumbuh secara mantap melalui surplus yang dihasilkan tiap tahunnya. Hingga tahun 1924, Kutai telah memiliki dana sebesar 3.280.000 Gulden – jumlah yang sangat fantastis untuk masa itu.
Tahun 1936, Sultan A.M. Parikesit mendirikan istana baru yang megah dan kokoh yang terbuat dari bahan beton. Dalam kurun waktu satu tahun, istana tersebut selesai dibangun.
Ketika Jepang menduduki wilayah Kutai pada tahun 1942, Sultan Kutai harus tunduk pada Tenno Heika, Kaisar Jepang. Jepang memberi Sultan gelar kehormatan Koo dengan nama kerajaan Kooti.
Indonesia merdeka pada tahun 1945. Dua tahun kemudian, Kesultanan Kutai Kartanegara dengan status Daerah Swapraja masuk kedalam Federasi Kalimantan Timur bersama-sama daerah Kesultanan lainnya seperti Bulungan, Sambaliung, Gunung Tabur dan Pasir dengan membentuk Dewan Kesultanan. Kemudian pada 27 Desember 1949 masuk dalam Republik Indonesia Serikat.
Daerah Swapraja Kutai diubah menjadi Daerah Istimewa Kutai yang merupakan daerah otonom/daerah istimewa tingkat kabupaten berdasarkan UU Darurat No.3 Th.1953.
Pada tahun 1959, berdasarkan UU No. 27 Tahun 1959 tentang “Pembentukan Daerah-Daerah Tingkat II di Kalimantan”, wilayah Daerah Istimewa Kutai dipecah menjadi 3 Daerah Tingkat II, yakni:
1. Daerah Tingkat II Kutai  dengan ibukota Tenggarong
2. Kotapraja Balikpapan dengan ibukota Balikpapan
3. Kotapraja Samarinda dengan ibukota Samarinda
Pada tanggal 20 Januari 1960, bertempat di Gubernuran di Samarinda, A.P.T. Pranoto yang menjabat sebagai Gubernur Kalimantan Timur, dengan atas nama Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia melantik dan mengangkat sumpah 3 kepala daerah untuk ketiga daerah swatantra tersebut, yakni:
1. A.R. Padmo sebagai Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kutai
2. Kapt. Soedjono sebagai Walikota Kotapraja Samarinda
3. A.R. Sayid Mohammad sebagai Walikota Kotapraja Balikpapan
Sehari kemudian, pada tanggal 21 Januari 1960 bertempat di Balairung Keraton Sultan Kutai, Tenggarong diadakan Sidang Khusus DPRD Daerah Istimewa Kutai. Inti dari acara ini adalah serah terima pemerintahan dari Kepala Kepala Daerah Istimewa Kutai, Sultan Aji Muhammad Parikesit kepada Aji Raden Padmo sebagai Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kutai, Kapten Soedjono (Walikota Samarinda) dan A.R. Sayid Mohammad (Walikota Balikpapan). Pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara dibawah Sultan Aji Muhammad Parikesit berakhir, dan beliau pun hidup menjadi rakyat biasa.
Pada tahun 1999, Bupati Kutai Kartanegara Drs. H. Syaukani HR, MM berniat untuk menghidupkan kembali Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura. Dikembalikannya Kesultanan Kutai ini bukan dengan maksud untuk menghidupkan feodalisme di daerah, namun sebagai upaya pelestarian warisan sejarah dan budaya Kerajaan Kutai sebagai kerajaan tertua di Indonesia. Selain itu, dihidupkannya tradisi Kesultanan Kutai Kartanegara adalah untuk mendukung sektor pariwisata Kalimantan Timur dalam upaya menarik minat wisatawan nusantara maupun mancanegara.
Pada tanggal 7 Nopember 2000, Bupati Kutai Kartanegara bersama Putera Mahkota Kutai H. Aji Pangeran Praboe Anoem Soerja Adiningrat menghadap Presiden RI Abdurrahman Wahid di Bina Graha Jakarta untuk menyampaikan maksud diatas. Presiden Wahid menyetujui dan merestui dikembalikannya Kesultanan Kutai Kartanegara kepada keturunan Sultan Kutai yakni putera mahkota H. Aji Pangeran Praboe.
Pada tanggal 22 September 2001, Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara, H. Aji Pangeran Praboe Anoem Soerya Adiningrat dinobatkan menjadi Sultan Kutai Kartanegara dengan gelar Sultan H. Aji Muhammad Salehuddin II. Penabalan H.A.P. Praboe sebagai Sultan Kutai Kartanegara baru dilaksanakan pada tanggal 22 September 2001.

Wilayah Keslutanan

Pada masa kejayaannya hingga tahun 1959, Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura memiliki wilayah kekuasaan yang sangat luas. Wilayah kekuasaannya meliputi beberapa wilayah otonom yang ada di propinsi Kalimantan Timur saat ini, yakni:
1. Kabupaten Kutai Kartanegara
2. Kabupaten Kutai Barat
3. Kabupaten Kutai Timur
4. Kota Balikpapan
5. Kota Bontang
6. Kota Samarinda
Dengan demikian, luas dari wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara hingga tahun 1959 adalah seluas 94.700 km2.

Pada tahun 1959, wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara atau Daerah Istimewa Kutai dibagi menjadi 3 wilayah Pemerintah Daerah Tingkat II, yakni Kabupaten Kutai, Kotamadya Balikpapan dan Kotamadya Samarinda. Dan sejak itu berakhirlah pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara setelah disahkannya Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Kutai melalui UU No.27 Tahun 1959 tentang Pencabutan Status Daerah Istimewa Kutai.

Berikut ini adalah daftar nama-nama Sultan yang pernah memerintah Kesultanan Kutai Kartanegara.
No.
N a m a    R a j a / S u l t a n
M a s a
01
Aji Batara Agung Dewa Sakti 1300-1325
02
Aji Batara Agung Paduka Nira 1325-1360
03 Aji Maharaja Sultan 1360-1420
04 Aji Raja Mandarsyah 1420-1475
05 Aji Pangeran Tumenggung Bayabaya 1475-1545
06 Aji Raja Mahkota Mulia Alam 1545-1610
07 Aji Dilanggar 1610-1635
08 Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa ing Martapura 1635-1650
09 Aji Pangeran Dipati Agung ing Martapura 1650-1665
10 Aji Pangeran Dipati Maja Kusuma ing Martapura 1665-1686
11 Aji Ragi gelar Ratu Agung 1686-1700
12 Aji Pangeran Dipati Tua 1700-1730
13 Aji Pangeran Anum Panji Mendapa ing Martapura 1730-1732
14 Aji Muhammad Idris 1732-1778
15 Aji Muhammad Aliyeddin 1 1778-1780
16 Aji Muhammad Muslihuddin 2 1780-1816
17 Aji Muhammad Salehuddin 1816-1845
18 Aji Muhammad Sulaiman 3 1850-1899
19 Aji Muhammad Alimuddin 1899-1910
20 Aji Muhammad Parikesit 4 1920-1960
21 H. Aji Muhammad Salehuddin II 5 1999-kini
Catatan:
1
Aji Kado melakukan kudeta terhadap Kesultanan Kutai Kartanegara setelah Sultan A.M. Idris gugur di tanah Wajo, Sulawesi Selatan. Aji Kado mengangkat dirinya sebagai Sultan dengan gelar Aji Muhammad Aliyeddin. Karena bukan pewaris tahta yang sah, A.M. Aliyeddin hingga saat ini tidak dianggap/diakui sebagai Sultan Kutai ke-15 oleh Kesultanan Kutai
2
Pewaris tahta Kerajaan Kutai Kartanegara yang sah, yakni putera mahkota Aji Imbut berhasil menggulingkan pemerintahan Aji Kado. Aji Imbut dinobatkan sebagai Sultan dengan gelar Aji Muhammad Muslihuddin.
3
Setelah Sultan A.M. Salehuddin wafat, pemerintahan kerajaan dikendalikan oleh Dewan Perwalian selama 5 tahun hingga menunggu putra mahkota A.M. Sulaiman beranjak dewasa.
4

Ketika Sultan A.M. Alimuddin wafat pada tahun 1910, pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara untuk sementara dikendalikan oleh Dewan Perwalian yang dipimpin A.P. Mangkunegoro selama 10 tahun hingga putra mahkota A.M. Parikesit tumbuh dewasa dan siap menjadi Sultan.

A.M. Parikesit merupakan Sultan terakhir Pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara berakhir dengan ditetapkannya Daerah Istimewa Kutai menjadi Kabupaten, selanjutnya  menjadi masyarakat biasa

5
Kesultanan Kutai Kartanegara dihidupkan kembali sebagai upaya pelestarian budaya. Putra mahkota Kutai H. Aji Pangeran Praboe dinobatkan sebagai Sultan dengan gelar Sultan H. Aji Muhammad Salehuddin.

Keraton Kesultanan

Kata Kraton/Keraton yang berasal dari kata ‘keratuan’ memiliki arti sebagai istana atau tempat kediaman dari seorang ratu (raja), istilah istana ini juga biasa disebut dengan Kedaton yang berasal dari kata ‘kedatuan’. Jika dilihat dari perjalanan panjang sejarah Kerajaan Kutai Kartanegara sejak abad ke-13 yang telah mengalami tiga kali perpindahan ibukota, tentunya istana Kerajaan Kutai Kartanegara pun telah mengalami beberapa kali perpindahan atau perubahan. Namun sayang, tidak ada dokumentasi sejarah mengenai rupa bangunan istana raja-raja Kutai di masa lalu baik yang di Kutai Lama, ibukota pertama Kerajaan Kutai Kartanegara maupun di Pemarangan, ibukota kerajaan yang kedua.
Dokumentasi bentuk istana Sultan Kutai hanya ada pada masa pemerintahan Sultan A.M. Sulaiman yang kala itu beribukota di Tenggarong, setelah para penjelajah Eropa melakukan ekspedisi ke pedalaman Mahakam pada abad ke-18. Carl Bock, seorang penjelajah berkebangsaan Norwegia yang melakukan ekspedisi Mahakam pada tahun 1879 sempat membuat ilustrasi pendopo istana Sultan A.M. Sulaiman. Istana Sultan Kutai pada masa itu terbuat dari kayu ulin dengan bentuk yang cukup sederhana.
Kartanegara kemudian dipimpin oleh Sultan A.M. Alimuddin (1899-1910). Sultan Alimuddin mendiami  keraton baru yang terletak tak jauh dari bekas keraton Sultan Sulaiman.  Keraton Sultan Alimuddin ini terdiri dari dua lantai dan juga terbuat dari kayu ulin (kayu besi). Keraton ini dibangun menghadap sungai Mahakam. Hingga Sultan A.M. Parikesit naik tahta pada tahun 1920, keraton ini tetap digunakan dalam menjalankan roda pemerintahan kerajaan.
Pada tahun 1936, keraton kayu peninggalan Sultan Alimuddin ini dibongkar karena akan digantikan dengan bangunan beton yang lebih kokoh. Untuk sementara waktu, Sultan Parikesit beserta keluarga kemudian menempati keraton lama peninggalan Sultan Sulaiman. Pembangunan keraton baru ini dilaksanakan oleh HBM ( Hollandsche Beton Maatschappij ) Batavia dengan arsiteknya Estourgie. Dibutuhkan waktu satu tahun untuk menyelesaikan istana ini.
Setelah fisik bangunan keraton rampung pada tahun 1937, baru setahun kemudian yakni pada tahun 1938 keraton baru ini secara resmi didiami oleh Sultan Parikesit beserta keluarga. Peresmian keraton yang megah ini dilaksanakan cukup meriah dengan disemarakkan pesta kembang api pada malam harinya. Sementara itu, dengan telah berdirinya keraton baru maka keraton buruk peninggalan Sultan Sulaiman kemudian dirobohkan. Pada masa sekarang, areal bekas keraton lama ini telah diganti dengan sebuah bangunan baru yakni gedung Serapo LPKK.
Setelah pemerintahan Kesultanan Kutai berakhir pada tahun 1960, bangunan keraton dengan luas 2.270 m2 ini tetap menjadi tempat kediaman Sultan A.M. Parikesit hingga tahun 1971.  Keraton Kutai kemudian diserahkan kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur pada tanggal 25 Nopember 1971. Pada tanggal 18 Februari 1976, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menyerahkan bekas keraton Kutai Kartanegara ini kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk dikelola menjadi sebuah museum negeri dengan nama Museum Mulawarman. Didalam museum ini disajikan beraneka ragam koleksi peninggalan kesultanan Kutai Kartanegara, diantaranya singgasana, arca, perhiasan, perlengkapan perang, tempat tidur, seperangkat gamelan, koleksi keramik kuno dari China, dan lain-lain.
Dalam lingkungan keraton Sultan Kutai terdapat makam raja dan keluarga kerajaan Kutai Kartanegara. Jirat atau nisan Sultan dan keluarga kerajaan ini kebanyakan terbuat dari kayu besi yang dapat tahan lama dengan tulisan huruf Arab yang diukir. Sultan-sultan yang dimakamkan disini diantaranya adalah Sultan Muslihuddin, Sultan Salehuddin, Sultan Sulaiman dan Sultan Parikesit. Hanya Sultan Alimuddin saja yang tidak dimakamkan di lingkungan keraton, beliau dimakamkan di tanah miliknya di daerah Gunung Gandek, Tenggarong.

Pada tanggal 22 September 2001, putra mahkota H. Aji Pangeran Praboe Anum Surya Adiningrat dinobatkan menjadi Sultan Kutai Kartanegara dengan gelar Sultan H.A.M.  Salehuddin II. Dipulihkannya kembali Kesultanan Kutai Kartanegara ini adalah sebagai upaya untuk melestarikan warisan budaya Kerajaan Kutai sebagai kerajaan tertua di Indonesia agar tak punah dimakan masa. Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara telah membangun sebuah istana baru yang disebut Kedaton bagi Sultan Kutai Kartanegara yang sekarang. Bentuk kedaton baru yang terletak disamping Masjid Jami’ Hasanuddin ini memiliki konsep rancangan yang mengacu pada bentuk keraton Kutai pada masa pemerintahan Sultan Alimuddin.

Gelar Kebangsawanan

Dalam Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, gelar kebangsawanan yang digunakan oleh keluarga kerajaan adalah Aji. Gelar Aji diletakkan didepan nama anggota keluarga kerajaan. Dalam gelar kebangsawanan Kutai Kartanegara dikenal penggunaan gelar sebagai berikut:
Aji Sultan
Digunakan untuk penyebutan nama Sultan bagi kerabat kerajaan
Aji Ratu
Gelar yang diberikan bagi permaisuri Sultan
Aji Pangeran
Gelar bagi putera Sultan.
Aji Puteri
Gelar bagi puteri Sultan. Gelar Aji Puteri setara dengan Aji Pangeran.
Aji Raden
Gelar yang setingkat diatas Aji Bambang. Gelar ini diberikan oleh Sultan hanya kepada pria bangsawan Kutai yang sebelumnya menyandang gelar Aji Bambang.
Aji Bambang
Gelar yang setingkat lebih tinggi dari Aji. Gelar ini hanya dapat diberikan oleh Sultan kepada pria bangsawan Kutai yang sebelumnya menyandang gelar Aji saja.
Aji
Gelar bagi keturunan bangsawan Kutai. Gelar Aji hanya dapat diturunkan oleh pria bangsawan Kutai. Wanita Aji yang menikah dengan pria biasa tidak dapat menurunkan gelar Aji kepada anak-anaknya.
Catatan:
Jika pria Aji menikah dengan wanita dari kalangan bangsawan Kutai sendiri atau dari kalangan rakyat biasa maupun suku lain, maka putra-putrinya berhak menyandang gelar Aji. Namun jika wanita Aji menikah dengan pria yang bukan keturunan bangsawan Kutai, maka putra-putrinya tidak dapat memperoleh gelar Aji, kecuali jika wanita Aji tersebut menikah dengan bangsawan keturunan Arab (Sayid).

Jika wanita Aji menikah dengan keturunan Arab (Sayid), maka putra-putrinya memperoleh gelar sebagai berikut:
Aji Sayid
Gelar ini diturunkan kepada putera dari wanita Aji yang menikah dengan pria keturunan Arab.
Aji Syarifah
Gelar ini diturunkan kepada puteri dari wanita Aji yang menikah dengan pria keturunan Arab.
Catatan:
Gelar Aji Sayid maupun Aji Syarifah tetap setara dengan gelar Aji biasa. Artinya gelar ini tetap dibawah Aji Bambang maupun Aji Raden.

Mengenai Apa Itu Sungai

Mengenai Apa Itu Sungai

Mengenai Apa Itu Sungai

Mengenai Apa Itu Sungai
Mengenai Apa Itu Sungai

Sungai adalah aliran air di permukaan tanah yang mengalir ke laut. Dalam Bahasa Indonesia, kita hanya mengenal satu kata “sungai”. Sedangkan dalam Bahasa Inggris dikenal kata “stream” dan “river”. Kata “stream” dipergunakan untuk menyebutkan sungai kecil, sedang “river” untuk menyebutkan sungai besar.

Daerah Aliran Sungai (DAS)

Air hujan yang jatuh ke permukaan bumi akan mengalir di permukaan bumi dan kemudian masuk ke dalam alur sungai dan mengalir sebagai aliran sungai. Kawasan di permukaan bumi yang bila turun hujan air itu masuk ke suatu aliran sungai tertentu disebut sebagai Daerah Aliran Sungai atau dikenal sebagai DAS. Jadi, besar atau kecilnya debit air sungai, selain ditentukan oleh tingginya curah hujan juga ditentukan oleh luas DAS.

Struktur Aliran Sungai

Aliran sungai di suatu kawasan atau di dalam DAS dapat kita umpamakan seperti sebatang pohon. Sungai utama sebanding dengan batang pohon, dan anak-anak sungai sebanding dengan cabang-cabang pohon dan rantingnya. Ibarat sebatang pohon, makin besar sungai itu, maka makin banyak pula anak-anak sungai yang mengalirkan aliran airnya ke dalam sungai utama. Pada sistem aliran sungai, cabang sungai yang paling luar atau yang terjauh dari sungai induk disebut sengan sungai orde satu. Pertemuan antara dua sungai orde satu menghasilkan sungai orde dua dan seterusnya sampai ke sungai induk.
Jadi, makin besar sebuah sungai berarti makin banyak cabang dan anak-anak sungainya. Dengan demikian pula dengan debit sungai, makin banyak cabang atau anak sungai, maka makin besar pula debit sungai induknya.

Sungai dan Banjir

Aliran sungai sangat erat hubungannya dengan banjir. Banjir di sekitar aliran sungai, seperti yang terjadi di Australia dalam bulan Januari ini, terjadi karena volume air termukaan yang masuk ke dalam aliran sungai melebihi kapasitas alur sungai untuk menampungnya.
Aliran sungai dimulai dari daerah yang lebih tinggi di kawasan pegunungan atau perbukitan dan berakhir di kawasan pesisir atau tepi pantai. Daerah tempat aliran sungai berawal disebut sebagai bagian hulu sungai, dan daerah tempat aliran sungai berakhir disebut sebagai bagian hilir. Di antara kedua daerah tersebut terdapat daerah pertengahan yang merupakan daerah transisi. Jadi, dalam kondisi ideal, daerah aliran sungai dapat dibedakan menjadi bagian hulu, bagian hilir dan bagian pertengahan.
Berdasarkan kondisi fisiknya, sungai terbagi menjadi 3 yaitu :
    1. Bagian hulu, pada kondisi hulu aliran air deras, batu-batuan juga besar dan erosi yang terjadi adalah erosi vertikal ke bawah (air terjun).Daerah hulu adalah daerah awal aliran sungai, dan berada di daerah pegunungan atau perbukitan. Sungai-sungai di daerah hulu memiliki ciri-ciri antara lain :
      • Memiliki lembah sungai berbentuk “V”.
      • Debit airnya relatif kecil dan sangat dipengaruhi oleh curah hujan.
      • Kondisi dasar sungai berbatu-batu.
      • Erosi oleh aliran air sungai terutama terjadi ke arah vertikal (aliran air sungai mengerosi dasar sungai).
      • Aliran sungai mengalir di atas batuan induk (country rocks).
      • Aliran sungai mengerosi batuan induk.
      • Aliran sungai cenderung relatif lurus.
      • Tidak pernah terjadi banjir (air sungai yang meluap) karena air segera mengalir ke hilir.
    2. Bagian tengah, pada bagian ini aliran air sudah agak tenang, batu-batuan juga sudah tidak besar lagi dan erosi yang terjadi ke samping/horizontal.
  1. Pada bagian hilir, pada bagian ini aliran air sudah tenang, batu-batuan juga sudah berubah menjadi kental/pasir dan sudah jarang terjadi erosi.Daerah hilir adalah daerah akhir aliran sungai, dan di dataran rendah tepi pantai. Sungai-sungai di daerah hilir dapat memiliki ciri-ciri antara lain :
    • Memiliki lembah sungai berbentuk “U”.
    • Aliran air permanen meskipun debit aliran sungai dapat dipengaruhi oleh curah hujan (musim).
    • Di dalam alur sungai cenderung terjadi pengendapan, dan aliran air sungai mengalir di atas endapannya sendiri.
    • Mendapat air dari alur yang berasal dari daerah hulu, dan kondisi debit dipengaruhi oleh kondisi daerah hulu.
    • Dapat terjadi banjir bila debit air yang datang dari daerah hulu melebihi daya tampung saluran sungai yang ada di daerah hilir.
    • Daerah genangan air sungai ketika banjir dikenal sebagai daerah dataran banjir, dan di dataran ini muatan yang dibawa oleh air sungai ketika banjir sebagian diendapkan.
    • Aliran sungai cenderung berkelok-kelok membentuk pola aliran sungai yang dikenal sebagai meander.
    • Sungai cenderung mengerosi ke arah lateral (mengerosi tebing sungai).

Sumber Air

Air sungai bisa berasal dari air hujan (terutama di daerah tropis) dan bisa pula berasal dari es yang mencair di gunung atau pegunungan (terutama di daerah empat musim). Oleh karena itu, debit air sungai bisa sangat dipengaruhi oleh musim.
Sungai berdasarkan sumber airnya , dibedakan menjadi :
  1. Sungai Hujan : Sungai yang aliran airnya berasal dari air hujan. Contoh : Sungai Cisadane, Sungai Mahakam.
  2. Sungai Gletser : Sungai yang terbentuk dari es yang mencair.
  3. Sungai Campuran : Sungai yang aliran airnya berasal dari campuran gletser dan air hujan. Contoh Sungai Digul (Papua) dan Sungai Memberano (Papua)

Pengaruh Musim

Di Indonesia yang berada di daerah tropis, debit air sungai akan tinggi bila musim hujan dan rendah di musim kemarau. Sementara itu, di daerah empat musim, debit aliran sungai meningkat ketika musim dingin berakhir karena salju mencair.Sungai berdasarkan debit aliran airnya :
  1. Sungai permanen : Sungai yang debitnya stabil dan tidak dipengaruhi oleh musim. Contoh Sungai Mahakam, Sungai Barito, Sungai Musi dan Sungai Kapuas.
  2. Sungai periodik : Sungai yang aliran airnya dipengaruhi oleh musim, meluap ketika musim hujan dan kering ketika musim kering. Contoh Sungai Ciliwung, Sungai Cisadane.
  3. Sungai Episodik ; sungai yang aliran airnya ada hanya di musim penghujan, contoh Sungai Kasada di Sumba.
Sungai, berdasarkan stadia erosinya dapat dibedakan menjadi:
  1. Sungai Muda, dengan ciri-ciri
    • penampang melintang sungai berbentuk V
    • banyak dijumpai air terjun
    • tidak terjadi pengendapan
    • erosi vertikal efektif
    • relatif lurus dan mengalir di atas batuan induk
  2. Sungai Dewasa, dengan ciri-ciri
    • penampang melintang sungai berbentuk U
    • erosi relatif kecil
    • banyak bermunculan cabang-cabang sungai
    • erosi lateral efektif
  3. Sungai Tua dengan ciri-ciri
    • penampang melintang sungai berbentuk cawan
    • erosi lateral sangat efektif
    • anak sungai lebih banyak
    • bermeander
    • kemiringan datar

Emil: Hati-Hati Dengan Rentenir Online

Emil Hati-Hati Dengan Rentenir Online

Emil: Hati-Hati Dengan Rentenir Online

Emil Hati-Hati Dengan Rentenir Online
Emil Hati-Hati Dengan Rentenir Online

Gubernur Jabar Ridwan Kamil kembali mengingatkan masyarakat agar hati-hati jika meminjam

dana ke penyedia jasa dana melalui online atau fintech. Hal itu diungkapkan Gubernur saat berpidato pada puncak peringatan hari konsumen nasional di Bandung, Selasa (20/1/2019), yang dihadiri menteri perdagangan RI Enggartiasto Lukita.

“Banyak kasus jika kreditnya macet maka pihak yang meminjamkan dana itu memposting foto orang yang meminjam, kemudian juga membroadcast tagihan ke kolega peminjam,” katanya.

Saya memohon agar ini menjadi perhatian pemerintah, karena kalau sudah begitu prakteknya

maka tidak ada bedanya dengan rentenir.

“Sama saja kan, hanya bedanya ini lewat jalur online. Jadi ini sama saja dengan rentenir online. Itulah sisi gelap teknologi informasi yang harus diwaspadai dan dibenahi,” ujarnya.

Masyarakat juga diminta waspada terhadap praktek

seperti itu, agar tidak terjebak dalaam pusaran rentenir online.

“Memang mereka meminjamkan dana dengan syarat yang mudah dan proses yang cepat. Tetapi ketika terjadi keterlambatan atau kreditnya macet, akhirnya ya begitu, dipermalukan,” ungkap Emil. (Pun)

 

Baca Juga :

 

 

Sinergi Wika-Len-INKA Bidik Pasar Afrika

Sinergi Wika-Len-INKA Bidik Pasar Afrika

Sinergi Wika-Len-INKA Bidik Pasar Afrika

Sinergi Wika-Len-INKA Bidik Pasar Afrika
Sinergi Wika-Len-INKA Bidik Pasar Afrika

PT Len Industri (Persero), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, dan PT INKA (Persero) melakukan kerjasama

pengembangan bisnis perkeretaapian global di kawasan Asia Pasifik, Afrika, dan kawasan lainnya. Nota kesepahaman kerjasama tersebut ditanda tangani oleh Direktur Utama Len Industri Zakky Gamal Yasin, Direktur Utama Wika Tumiyana, Direktur Utama INKA Budi Noviantoro di Gedung Wika, Jakarta (19/03).

Release dari PT Len, Zakky dalam keterangan resminya mengatakan, “Transportasi perkeretaapian merupakan core business utama kita, jadi akan terus kita dorong di level internasional. Yang kita tawarkan adalah sistem yang terintegrasi, sehingga tidak bisa jika maju sendiri-sendiri. Tahun 2018 kemarin lini bisnis transportasi menyumbangkan 68% dari total pendapatan perusahaan.”

Ketiga BUMN tersebut akan berkolaborasi dalam mengikuti tender proyek di luar negeri

, khususnya Afrika dan Asia Pasifik.

Zakky dalam sambutannya menambahkan, “Salah satu kendalanya adalah di bidang permodalan. Proyek sudah ada tetapi fasilitas pembiayaan belum sepenuhnya support. Makanya diajaklah Indonesia Eximbank untuk hadir dalam acara hari ini.” Hadir pula dalam acara ini Direktur Pelaksana 1 Indonesia Eximbank Raharjo Adi Susanto, serta Direktur Afrika, Kemenlu RI Daniel Tumpal.

Untuk kerjasama ini PT Len Industri akan berperan dalam instalasi dan pengadaan material persinyalan

, telekomunikasi, substation (power), SCADA, automatic fare controller, dan portable sliding door untuk perkeretaapian. Len Industri telah berpengalaman dalam pembangunan transportasi perkeretaapian baik Jalur Utama (mainline) di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera, maupun urban transport seperti LRT Sumatera Selatan, LRT Jakarta, LRT Jabodebek serta APMS / Skytrain Bandara Internasional Soekarno Hatta.

Sedangkan WIKA akan berperan sebagai kontraktor EPC international melingkupi konstruksi pekerjaan infrastruktur, termasuk stasiun, jalan rel, depo dan lainnya. Kemudian INKA dengan ruang lingkup penyediaan sarana perkeretaapian dan transportasi darat, operation, maintenance dan after sales service. (Pun)

 

Sumber :

https://blogs.uajy.ac.id/teknopendidikan/habitat-tumbuhan-paku/

Kinerja Perusahaan PT Len Tahun 2018 Makin Kinclong

Kinerja Perusahaan PT Len Tahun 2018 Makin Kinclong

Kinerja Perusahaan PT Len Tahun 2018 Makin Kinclong

Kinerja Perusahaan PT Len Tahun 2018 Makin Kinclong
Kinerja Perusahaan PT Len Tahun 2018 Makin Kinclong

Len Industri tahun 2018 berhasil membukukan laba bersih senilai Rp133 Milyar. Laba tersebut lebih baik dibandingkan dari tahun 2017.

“Alhamdulillah kita selesaikan tahun 2018 dengan sangat baik. Tahun 2018

, Len Industri membukukan pendapatan sebesar Rp.5,3 triliun atau meningkat 25,5% dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp. 4,25 triliun. Sedangkan laba bersih tercapai Rp. 133 milyar atau meningkat 117% dari tahun 2017 yang sejumlah Rp. 61 milyar,” ujar Direktur Keuangan dan SDM PT Len Priadi Ekatama, disela penanaman kopi di Gambung Kabupaten Bandung, Jumat (22/3/2019).

Lini bisnis Sistem Transportasi menjadi yang paling dominan menyumbangkan 68% dari total pendapatan perusahaan. Diikuti oleh Lini Bisnis ICT sebesar 13,4%, Elektronika Pertahanan sebesar 9,82%, Renewable Energy sebesar 6%, serta Sistem Navigasi sebesar 1,4%.

Hasil positif di atas dicapai karena adanya keselarasan antara lini bisnis Len Industri

dengan gencarnya pembangunan infrastruktur yang dicanangkan oleh pemerintah, khususnya dalam bidang transportasi dan telekomunikasi. Hal ini memberikan angin segar terhadap peluang pertumbuhan pasar untuk lini bisnis ini.

Terealisasinya sinergi antar BUMN selama tahun 2018 mulai memperkuat kekompakan serta keselarasan dalam mendukung program pembangunan infrastruktur. Ini tercermin dari keberhasilan penyelesaian proyek-proyek strategis secara tepat waktu, yakni LRT Sumatera Selatan dan Sky Train Bandara Internasional Soekarno Hatta.

Sinergi akan menjadi tonggak dimulainya peluang tindak lanjut kerjasama

penyelesaian proyek sejenis di wilayah kota-kota besar lainnya, bahkan optimis untuk level internasional.

Proyek strategis berjalan lainnya adalah LRT Jabodebek, LRT Jakarta, serta Proyek Palapa Ring Paket Tengah yang belum lama ini sudah beroperasi. “Tol Langit” yang menghubungkan 17 kota/kabupaten di Indonesia Bagian Tengah ini sudah ada Telkom dan Lintasarta yang memanfaatkan jaringan (serat optik) tersebut.

Tahun politik tidak boleh menjadi halangan, namun harus dijadikan sebagai peluang secara profesional untuk mengembangkan dan memajukan perusahaan. Opportunity baik regional maupun global, bisnis operation and maintenance, serta bisnis investasi masih akan mewarnai kinerja tahun 2019 ini. Jo

 

Sumber :

Anatomi Kulit

Contoh Surat Ucapan Terima Kasih Yang Resmi

Contoh Surat Ucapan Terima Kasih Yang Resmi

Contoh Surat Ucapan Terima Kasih Yang Resmi – Surat ucapan menerima kasih adalah surat yang dibuat oleh seseorang atau sekelompok orang yang memiliki tujuan untuk menyatakan menerima kasih kepada seseorang atau sekelompok orang yang lain atas bantuannya. Misalnya ucapan menerima kasih atas pertolongan dana atau kerjasama. Surat Ucapan menerima kasih ini dapat dibuat secara teristimewa maupun kelompok, tapi ketika dibuat atas nama grup atau lembaga tertentu haruslah mengikuti aturan pembuatan surat secara resmi. Untuk lebih jelas, selanjutnya aku bagikan perumpamaan surat ucapan menerima kasih resmi.

KOP SURAT

             ======================================================================

Banda Aceh,  25 Agustus 2014

Nomor             :  01/ Agustus / MULAD /2014

Lampiran         :  –

Perihal            : Ucapan Terima Kasih

 

Kepada Yth :

Nama Donatur

di –

Tempat

 

Dengan hormat

 

Alhamdulillah berkat karunia dan nikmat Allah SWT, pada akhirnya kegitan-kegiatan didalam Rangka memeriahkan Dirgahayu HUT RI Yang Ke 69  di Desa (Nama Desa) telah berhasil diselenggarakan dengan lancar.

 

Untuk itu Kami Pemuda dan Pemudi (Nama Desa) mengucapkan menerima kasih yang sebesar-besarnya kepada para donatur, terutama dari

 

Nama Donatur

Yang telah turut berpartisipasi didalam acara tersebut. Sekali ulang kita ucapkan menerima kasih semoga Allah SWT memberi tambahan balasan yang berlipat ganda atas segala bentuk bantuannya, dan mudah-mudahan semuanya dicatat sebagai amal kebaikan yang memperberat timbangan amal kita di yaumil hisab kelak. Amin

Demikian surat ucapan menerima kasih ini kita buat atas nama Pemuda-Pemudi (Nama Desa). Atas perhatiannya kita mengucapkan menerima kasih.

Ketua                                                                Sekretaris

 

 

Ikhsan                                                                   Ikram

 

Sumber : https://www.kumpulansurat.co.id/

Contoh Surat Pernyataan Belum Menikah

Contoh Surat Pernyataan Belum Menikah

Contoh Surat Pernyataan Belum Menikah – Surat pernyataan belum menikah adalah surat yang diperuntukkan untuk tunjukkan bahwa seseorang yang bertanda tangan selanjutnya belum menikah atau masih lajang. Surat ini termasuk surat non resmi yang memuat perihal biodata diri seseorang seperti, nama, alamat, area tanggal lahir, warga negara, agama yang diakhiri bersama nama dan sinyal tangan.

Pada dasarnya surat pernyataan belum menikah tidak jauh tidak sama bersama surat pernyataan lainnya, perbedaannya cuma terdapat didalam isikan pokok surat, di mana surat pernyataan belum menikah ini isikan pokoknya ialah untuk tunjukkan seseorang belum menikah atau status perkawinan seseorang. Agar lebih jelasnya bagaimana format surat pernyataan belum menikah, selanjutnya saya bagikan beberapa semisal dari surat tersebut.

Yang bertanda tangan di bawah ini :

 

Nama                             : Ikhsan SH.I

Jenis Kelamin                 : Laki-laki

Tempat / Tanggal Lahir     : Lambaro, 29 November 1988

Agama                           : Islam

Warga Negara                 : Indonesia

Alamat                           : Lambaro

 

Menyatakan bersama sebenar-benarnya bahwa saya hingga selagi ini belum dulu menikah bersama siapa saja baik secara adat, hukum agama, maupun hukum Negara dan sangat masih lajang.

Demikian surat pernyataan ini telah saya membuat sesuai bersama kondisi yang memang dan andaikan surat pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia dituntut sesuai bersama undang-undang dan hukum yang berlaku.

 

Banda Aceh, 23 Juli 2015

 

Ikhsan SH.I

 

Baca Juga:

Pembangunan Mako Polresta Bogor Kota

Pembangunan Mako Polresta Bogor Kota

Pembangunan Mako Polresta Bogor Kota

 

Pembangunan Mako Polresta Bogor Kota

Kapolresta Bogor Kota Kombes Pol Ulung Sampurna Jaya

Wakil Wali Kota Bogor Usmar Hariman dan jajaran Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) Kota Bogor lainnya melakukan Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gedung Kantor Mako Polresta Bogor Kota di jalan Kapten Muslihat No. 18, Kota Bogor, Jumat (05/01/2018).

Kapolresta Bogor Kota dan Wakil Wali Kota Bogor

Selain Kapolresta Bogor Kota dan Wakil Wali Kota Bogor hadir juga Dandim 0606 Kota Bogor Letkol Inf. Doddy Suhadiman, Sekretaris Daerah (Sekda) Ade Sarip Hidayat, Ketua DPRD Kota Bogor Untung W Maryono, Wakil Ketua DPRD Kota Bogor Jajat Sudrajat, Wakil Ketua DPRD Kota Bogor Heri Cahyono, Kepala Disperumkim Kota Bogor Boris Derarusman dan perwakilan dari DPMPTSP Kota Bogor.

Kapolresta Bogor Kota Kombes Pol Ulung Sampurna

Kapolresta Bogor Kota Kombes Pol Ulung Sampurna Jaya mengatakan, di awal tahun 2018 ini pihaknya dapat melaksanakan pembangunan Mako Polresta Bogor Kota setinggi 3 lantai yang berasal dari anggaran hibah Pemkot Bogor sebesar Rp. 13,2 Miliar dengan waktu pelaksanaan 13 Desember 2017 – 10 Juli 2018. “Pelelangan sudah berjalan dan hari ini peletakan batu pertama. Alhamdulillah ini semua berkat perjuangan panjang dari pihak DPRD  dan Pemkot Bogor sehingga bisa terealisasi,” terangnya.

Ia berharap dibangunnya gedung ini dapat memberikan pelayanan terbaik dan prima kepada masyarakat. Disamping itu, anggota juga akan tenang dalam menjalankan tugasnya sehingga Kota Bogor tetap kondusif.

Kapolresta Bogor Kota

Selain itu, kata Kapolresta Bogor Kota pihaknya juga akan membangun kembali masjid di Mako Polresta Bogor Kota dan berharap semua pihak dapat memberikan sedekahnya dengan total anggaran yang dibutuhkan sebesar Rp. 2,8 Miliar.  “Sementara ini baru terkumpul dari swadaya kami dan CSR kurang lebih Rp. 1 Miliar, ” Sebutnya.

Wakil Wali Kota Bogor Usmar Hariman

Sementara itu, Wakil Wali Kota Bogor Usmar Hariman menuturkan,  bangunan 3 lantai ini cukup megah dan semoga pembangunannya berjalan lancar sehingga kedepan jajaran Polresta Bogor Kota dapat lebih melayani warga, apalagi Presiden Joko Widodo (Jokowi) menetap di Istana Bogor. “Mudah-mudahan dana hibah di anggaran tahun 2016 ini dapat bermanfaat. Kami akan memback up segala kebutuhannya dan yang paling penting komunikasi dan silaturahmi terus berjalan sehingga hasilnya Kota Bogor menjadi kota yang aman, nyaman, kondusif,” kata Usmar.

Kecamatan Bogor Tengah

Namun kata Usmar, Pemkot Bogor masih memiliki pekerjaan rumah di wilayah Kecamatan Bogor Tengah, yakni terkait rencana pemindahan Polsek Bogor Tengah di kawasan Sempur agar dapat langsung memonitor kegiatan di Istana Bogor atau kediaman Presiden Joko Widodo.

Artikel terkait;